Apel Merah itu Bukan Untukmu

Saat musim semi, pohon apel merahku sedang berkembang. Bila berbuah, pohon itu akan memerah dan semua orang yang melihatnya pasti ingin mencicipi apel merahku. Kebetulan musim panen ini adalah pertama kali aku memanen apel merahku yang manis. Musim panen tahun-tahun sebelumnya panenku selalu gagal. Apel merah yang aku tanam sebelumnya selalu penuh dengan belatung-belatung, dan rasanya hambar. Dan semua orang mengolokku.

Senang rasanya aku bisa memiliki pohon apel merah manis. Walaupun hanya satu pohon, tapi dia dapat berbuah lebat, merah, dan manis. Panen pertamaku tiba, semua orang aku beri apel merah. Mereka senang dan bahagia. Lalu aku berjalan menyusuri kebun apel petani lain, dan aku tercengang. Mereka menangis dan bersimpuh. Panen mereka gagal, buah apel yang selalu mereka banggakan ternyata habis dimakan kampret. Dan sisanya masih bergelantungan dipenuhi belatung-belatung menjijikan. Ada puluhan hingga ratusan pohon yang kujumpai hampir seperti itu seluruhnya. Satu petani berkata padaku, apa yang kau bawa adalah apel merah manis nona? Dan aku pun mengangguk mengiyakan pertanyaan petani itu. Lalu teringat dibenakku ketika aku terkapar kelaparan. Teringat wajah petani itu  yang pernah meminjamiku 3 buah apel merah yang sangat manis untuk mengisi perutku yang tak henti menangis. Belum sampai aku mengembalikan apel merah yang aku pinjam dahulu kepada petani itu, seorang petani lain meneriakiku. Kau wanita iblis pembawa bencana. Kau telah meminta  benih apel merah kami yang manis, lalu kau tanam dikebunmu. Setelah kau dapati apel merah milikmu manis,  kau kembali membawa racun yang kau percikan pada pohon apel kami. Kemarahannya semakin menjadi dan dilemparkannya apel busuk yang sedari tadi ditangisinya ke wajahku.

Aku terluka dan aku pulang dengan tangisan. Dalam hati kecilku aku bertanya, apa yang harus aku lakukan untuk mereka? Aku terus berpikir bagaimana aku membalas kebaikan hati mereka. Keesokan harinya aku membawa beberapa keranjang apel merah menuju kebun petani-petani itu. Kali ini tidak ada tangisan yang kudengar. Baguslah, aku akan tenang memberikan beberapa keranjang apel merah ini untuk mereka, gumamku. Ketika aku mulai menunjukkan niat baikku kepada mereka, entah apa yang terjadi seketika itu. Tiba-tiba keranjang-keranjangku kosong. Seraya tidak percaya aku buka satu demi satu keranjang-keranjang apel itu. Semua kosong, tidak berisi apel sebijipun. Aku masih ingat ketika malam itu aku memenuhi keranjang-keranjangku dengan apel merah. Tapi mengapa pagi ini kosong?
Lalu aku berpikir, mungkinkah apel itu terjatuh satu per satu ketika aku menarik pedati terlalu kencang tadi? Kurasa tidak, ingatku. Lalu ingatanku kembali pada jalanan terjal dan berliku yang kulewati tadi. Dan aku ingat. Ditikungan pertama kudapati kakek tua renta tanpa kedua kaki meminta belas kasihan, dan kuberi 3 buah apel merah dari keranjangku. Berharap perut kakek bisa kenyang dengan memakan apelku. Hanya 3 buah apel yang berkurang. Lalu dimana yang lain? Kemudian aku ingat lagi. Didekat sebuah terowongan ada ibu tua dengan 3 orang anaknya sedang menangisi nasi bungkus milik mereka yang tidak sengaja terjatuh dan terinjak oleh sapi-sapi pendulang emas yang sombong. Mereka bercerita betapa susahnya mereka bekerja berhari-hari siang dan malam hanya untuk 2 buah nasi bungkus. Lalu kuambil 7 apel merah dari keranjangku. Dan 1 keranjangku telah kosong, hanya tersisa 2 keranjang lagi. Ya, 2 keranjang lagi. Masih cukup kubagikan kepada petani-petani apel itu, riangku dalam hati saat itu. Tapi kemana 2 keranjang apel tadi? Aku masih berpikir dan terus berpikir.

