Beri Aku Satu Hari Lagi

Pagi ini udara sangat dingin. Seluruh kota tertutup embun. Daun-daun dan ranting basah, tidak ada kicau burung – mungkin mereka masih terlelap – yang aku lihat sepintas matahari mengintip dari balik kabut.

Masih dalam keadaan berkabut aku kendarai motorku. Melaju, melintasi persawahan yang segar. Kanan kiri kulihat beberapa petani sudah siap bekerja keras. Sebagian padi mereka siap dipanen. Ada satu dua bapak petani berkaos lekton. Mungkin sudah terbiasa dengan cuaca dingin, batinku. Aku masih menggigil ketika melewati lampu lalu lintas pertama. Hanya bisa membayangkan seandainya saat ini aku masih berbaring dikasur tipisku dan menarik selimut; sungguh nikmatnya tidur.

Baca lebih lanjut

1st Prize from Pakdhe

bingkisan dari Pakdhe

bingkisan dari Pakdhe

Sekitar pukul 15.00 waktu Indonesia bagian Purwokerto ponsel saya berdering. Ternyata ada pesan singkat dari ayah saya. Dek, ono kiriman paket soko Surabaya (Dek, ada kiriman paket dari Surabaya-red). Ketika itu saya sedang menemani Supervisor saya visit ke store. Dan saya hanya membalas, iya. Dalam hati saya bertanya apa isi paket itu. Karena akhir-akhir ini saya tidak memesan barang (kebetulan saya ol shop) dari mana pun.

Baca lebih lanjut

Solitare dan Sendiri

Tiap kali dengar kata Solitare saya sering tertawa sendiri. Itu karena saya (dulu) tidak tahu cara bermain Solitare. Pertama kali saya punya notebook, game yang ada di notebook saya adalah Solitare. Bolak balik saya buka tutup game itu (karena gak bisa memainkannya). Tapi suatu ketika saya tengah buka lagi game itu dan ayah saya berteriak, opo kui nduk? (apa itu nak-red). Dan saya pun menjawab, Solitare pak, tap ade’ ndak bisa mainnya.

Baca lebih lanjut

Apel Merah itu Bukan Untukmu

Saat musim semi, pohon apel merahku sedang berkembang. Bila berbuah, pohon itu akan memerah dan semua orang yang melihatnya pasti ingin mencicipi apel merahku. Kebetulan musim panen ini adalah pertama kali aku memanen apel merahku yang manis. Musim panen tahun-tahun sebelumnya panenku selalu gagal. Apel merah yang aku tanam sebelumnya selalu penuh dengan belatung-belatung, dan rasanya hambar. Dan semua orang mengolokku. Baca lebih lanjut