Suatu Senja di Ibukota

Sebuah gang yang sempit, aku menyusurinya. Menapaki paving-paving yang tersusun rapi. Hari ini gang itu ramai. Penuh warna. Penuh hiasan dan bendera. Aku terus menapaki hingga paving terakhir. Diujung gang kecil itu aku masih ingin berjalan. Karena kutemukan gedung tua yang masih berdiri kokoh. Kakiku berpijak pada anak tangga besi. Satu, dua, tiga, hingga entah sampai ke seratus berapa aku terus ingin menemukan ujungnya. Simpul sebentar melengkung dibibirku. Terdengar bunyi petasan dan sorak sorai anak gang disana. Lalu aku kembali ingin menemukan ujung anak tangga besi itu. Ketika sudah kutemukan, aku berdiri di puncaknya. Kuhirup dalam-dalam udara senja. Mentari hampir tertutup mega jingga, dan kurasakan riuh anak gang yang semakin membahana. Tetapi aku justru menitikan air mata. Akankah Jakartaku selalu seindah mega jingga dan seceria anak-anak gang itu?? Ya, Jakartaku, Jakartamu, Jakarta kita semua. Berharap akan selalu menjadi indah, seindah senja diantara mega-mega.

Suatu senja di Ibukota.

About these ads

3 thoughts on “Suatu Senja di Ibukota

  1. alam itu tak pernah menipu… “Seburuk” apappun hasil karya manusia. alam akan selalu memberikan keindahan (jika manusia mau mencarinya)

    alangkah lebih indahnya jika bisa berdampingan :)

Just comment, and I will comment you back...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s