I’m yours??Yeah, I hope

Dari balik teralis jendela itu ada sepasang bola mata yang sedang mengintip tetesan air hujan yang turun sedari pagi. Seiring jatuhnya air hujan itu, terlihat dari sudut bola mata gadis itu tetesan bening air mata. Perlahan menetes sampai rona pipinya. Ada hal yang mengganjal di hati gadis itu. Yang kemudian memaksanya meneteskan beberapa air mata sebagai luapan kegelisahannya.

”Jane, makan dulu ”, terdengan suara dari balik pintu kamarnya.

Namanya Jane, gadis dewasa berusia genap 24 tahun pada bulan September nanti. Dia bergegas mengusap air matanya dan berlari menghampiri suara yang sedari tadi menyuruhnya makan siang.

” Kau sedih, Jane? Matamu sembab. Kau menangis? ”, tanya neneknya khawatir.

Jane tidak menjawab. Dia hanya menggeleng dan tersenyum manis kepada neneknya lalu dengan lahapnya dia habiskan kari ayam kesukaannya yang dibuat oleh neneknya. Wajah bahagia neneknya yang tersungging dapat terlihat jelas oleh Jane. Bagi nenek, Jane ada segalanya. Jane adalah satu-satunya cucunya yang sudah ia rawat sejak usia 40 hari. Setelah Jane lahir, ayah dan ibunya bercerai dan hidup dengan pasangan masing-masing. Marry, ibu Jane adalah satu-satunya anak dari Christie, nenek Jane. Kini ibu Jane sudah menikah lagi dan mempunyai 2 orang anak dari suami ke duanya. Sedangkan ayah Jane, setelah pernikahan ke duanya, sampai sekarang belum dikaruniai seorang putra sekalipun. Sesekali kedua orang tua Jane datang untuk menjenguk buah hatinya. Namun Jane tidak pernah menemui bila mereka datang. Entah karena alasan apa.

o0o

Minggu pagi yang cerah. Jane berharap Kevin, kekasihnya mengajaknya jalan-jalan. Hanya hari Minggu yang membuat dia sesemangat ini. Nenek Christie sudah hafal itu. Dijahitkannya baju merah jambu untuk Jane, berharap dia akan selalu tersenyum begitu bahagia.
Pagi itu Jane dan Kevin berencana pergi nonton. Ada film baru yang harus mereka tonton.

” Jane, kau mau pop corn dan segelas limun? ”, tanya Kevin lembut.
Jane tersenyum dan mengangguk pelan. Dipandanginya punggung pemuda jangkung itu. Dalam hati Jane bersyukur karena telah dipertemukan dengan pemuda sebaik Kevin. Dia tidak pernah merasa kurang satu apa pun. Nenek dan Kevin adalah dua orang yang paling berarti untuk Jane. Dan keduanya berencana akan menikah tahun ini saat ulang tahun Jane yang ke 24, di September Ceria.

Selesai menonton, tiba-tiba Jane mengajak Kevin pulang. Dia lelah, dan ingin beristirahat. Kevin heran, tidak biasanya Jane begini. Kevin lantas menolak ajakan Jane. Dia ingin memberikan kejutan pada Jane, namun Jane pun menolak ajakan Kevin. Keduanya bertengkar di pintu keluar bioskop, dan Jane menangis. Kevin kesal, dan meninggalkan Jane di lobi bioskop. Jane terus saja menangis. Dalam perjalanan pulang, di dalam bus Jane tidak henti-hentinya menangis. Dia teringat kata-kata Kevin tempo hari ketika mereka juga bertengkar. Kevin tidak suka Jane yang sekarang. Jane yang dulu adalah sabar, tidak mudah menangis, dan selalu menjadi penyemangat Kevin. Tetapi keadaan berbeda dengan sekarang. Jane yang sekarang adalah pemurung, mudah menangis, dan tidak jarang selalu marah untuk hal yang kecil sekalipun sehingga memicu pertengkaran antara mereka.
Jane sadar akhir-akhir ini hubungan percintaan mereka tidak baik. Terkadang Jane mengurung sendiri di kamar. Dia selalu menunggu hari Minggu tiba untuk berkencan dengan Kevin dan berniat meminta maaf. Kevin pun memaafkan, dan tidak lebih dari satu jam mereka akan bertengkar lagi karena alasan lain yang menurut Kevin adalah hal sepele.

o0o

Hari ini hari Kamis pertama dibulan Februari. Jane masih mengurung diri di kamar. Neneknya khawatir dan meminta Kevin untuk membujuk Jane keluar kamar. Namun tak ada tanda-tanda Kevin muncul di rumah nenek Christie. Wajah nenek yang sudah keriput terlihat sangat pucat dan gusar mengkhawatirkan Jane. Tak letih-letihnya nenek memanggil Jane untuk keluar makan kari ayam kesukaannya. Terkadang nenek membawanya di depan pintu kamar Jane, melahapnya sendiri dengan harapan Jane akan keluar kamar mencium lezatnya aroma kari ayam. Berjam-jam neneknya duduk di depan pintu kamar Jane dengan air mata yang tak kunjung reda. Bahkan dia sampai tertidur.

