Jalan Kaki

Jumat yang cerah…

Kulihat seorang kakek tua berjalan sendiri ke sebuah masjid di ujung gang yang kurang lebih berjarak 15 meter dari rumahnya. Kudapati sebuah tongkat menemaninya berjalan yang langkahnya sudah mulai tertatih. Usia kaket tua itu sekitar 75 tahun, terlihat dengan adanya tulisan besar ‘‘Ayah 1936 tahun yang lalu” pada sisi sebuah tas yang dibawanya. Mungkin tas itu hadiah ulang tahun dari anaknya yang di dalamnya berisikan sarung, sajadah, atau baju koko.

Siang yang panas, sengatan sinar sang surya mulai melelehkan keringat sang kakek tua. Tersadar aku selang beberapa detik. Kupandangi jam di dinding kantorku, dan waktu sudah menunjukan setengah harinya yang telah kulewati. Lalu kembali kupandangi kakek tua itu dari balik teralis kusam jendela ruangku. Langkahnya masih tertatih, dan mulai gontai. Langkahnya terkalahkan oleh pemuda gagah yang berjalan searah melewatinya. Dia kemudian berhenti sejenak, dan berkomat-kamit. Entah apa yang dia ucapkan, mungkin dia lelah dan mulutnya kering karena cuaca yang sangat panas. Lalu dia kemudian kembali melanjutkan perjalanan sampai akhirnya ia sampai di masjid ujung gang itu. Senyum simpul tersungging dari bibirku. Dalam hati aku berkata, ” Alhamdulillah kakek itu sampai sebelum Iqomat yang ke dua. ”

Jam istirahat kantor datang. Seperti biasa pasti aku langsung menghampiri warteg seberang kantor yang tak jauh pula dari masjid itu. Orang-orang telah selesai menunaikan sholat Jumat. Pandanganku tertuju ke arah masjid. Kucari-cari sosok kakek tua tadi. Entah mengapa aku penasaran dan rasanya ingin sekali berkenalan dengan kakek itu. Terlihat di ujung sana si kakek dengan tongkatnya berhati-hati menuruni anak tangga masjid. Kemudian dengan badan yang agak sedikit bungkuk ia raih sandal jepit merahnya dan ia kenakan.

Kembali ia berjalan dengan langkah tertatih dan agak sedikit gontai. Ia menyambari warung tempat aku membunuh cacing cacing lapar di perutku. Ia duduk di sebelahku dan suara paraunya meminta satu gelas air putih kepada ibu warung. Dengan ragu ragu kutanya dari mana, sekedar untuk basa basi saja. Kakek tua itu menjawab, ” Saking mesjid, Mba. ” (red-dari masjid mba).

Dengan senyum yang khas aku berpikir pasti semasa muda kakek ini sangatlah gagah. Lalu kutanya lagi, ” Mboten dahar, Pak? ” (red-tidak makan Pak?)

Kakek menjawabnya lagi, ” Mboten Mba, kaleresan saniki kulo tanggap warso. Putro kulo bade wangsul, terose bade ngajak kulo teng lestoran. ” (red-Tidak Mba, kebetulan hari ini saya ulang tahun. Anak saya akan pulang, katanya mau mengajak saya ke restaurant).
Dengan mata berbinar-binar kakek tua itu menceritakan putra semata wayangnya. Dia bekerja merantau ke ibu kota. Di sana putranya bekerja pada sebuah perusahaan asing dan akan pulang siang ini demi ayahnya. Dia pun memamerkan tas yang ia bawa. Tas itu dipaketkan putranya kemarin, dan benarlah dibuka tas itu. Isinya hanya sebuah kacamata dan sebuah Al Qur’an. Lalu dia bercerita terus menerus sambil menunjukkan rumahnya. Saya menoleh dan terkejut. Begitu besarnya rumah itu, di depan terparkir Honda CRV hitam dan ada seseorang laki-laki ( pembantunya mungkin ) mengendarai motor masuk kerumah itu. Dia bercerita tentang kehidupannya dan anaknya. Dia hanya tinggal sendiri bersama pembantu laki-lakinya di rumah sebesar itu. Lalu aku bertanya-tanya mengapa si kakek tidak diantar saja menggunakan motor ke masjid??
Belum sempat terlontar dari mulutku pertanyaan itu, si kakek tua tiba-tiba berceloteh ” Kulo urip piyambek, anak kulo tebih. Sesagede kulo nek teksih mampu nggih kulo nopo-nopo piyambek. Jane kulo kesel nek mlampah tebih, namung kulo teksih saged mlampah nggih kulo mlampah.” (red-Saya hidup sendiri, anak saya jauh. Sebisa mungkin kalau masih mampu ya saya apa-apa sendiri. Sebenarnya saya kalau jalan jauh capek, tapi saya masih bisa berjalan ya saya jalan).
Lalu kakek tua itu pamit untuk pulang. Dia kembali berjalan menyisir setapak yang berdebu. Dalam hati aku merasa ada kesunyian yang amat sangat mendalam di hati kakek tua. Namun sebisa mungkin dia tidak akan merepotkan orang lain selagi dia masih mampu melakukannya sendiri. Walaupun lelah selalu bergelayut di kakinya, sebisa mungkin dia tidak akan merepotkan orang lain selagi ia masih mampu berjalan.

Semangat yang luar biasa. Aku perlu belajar banyak dari kakek tua itu.

Just comment, and I will comment you back...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s