Penawar Perawan

Petang masih menduduki singgasana
Ia masih memenangkan sang langit untuk berdiam di sana
Sejenak
Belum menggelap, hanya samar antara hitam dan merah jingga
Di ujung gang termangu gadis berpangku tangan
Limbung meratap pilu
Mengharap obat penawar rindu
Nyatanya yang datang lelaki berpedang sembilu yang penuh nafsu
Menawar keperawanannya dengan tawa bertalu-talu
Hanya seharga seikat rambut

Pagi Menguning

Diantara riuh kicau burung, deru mesin penggiling padi, dan detak jam dinding yang mulai merapuh, ada pagi yang siap menjemput senyum. Pagi yang tak biasa, pagi yang menguning.

Hai…!

Hai, Nak! Apa kabarmu di perutku hari ini? Kenapa semakin tua kau jarang menendangku lagi? Apa karena kau tahu aku terlalu lelah untuk mencari hidup?

Hai, Nak! Kau tahu sudah berapa lama kau bermain di perutku? Kau rindu kami? Tersenyumlah…

Hai, Nak! Amazing sekali beberapa week lagi aku segera bisa mendengar rengekanmu dan itu lebih menggembirakan ketimbang bunyi motor baru ayahmu.

Hai, Nak! Sehat-sehat yah. Baik-baik dulu disitu. Nanti juga kau akan lihat seberapa manis senyum emakmu ini. Jangan khawatir, kau tak pernah jadi penghambat apapun untuk emakmu ini.

Salam peluk cium dari emak kau yang cantik :-*

EXCITED

Waoowww…. Alhamdulillah, 28 weeks persis usiamu nak hari ini. What can inu do for you? Everything, darl… muach muach muaaacchh….
Pertama, euuuummmm…. Ibu bersyukur kamu super hebat dan kuat. Luar biasa memberi ibu kekuatan sampai sejauh ini. Pastinya kita lalui hari-hari yang melelahkan bersama. Sejak ibu tahu kau sudah duduk di rahim ibu saat usiamu 4 minggu, saat itu pula kita melakukan apapun bersama. Kau jadi sahabat ibu, ibu jadi sahabatmu, dan ayah? Tugas ayah paling gampang. Elus-elus kamu dan pijit-pijit punggung ibu kalau kita abis melakukan hal yang luar biasa. Hahahaaa…
Darl, pagi ini ibu mulai sibuk nge-list kebutuhanmu kelak. Ibu search sana sini, liat-liat popok lucu-lucu di online shop. Ahhhh, ibu nggak peduli ini hari apa dan seberapa banyak tumpukan kertas yang lagi melototin kita…. hahahhaaa….
Oh ya, sayang… kamu nggak keberatan kan kalau ibu semacam macan betina yang matanya ijo liat mangsa? Kalau di online shop begini, ibu bisa deh abisin gaji ayah buat beli-beli kebutuhanmu… hehheee…. tapi nggak deh, kasihan ayah nanti nggak bisa beli bensin buat kerja :D
Ibu nge-list seperlunya kamu dulu aja yah… nanti kalau kamu udah keluar, pilih sendiri deh baju yang kamu suka :*
Tapi satu yang perlu kamu ingat yah, Darl… ayah dan ibu akan melakukan apa saja asal kamu bahagia, tapi ayah dan ibu nggak sama yah dengan ayah-ibu teman-teman kamu. Kebahagiaan kita adalah kebersamaan, dan bukan uang :)
Love you, darl… sehat-sehat ya, tangan ibu udah kepingin peluk kamu. Dan ayah udah kepingin ngajak kamu main bola :*

Belajarlah (Dahulu) Sebelum Menilai

Sebelum membaca postingan ini, diharapkan pembaca sekalian membersihkah hati dari dugaan apapun. Karena yang saya posting disini bukanlah bermaksud menyudutkan yang dimaksud. Karena yang saya ingin hanyalah berbagi.