Keesokan harinya saat nenek masih tertidur di depan pintu kamar Jane, tiba-tiba Jane keluar dari kamar dan mengusap air mata neneknya.

” Nenek, maafkan aku membuatmu khawatir. Hari ini aku ingin jalan-jalan di taman, aku ingin udara segar ”, pinta Jane.

” Nenek temani ya, Jane? ”

Jane tersenyum dan mengangguk. Di taman, wajah kedua wanita itu terlihat sangat bahagia. Berulang kali tak henti-hentinya nenek memeluk dan mencium kening cucu tercintanya itu. Dipetiknya beberapa tangkai bunga Ester merah untuk neneknya.

” Bunga kesukaan nenek bukan? Ibu juga suka ”, ucap Jane tiba-tiba sambil menyodorkan Ester merah kepada neneknya.
Nenek Christie heran. Dia tidak lekas menjawab pertanyaan cucunya. Ia heran mengapa ia tahu kalau ibunya pun suka Ester merah seperti neneknya. Dalam hati ia bertanya-tanya, karena sedari Jane bisa berbicara dan sampai dewasa saat ini sedikitpun dia tidak menanyakan apa-apa tentang ibu ataupun ayahnya.

” Ayah juga suka kari ayam kan nek? ” celetuk Jane kembali membuyarkan lamunannya.

” Ayah suka kari ayam yang pedas, sama sepertiku. Ibu suka Ester merah sama seperti nenek. Kevin suka bola. Nenek tahu tidak? Ketika aku menemani Kevin nonton bola, dia begitu bangga denganku. Dia bangga karena aku bisa dengan sabar menemaninya nonton bola. Padahal aku sama sekali tidak suka bola. Setelah bola selesai, dia mengajakku ke toko sepatu. Dan sebagai hadiahnya sepatu ini dia belikan untukku ” , tambah Jane panjang sambil memperlihatkan sepatu berwarna merah muda yang dikenakannya.

Nenek Christie terheran-heran. Dia hanya diam membisu mendengarkan cucunya berceloteh panjang lebar. Selama hidupnya, nenek Christie tidak pernah menjumpai Jane seceria ini. Dia begitu cerewet hari ini. Biasanya ia hanya menjawab pertanyaan orang dengan senyuman dan anggukan ataupun gelengan. Neneknya masih heran mengapa Jane seperti ini. Jane memang pendiam. Tapi dia tidak sombong dan selalu bisa tersenyum untuk orang lain. Ketika nenek masih berada ditengah keherannya tiba-tiba Jane memeluk dan mencium kedua pipi dan kening neneknya.

” Nek, Aku sayang padamu. Aku juga sayang Kevin. Aku juga sayang ayah dan ibu. ”

Nenek menoleh ke arah Jane dan berkata, ” Kau tidak membenci ayah dan ibumu? ”

Jane lagi-lagi hanya tersenyum dan menggelengkan kepala. Senyum Jane bagaikan bidadari yang bahagia menerima banyak cinta. Bidadari yang tidak pernah memikirkan hidup yang sulit. Dan bidadari yang mampu menyempurnakan kehidupan Nenek Christie.

o0o

Nak Kevin, tolong segera ke Rumah Sakit Elishabet sekarang. Begitulah pesan singkat di ponsel Kevin sebelum ia tergopoh-gopoh mengendarai mobilnya menuju rumah sakit yang tertulis dipesan singkat tersebut.

Kamar nomor 201 ia masuki, seketika itu matanya terbelalak kaget melihat seseorang terbujur kaku bertutupkan kain putih. Ada dua orang wanita dan satu orang pria di kamar itu yang tak henti-hentinya menangis. Satu pria yang berjas putih lainnya adalah seorang dokter dan tiga orang perawat yang mendampinginya.
Perlahan Kevin membuka kain putih penutupnya, dan dia tidak bisa berkata-kata selain menangis.
Jane telah tiada, Lupus yang menggerogotinya telah merenggut nyawanya. Dokter berkata bahwa Jane sudah dari enam bulan yang lalu menderita Lupus dan sudah sangat kritis. Dokter telah menyarankan Jane untuk kontrol keadaannya bersama keluarganya, tapi tidak ia lakukan.

