Ajari Kami

Batu-batu kali, karang-karang laut…
Bicaralah pada kami, terlebih hati kami
Bagaimana kalian tetap tegar meski diterpa badai dan dikikis air
Bisikkan pada kami bagaimana menangis untuk sementara dan berdiri untuk selamanya
Tepuk pundak kami, bagaimana mestinya bahu ini ringan kami junjung
Ajarkan pada kami lelah yg kalian rasa bukti kekuatan kalian
Bahwa tak selamanya badai akan mencoba kalian, karena esok mentari menyongsong
mengilatkan keindahan kalian
Ajarkan pada kami itu semua…

Purnama Senja

Antara sore dan petang
Tertanam indah di cakrawala
Bukan senja yang menggading
Atau surya yang menguning

Aku melihat mata senja
Pada ujung timur yang menganga
Kulihat lengkungnya sempurna
Indah

Senjaku tak memadu
Mungkin ia sedang sendu
Atau dirundung pilu
Tidak merona pun terlihat kelabu

Aku melihat mata senja
Pada ujung timur yang menganga
Ia jingga
Dan melengkung sempurna

Purnama senja
Melengkung sempurna pada horizon antara sore dan petang
Melabuhkan ke peraduan
Biarpun senja tak datang

Meraih Pelangi

Hujan sudah berdiam
Dengan pelangi ia berganti peran
Ia termenung di ujung pekat
Tersenyum simpul memandang cahaya
Ia jatuh cinta pada pelangi
Dengan segala warna keindahan yang dimiliki
Ia tak lagi bisa diam memandang
Perlahan ia menghampiri
Mencoba mencumbu pelangi
Tapi apa daya, mereka tak bisa terpatri

Gelap Bernada

Bernyanyi saat gelap merangsang sukma

Temaram sinar bulan serasa terlihat dekat

Dibalut kabut malam, pucat

Dengan angkuh sang gelap tertawa

 

Nadaku terdengar sumbang

Hanya sayup kumbang malam ikut berdendang

Diselingi denting jam tua yang berdentang

Tang-tang-tang, gelap masih terbahak riang

 

Syairku hanya berakhir di ujung kelu

Janji sunyi malam semakin membuat pilu

Malamku menjadi kelabu

Namun gelap jadi berubah tertawa ngilu

 

Suaraku merendah, malam memudar

Dingin menyapa, rembulan bernada

Masih dengan gelap

Namun ia diam tak terbahak

Sisa Kenangan

Mata ini terpejam, berharap melintas pada kisah lalu

Memutar kembali memori, menyentuh relung pembangkit gairah

Menapaki jalan dengan sisa sampah kenangan

Meski bergairah, ia tetaplah sampah

Aku berbalik pada kisah setelahnya

Tanpa aku sadar ia telah mengunci rapat pintunya

Ah, aku terlambat pulang

Bukan perkara terlambat! ia memekik padaku

Selangkah kau meninggalkanku, aku sudah menguncimu rapat-rapat

Aku terjebak di tengah sampah, sisa kenangan yang sudah kubuang

Tak bisa maju, pun mundur

Langkahku sudah tertanam kokoh pada pusara penyesalan

Remuk Rindu dalam Sepotong Jambu Kluthuk

Ujung-ujung pagi masih terasa wangi terciumIMG00134-20130201-0838

Sebentar lagi terik akan melahapnya menjadi sengatan nanar

Dan aku, aku masih terkatup di antara sejuta raut

Bilamana orang bahagia karena rindu, aku justru remuk karena itu

Jambu kluthuk kesukaanmu

Aku sisakan satu untukmu, dan yang lain sudah kulahap ceria

Jambu kluthuk kesukaanmu

Aku pikir kau akan bawakan rindu untukku, tapi ternyata hanya kalut

Memandang hampa jambu kluthuk kesukaanmu

Tak akan lagi kulahap

Kubiarka saja ia membusuk

Seperti rinduku yang lama-lama meremuk

Hujan Pagi-pagi

Hujan pagi-pagi
Aku melihat wajah petani kegirangan
Hujan membuat sawah tak jadi kekeringan
Hujan pagi-pagi
Aku melihat wajah buruh menggerutu
Hujan membuat tubuhnya berpeluh
Hujan pagi-pagi
Aku melihat wajah anak-anak sekolah ceria
Hujan membuat tak jadi upacara
Hujan pagi-pagi
Aku melihat wajah bapak guru berjenggot putih panjang berkesah
Hujan membuatnya berkomat-kamit baca mantra
Hujan pagi-pagi
Aku melihat wajah penganggur muda
Hujan membuat matanya sayu dan malas
Hujan pagi-pagi
Aku melihat wajahku di cermin
Hujan membuatku belajar bersyukur pada hari Senin