Well, inilah kisahnya.
Beberapa minggu yang lalu saya pernah mendapat singgungan, “sayang kamu hanya lulusan D3.” Sudah bisa ditebak? Ya! Apa salahnya kalau saya hanya lulusan D3? Apa salahnya saya belum menyandang gelar ‘sarjana’?
Menilik masa lalu. Saya memang bukan termasuk salah satu pelajar berprestasi. Dari SD, saya tidak pernah menguasai juara kelas. Paling banter saya cuma jadi juara 2, itu pun bertahan hanya beberapa kali saja selebihnya…?? Ya begitulah. Saya juga tidak pernah (di)terpilih untuk mewakili sekolah dalam perlombaan apapun. Guru-guru tidak pernah mengenal saya karena prestasi saya. Dapat dibayangkan seperti apa saya tempo dulu?
Namun ada yang patut dibanggakan, setidaknya untuk saya sendiri. Keberuntungan. Ya, saya namai itu keberuntungan. Bermula saat masih TK. Saya dengan bangga memakai kaus hadiah lomba mewarnai yang diselenggarakan sebuah majalah. Emmm, kalau itu sudah pasti biasa. Tapi keberuntungan itu selalu mengikuti. Saat lulus SD, nilai EBTANAS saya tidak begitu ‘wah’. Saat-saat harus mendaftar dan melanjutkan ke jenjang berikutnya saya was-was tidak bisa diterima di SMP favorit. Tapi ibu meyakinkan saya. Hingga pengumuman terakhir saya tidak mendaftar ke sekolah lain tapi ternyata toh saya beruntung, saya diterima di SMP no 1 paling bergengsi di kota saya waktu itu. Keberuntungan berlanjut sewaktu lulus SMP. Dengan cerita yang sama, saya diterima di SMA favorit di kota saya.
Masa-masa SMA sekalipun saya tidak pernah mendapat nilai 100 (kecuali kalau nyontek) :D. Ssstt, guru fisika saya pernah salah menilai saya lho. Memasukan saya ke dalam kelompok fisika yang akan diikutkan olimpiade di Kalimantan saat itu gegara nilai fisika saya 8. Padahal baru sekali saya dapat nilai bagus, itupun karena nyontek. Heheheee…. Seringnya untuk mapel eksak pasti nilai saya selalu di bawah 6. Mengerikan bukan? Satu-satunya mapel yang saya suka hanya yang berhubungan dengan sastra dan seni. Tapi saat itu kurikulum berbeda. Lebih dominan untuk pelajan sosial maupun eksak. Alhasil, nilai raport sama sekali tidak memuaskan! Bahkan beberapa kali saya dapat merah di raport. Saat SMA saya belum pernah dapat ranking sampai lulus. Tapi, keberuntungan datang lagi. Pertengahan tahun saat kelas 2, ada tawaran pendaftaran universitas jalur khusus. Waktu itu namanya PMDK (lupa kepanjangannya). Yang jelas PMDK adalah jalur khusus penerimaan calmaba tanpa test, hanya cukup melihat nilai raport mapel khusus dengan standar yang ditetapkan. Awalnya saya pesimis untuk ikut. Apalagi saat itu keuangan keluarga sedang sulit. Jika nanti saya tidak terbawa seleksi, bukankah sangat disayangkan uang formulir pendaftaran? “Gak apa-apa, coba aja daftar. Siapa tahu kamu beruntung.” Lagi-lagi ibu menyemangati saya (sungguh ingin memeluk dan mencium ibu saat ini). Akhirnya nurutlah saya. Dan berawal dari sini mengapa saya memilih hanya sampai jenjang diploma saja, bukan sarjana. Saya berpikir ke depan. Jika saya mengambil sarjana, ibu akan keluar banyak uang. Karena menurut cerita teman-teman ibu yang saat itu anaknya kuliah dengan jenjang sarjana membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Dari keselengekan saya, saya berdebat dengan ibu. Saya kekeuh ambil diploma saja. Tapi