Setelah pemakaman Jane, semua membisu di ruang tamu. Nenek Christie, ibu, dan ayah Jane. Hanya Kevin yang berada di kamar Jane. Dia mencoba melihat kamar yang selalu menemani Jane saat serangan Lupus menyiksanya.
Kamar dengan cat berwarna merah muda, dan ornamen-ornamen serba merah muda itulah yang menjadi satu-satunya tempat Jane merintih. Dan tidak satupun orang yang mengetahui kesakitan Jane. Di tempat tidur bercover merah bata itu Kevin menemukan banyak helai rambut berwarna coklat tua yang tentunya milik Jane. Kevin mencoba membuka ponsel Jane. Ada beberapa gambar yang diambil Jane sebelum ia meninggal, atau lebih tepatnya setelah ia dan Kevin pergi menonton. Terlihat matanya sembab, tapi ia masih tersenyum. Beberapa gambar terlihat ada ruam berwarna merah muda di pipinya dan berbentuk seperti kupu-kupu. Ia letakkan ponsel itu di atas meja mungil sebelah tempat tidur Jane. Diliriknya beberapa obat yang tidak sedikit dan di bawahya terdapat buku diary yang juga berwarna merah muda. Diraihnya diary itu, halaman pertama bertuliskan identitas Jane.

Jane Marry Joseph, 24 tahun September nanti. Dan akan menikah dengan Kevin Flakers.
Menunggu September Ceria ^_^

Lalu lembar demi lembar ia buka dan ia baca. Beberapa halaman menceritakan kebahagiannya bertemu dengan Kevin. Pertama kali mereka bertemu disebuah kedai kopi ketika Jane mencoba bekerja sebagai barista. Kopi yang ia sodorkan untuk seorang tamu ternyata tumpah dan mengotori jas tamu tersebut. Tamu itu adalah Kevin Flakers yang kini menjadi kekasihnya. Kevin tersenyum simpul pada sebuah kalimat dibuku tersebut.

Kebodohanku membawa keberuntungan bagiku. Terima kasih Tuhan. ^_^

Lembar demi lembar ia buka lagi, hingga tulisan terakhir. Ia terkejut membaca tulisan itu. Air matanya mulai menetes. Rasa menyesal dan bersalah bertubi-tubi menghujam jantungnya. Dia letakkan buku itu, dan meraih ponsel Jane. Lalu ia berlari meninggalkan kamar Jane dan memutuskan untuk kembali ke makam Jane.

Jumat, 3 Februari 2012

Apa aku sakit, Tuhan?? Tidakkah?? Ya, tidak. Aku menganggap semua ini kasih sayangMu. Kasih sayang yang nyata untukku. Aku bahagia Tuhan. Aku bahagia karena Kau akan menjemputku.

Hey, mengapa kalian menangisi kepergianku?? Aku hanya pulang, Tuhan telah menjemputku. Aku bahagia. Aku senang aku pulang dengan Tuhan. Nenek, apa kau menangis?? Maaf telah membuatmu sedih. Aku tidak bermaksud merahasiakan hadiah yang Tuhan berikan kepadaku. Aku hanya tidak ingin kalian menganggap hadiah Tuhan untukku adalah musibah untuk kita. Tidak Nek, aku bahagia.
Aku senang kau khawatir kepadaku. Ingat uban pertama yang kucabut dari kepalamu? Waktu itu aku berbohong kalau ubannya berjumlah ratusan. Hanya ada satu Nek, dan sudah aku lenyapkan dari rambumu.^_^
Ayah..Ibu..aku tidak membenci kalian. Aku menyayangi kalian lebih dari merahnya bunga Ester yang bermekaran di taman dan mencintai kalian lebih dari lezatnya kaldu kari ayam yang dibuat nenek. Aku tahu kalian merasakan hal yang sama sepertiku.
Ibu, kau cantik seperti Ester merah. Dan kau ayah, tahukah kau ketika aku melahap kari ayam aku membayangkannya bisa melahapnya bersamamu. Ketika aku tidak menemui kalian saat menjengukku, itu karena aku tidak mau kalian ambil dari nenek. Karena nenek pun segalanya untukku. Maaf telah membuat kalian bersedih pula..
Kevin sayangku, maafkan aku menjadi seperti ini. Meninggalkan semua mimpi kita di September Ceria. Maaf sudah membuatmu berpikiran jelek tentangku. Maaf aku tak meminta maaf seperti biasanya setelah pertengkaran kita hari Minggu lalu. Maaf juga membuatmu berubah menghadapiku. Aku tidak bermaksud seperti itu. Hanya saja aku ingin kau bisa melupakanku. Sebuah pesan singkat aku terima dari Lusy. Aku senang kau bisa mendapatkan yang lebih baik dariku. Aku tidak akan bertanya siapa Lusy, aku harap kamu menjatuhkan pilihan yang tepat dan bisa hidup bahagia bersamanya. Maafkan aku sayang… ^_^
Aku harus pergi sekarang. Tuhan sudah merindukanku. Aku harap kalian jangan menangisi ini. Ketika hari kelahiranku tiba, hiasilah rumah ini dengan beberapa bucket Ester merah dan masaklah kari ayam yang sangat lezat. Aku akan datang mengunjungi kalian.
Aku sayang kalian. ^_^

Yours, and I hope that

Jane Marry Joseph

6 thoughts on “I’m yours??Yeah, I hope

Just comment, and I will comment you back...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s