Kau (yang) Tercipta Untuknya

Ketika ikatan pernikahan telah teruntai, kenalilah hati pasanganmu lebih dalam. Jika kau mau menerima lahirnya, maka kau wajib menerima batinnya. Ketahuilah, setiap apa yang sudah terbuka pastilah tetap ada yang tersembunyi. Seperti pohon yang pastinya memiliki akar yang menjalar ke pusat bumi. Semakin kau cermat semakin kau menemukan sisi lain pasanganmu. Konsekuensinya, kau harus menerimanya apapun itu. Perbaiki dirimu mulai dari sekarang, maka karang yang besar tidak akan mudah terkikis kesalahpahaman.
Itu saja.

Salam,
Nada Hati

Penawar Perawan

Petang masih menduduki singgasana
Ia masih memenangkan sang langit untuk berdiam di sana
Sejenak
Belum menggelap, hanya samar antara hitam dan merah jingga
Di ujung gang termangu gadis berpangku tangan
Limbung meratap pilu
Mengharap obat penawar rindu
Nyatanya yang datang lelaki berpedang sembilu yang penuh nafsu
Menawar keperawanannya dengan tawa bertalu-talu
Hanya seharga seikat rambut

Pagi Menguning

Diantara riuh kicau burung, deru mesin penggiling padi, dan detak jam dinding yang mulai merapuh, ada pagi yang siap menjemput senyum. Pagi yang tak biasa, pagi yang menguning.

Hai…!

Hai, Nak! Apa kabarmu di perutku hari ini? Kenapa semakin tua kau jarang menendangku lagi? Apa karena kau tahu aku terlalu lelah untuk mencari hidup?

Hai, Nak! Kau tahu sudah berapa lama kau bermain di perutku? Kau rindu kami? Tersenyumlah…

Hai, Nak! Amazing sekali beberapa week lagi aku segera bisa mendengar rengekanmu dan itu lebih menggembirakan ketimbang bunyi motor baru ayahmu.

Hai, Nak! Sehat-sehat yah. Baik-baik dulu disitu. Nanti juga kau akan lihat seberapa manis senyum emakmu ini. Jangan khawatir, kau tak pernah jadi penghambat apapun untuk emakmu ini.

Salam peluk cium dari emak kau yang cantik :-*