ibu tidak tahu alasan saya kenapa. Saat itu saya pertimbangkan juga kakak saya (yang juga hanya mengambil diploma). Dengan basmallah, saya contreng jurusan yang saya pilih. Selang beberpa bulan, pengumuman datang. Saat itu saya sedang terkapar tidak berdaya di rumah sakit. Ahh, sebel kalau ingat itu. Sahabat-sahabat saya datang menjenguk saya. Salah satunya berkata, “hari ini pengumuman, tapi kamu….” Saya pasrah dengan ekspresi wajah sahabat saya itu. Yah, namanya saja sudah usaha. Biar bagaimanapun Tuhan yang menentukan. Lalu sahabat saya memberikan sebuah amplop, dibuka oleh ibu. Dannn…. ibu memeluk saya. Keberuntungan belum beranjak dari saya, Alhamdulillah.
Sampai tiba saatnya saya lulus SMA dan registrasi di kampus dengan biaya registrasi hanya Rp 1.240.000 dan sama sekali tidak ada embel-embel uang gedung dan yang lain. Puji syukur, Alhamdulillah saya tidak membebani orang tua saya. SPP per semester saat itu hanya Rp 800.000 dan akan menyusut sampai semester terakhir jika saya bisa lulus tepat waktu. Saat kuliah pun nilai saya tidak pernah fantastis, tetapi ada kemajuan. Paling jelek nilak saya di transkip nilai adalah D. Tapi beruntung, saya bisa lulus kuliah kurang dari tepat waktu. Artinya kurang dari 3 tahun saya lepas dari beban orang tua saya. Pada saat masih menginjak semester 2 ibu saya ‘berpulang’. Dan saya masih bisa melanjutkan kuliah saya tanpa harus bekerja karena ternyata ibu saya sudah memperhitungkan dan memepersiapkan tabungan pendidikan untuk saya dan kakak saya ditambah beasiswa akadmik dari universitas. We love you, Ibu. Always :)
Keberuntungan lagi. Sebelum wisuda, saya sudah diterima kerja. Awalnya saya mendaftar bagian marketing. Tapi begitu baiknya perusahaan tersebut melihat ijazah saya. Kemudian saya dibattlekan dengan para lulusan sarjana. Ciut lagi nyali saya yang hanya sekedar diploma. Tapi mukjizat Tuhan datang lagi. Saya mengalahkan mereka-mereka (para sarjana). Dan dengan gaji pertama saya, saya membiayai wisuda saya. Alhamdulillah…
Hingga waktu terus bergulir. Saya berpindah-pindah kerja untuk menggali potensi saya. Dan lebih alhamdulillah lagi sampai sekarang saya hanya menginjakkan potensi saya di tiga perusaahaan mulai dari saya lulus kuliah hanya satu saya mengalami proses seleksi. Sisanya? Kemampuan beradaptasi, bersosialisasi, dan berkomunikasilah yang bertindak.
Meskipun saya belum terpilih untuk mengabdi pada negara sesuai impian ayah saya, ataupun bekerja pada dunia perbankan sesuai keinginan ibu saya, setidaknya saya bersyukur. Keletihan, keluhan, keemosian yang saya bawa adalah bukti dimana tanggung jawab saya sangat besar saat ini. Ya! Saat ini saya mengabdi pada salah satu perusahaan multinasional nomor 6 sedunia yang berpusat di Belanda. Dan dari sini saya belajar untuk bangga. Meskipun prestasi saya jongkok, saya hanya lulusan diploma, setidaknya keberuntungan menuntun saya pada tanggung jawab yang sangat besar (meskipun saat ini saya ingin sekali resign).
Dan keberuntungan lain adalah, saya selangkah lebih maju dari mereka yang masih sendiri :)
Alhamdulillah wasyukurilah…

Pada akhirnya, percayalah… Jika tak ada lagi (manusia) yang menghargai dan menyayangimu, masih ada Tuhan yang memeluk dan menuntunmu.
Salam damai :)