Beri Aku Satu Hari Lagi

Pagi ini udara sangat dingin. Seluruh kota tertutup embun. Daun-daun dan ranting basah, tidak ada kicau burung – mungkin mereka masih terlelap – yang aku lihat sepintas matahari mengintip dari balik kabut.

Masih dalam keadaan berkabut aku kendarai motorku. Melaju, melintasi persawahan yang segar. Kanan kiri kulihat beberapa petani sudah siap bekerja keras. Sebagian padi mereka siap dipanen. Ada satu dua bapak petani berkaos lekton. Mungkin sudah terbiasa dengan cuaca dingin, batinku. Aku masih menggigil ketika melewati lampu lalu lintas pertama. Hanya bisa membayangkan seandainya saat ini aku masih berbaring dikasur tipisku dan menarik selimut; sungguh nikmatnya tidur.

Aku sedikit melamun sepanjang jalan. Ya, hari ini tanggal dua puluh delapan. Seharusnya aku bergembira layaknya gadis kecil yang menanti hadiah pada tanggal-tanggal istimewa. Entah apa yang aku rasakan, aku lemah. Anganku tertuju pada beban ekonomi yang berat. Beberapa diantaranya adalah kebutuhanku. Dibandingkan dengan kebutuhanku, apa yang aku hasilkan masih belum cukup. Mungkin ada beberapa impian yang menari-nari dalam otakku dan mengajakku untuk meraihnya. Tapi aku tidak bisa. Ada sabun, minyak goreng, deterjen, cicilan motor, keperluan rumah yang lain yang mesti aku bayar. Dan dari serentetan jadwal membayarku, tak satupun ada daftar untuk kupersembahkan kepada yah seharusnya aku panggil dia ayah. Huft, aku menghela nafas lagi. Membayangkan betapa inginnya aku membelikan kakakku dan suaminya tiket bulan madu, membelikan ayahku sarung dan baju koko, membelikan ibu tiriku hijab cantik, dan membelikan adik tiriku beberapa pakaian. Dan nenekku? Ingin rasanya aku bisa membelikannya baju gamis yang indah, yang membuat beliau terlihat seperti kebanyakan nenek-nenek jaman sekarang. Dan aku menghela nafas lagi. Saat ini semua hanya mimipi, tapi suatu saat nanti semua akan mereka dapati ; lirihku dibalik kaca helm yang buram tertutup kabut.

Tarikan gas yang tidak sampai 50 km/ jam membuat aku tak sadar bahwa aku kesiangan. Kulirik arloji putihku, sudah jam delapan kurang lima menit. Aku naikkan sedikit tarikan gasnya, berharap bisa menyalip truk pengangkut seng bekas. Diantara jalanan yang sudah padat itu aku berdoa; Tuhan, ijinkan aku hidup lebih lama  satu hari setelah ketetapanMu agar aku bisa mewujudkan apa yang aku impikan dan agar mereka betul-betul memahami jika aku benar-benar peduli dan sayang mereka.

About these ads

5 pemikiran pada “Beri Aku Satu Hari Lagi

  1. Aamiin.. semoga dimudahkan jalannya ya rejekinya lancar..
    aku juga nih tanggal satu saatnya beli susu buat ponakan hehe..
    Alhamdulillah selalu ada untuk Ibu..
    tetap semangat ya lea.. :-D

    amin mba..semangkaaaa :D

Just comment, and I will comment you back...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s