Jalang

At 09.00 pm

Kriiinnggg…Kriiinnggg…Kriiinnggg…

” Ya? ”

” Kemana aja elu, Don? Loe tuli ya? Gue telpon bolak balik kagak loe angkat. Ada projek menarik buat loe. Pokoknya gua gak mau tau, gue tunggu loe di tempat biasa siang ini. Oke ?! ”

Tuutttt…tuutttt….

***

Sabtu pagi yang mendung, seperti mengisyaratkan setiap orang agar tidak beranjak dari tempat tidurnya. Mencoba mengingat-ingat apa yang mereka mimpikan semalam, indahkah atau sebaliknya.
Di dalam kamar yang berukuran 3×4 meter itu seorang gadis berparas manis, anggun, dan berkulit mulus sedang berusaha melawan rasa malasnya. Tangannya ia bentangkan ke atas, sesekali ia mengusap-usapkan wajahnya yang tirus itu. Dia lirik jam dinding bergambar Mickey Mouse dan dia membuka ponselnya, membukanya berulang-ulang pesan dan panggilan masuk di ponselnya. Lalu dia beranjak dari tempat tidur dan berjalan gontai mencoba melangkah ke kamar mandi dengan tubuh setengah lemas.

***

” Loe udah minum banyak, Don. Stop, atau gue tinggal loe di sini ? ”

” Persetan gue mabuk, gue cuma mau bersenang-senang. ”

***

At 13.00 pm

” Sorry Hanz, gue telat. Bukan Jakarta kalo kagak macet. ”

” It’s O.K, gue juga baru dateng. ”

Dona adalah gadis ceria, baik hati, cerdas, dan paling hoby bikin orang bahagia. Setidaknya 4 tahun lalu sebelum dia menginjakkan kaki di Ibu Kota dan berubah gelar menjadi mahasiswi Ekonomi disalah satu Universitas Negeri di Jakarta. Daerah asalnya adalah Tegal, sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Ayahnya bekerja sebagai sopir disebuah agent travel lokal, dan ibunya seorang penjaga kantin di Sekolah Menengah Atas dimana dia pernah menjadi salah satu siswa teladan di sana. Sebenarnya namanya bukan Dona. Ayahnya memberikan dia nama Siti Aisyah, dan nama itu adalah doa dari kedua orang tuanya.

” So, projek apa yang bakal loe kasih ke gue? ”

” Santai saja dulu, Don. Dengan projek ini loe bakal bisa bayar kuliah loe sendiri. Bahkan loe bisa kirim uang ke kampung. ”

Siang itu hujan mulai membasahi jalan Ibu Kota. Dona masih belum beranjak dari caffe dimana dia bertemu dengan sahabat lamanya yang sekampung dengan dia. Di Ibu Kota ini ia biasa memanggil temannya itu Hanz. Dulu, di Tegal tidak ada yang mengenal Hanz karena memang bukan Hanz namanya. Orang-orang kampung biasa memanggilnya Hartono. Setelah ia mengadu nasib di Jakarta, dia mengubah namanya menjadi Hanz. Bahkan Siti Aisyah pun ia rubah menjadi Dona.
Tidak jauh berbeda dari Dona, Hanz pun pria riang ceria, konyol, dan aneh. Kadang karena sifatnya itu Dona sering kewalahan dibuatnya. Sering sekali Dona mengerjai seorang anggota Polantas ( Polisi Lalu Lintas ) karena membantu Hanz yang pada saat itu mengendarai mobil dan tidak mempunyai surat-surat. Pernah suatu hari Hanz juga mencarikan penghasilan tambahan untuk Dona. Hanz mendaftarkan Dona pada kompetisi menyanyi disalah satu Mall terkenal di Jakarta. Alih-alih menjadi pemenang malah Dona kesal dibuatnya secara Dona tidak bisa bernyanyi, sama sekali tidak bisa.
Tapi dibalik itu semua, Dona tidak bisa membenci Hanz atau bahkan menjauhinya. Meskipun menjengkelkan, dia tidak pernah bermain dengan hati. Itu semua karena Dona memang gadis yang tidak pendendam dan dia adalah gadis baik.

Hujan sudah mulai berhenti ketika ia masih menunggu Hanz yang pamit sebentar untuk keperluan lain. Setengah jam kemudian Hanz datang dan mengajak Dona beranjak dari tempat itu.
Di mobil Dona bertanya-tanya dalam hati apa yang akan Hanz tawarkan lagi ke dia?
Pertanyaan pun mulai menyeruak di hati ketika mobil itu berhenti di halaman kostnya.

” Sebenernya projek apaan sih, Hanz? Kok malah gue dianter pulang kost? ”

” Nanti loe juga bakal tahu, Don. Nanti gue telpon lagi. Pamit yaaaa…… ”

Avanza itu meluncur kencang dan menyisakan tanda tanya besar di hati Dona. Dalam hati Dona mencoba menebak-nebak tawaran Hanz. Dia mulai berpikiran yang tidak-tidak.

Jangan-jangan….

Ah, tidak. Gue tidak ingin seperti dulu lagi.

***

Kepada Yth. Bapak

Di

Tegal

Assalamualaikum wr.wb

Bapak, apa kabar? Ais berdoa semoga Bapak, Ibu, dan adik-adik sehat di sana. Bapak, Ais di sini kangen sekali dengan keluarga di Tegal. Ais ingin pulang, tapi kuliah masih padat. Nanti kalau Ais sudah libur dan ada rejeki lebih, Ais pulang. Bapak tidak usah khawatir, Ais disini sehat dan baik-baik saja.
Bapak baik-baik yah, jangan lupa banyak minum vitamin kalau Bapak perjalanan malam.
Salam buat Ibu dan adik-adik di sana.

Wassalamualaikum wr.wb

Ananda, Siti Aisyah

***

At Monday, 12.30 pm

Hari ini ada quiz di kampus, seperti biasa Dona pasti menjadi centre teman-teman sekelasnya.

” Statistik gila. Bisa bikin kepala gue tambah botak. Untung ada loe, Don. ”

” Statistik elo salahin. Itu kepala emang udah dari dulu kali. ”

Kantin kampus hari ini sepi, hanya ada beberapa mahasiswa yang memilih ngemil di kantin dari pada mendengarkan dosen-dosen bercerita apa itu Hukum, siapa itu Ariestoteles, dan bagaimana birokrasi yang baik. Mahasiswa yang seperti itu kebanyakan adalah mahasiswa yang ideal, yang mempunyai ideologi sendiri, dan predikat mahasiswa ini hanya untuk menyenangkan hati orang tuanya.

Di pojok kantin Dona yang sedari tadi melamun ditemaini oleh Jono dan Giska, sahabat yang paling mengerti dia. Tidak terasa peluhnya menetes, pikirannya bercabang antara rindu keluarganya di kampung, uang kuliah yang masih belum ia lunasi, dan tawaran Hanz yang belum terjawabkan.

Hanz ??

Ya! Hanz. Gue harus menemuinya sekarang!!

***


To Be Continue

13 thoughts on “Jalang

Just comment, and I will comment you back...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s