Petani apel yang kemarin melempariku apel busuk lalu memecah heningku. Hai nona, apa kau menghina kami dengan memberi kami keranjang-keranjang apel kosong? Tidakkah kau berpikir kami yang memberimu benih apel manis, sehingga kau pun dapat menanam dan menikmatinya? Mengapa kau menebar racun yang membuat pohon apel kami menjadi seperti pohon apelmu sebelumnya? Kau lupa apa yang kami berikan untukmu? Seharusnya kau berikan pula benih apelmu, atau kau berikan pohon apel itu kepada kami. Aku terkejut dan mulai gemetar mendengar hardik petani itu. Tubuhnya yang besar serta tatapan mata yang seolah-olah ingin menikamku membuat aku semakin tak kuasa menahan desir darah yang semakin cepat. Ditengah ketakutanku, teringat lagi perjalananku sebelum menemui petani-petani apel itu. Setelah melewati terowongan, kulihat paman kecil berwajah ramah menyapaku dan bertanya, akan kau bawa kemana apel-apel manis itu nona? Bukankah kau ingin membagikannya kepada orang-orang yang lebih kelaparan dan membutuhkannya?  Lalu aku ingat wajah paman petani itu. Ia petani yang sudah meminjamiku apel merah manis ketika aku kelaparan tahun lalu. Aku telah memberikannya 3 buah apel kepada paman petani itu sebagai penggatinya, namun paman petani itu menolak dan menggandeng tanganku seraya menunjukkan suatu tempat yang belum pernah kukunjungi sebelumnya. Sampailah kami disebuah pondok kecil beratapkan bambu dan disekelilingnya ada hamparan rumput yang terlihat seperti mengajakku bermain disana. Ya, aku ingat. Dua keranjang apel itu kuletakkan diatas meja didalam pondok itu. Dipondok itulah aku bertemu dengan anak-anak manis penjual bunga. Anak-anak itu tak pernah makan apel. Mereka selalu menjual banyak bunga, berharap apa yang mereka jual mendapatkan hasil untuk membeli apel. Ketika kutaruh keranjang apel itu, mereka begitu bahagia. Mata mereka berbinar, lalu kulihat beberapa anak tergopoh-gopoh sambil membawa bumbung mereka. Tersenyumlah mereka melihat isi bumbung dan berpikir bahwa semua apel dapat mereka beli dengan uang mereka. Namun aku tak lantas mengiyakan permintaan mereka. Melihat riangnya mereka melihat apel, aku tak sampai hati mengambil bumbung mereka dan menukarnya dengan apel-apelku. Lalu kuberikan apel-apel itu secara cuma-cuma untuk mereka. Aku senang melihat mereka bahagia. Setelahnya, kupandangi sekeliling pondok itu. Tak kudapati wajah ramah paman petani yang membawaku kepondok itu. Dan kulihat ada beberapa rumput yang sedang bercerita. Apa kau tahu kebahagiaan anak-anak penjual bunga itu? Mereka selalu bekerja keras untuk membeli apel. Tetapi, apa kau juga melihat petani apel yang akan kau jumpai? Mereka tidak seperti anak-anak itu.

Kembali suara lantang itu membuyarkan ingatanku tentang perjalananku tadi. Petani itu semakin marah karena tak melihatku bergeming sedikitpun. Sebelum mereka melampiaskan marahnya kepadaku, kuputuskan untuk meminta maaf dan pergi. Tak sadarpun beberapa kalimat terucap dari bibirku. Jika kau petani, bekerjalah selayaknya  petani. Maka kau akan mendapatkan yang semestinya kau dapatkan.

Wajahku tertunduk. Dalam hati kecilku aku bersedih. Aku bisa memberikan apel untuk kakek tua, ibu dengan 3 orang anak, dan anak-anak penjual bunga. Namun aku tak bisa memberi petani-petani itu apelku. Membuat mereka marah, dan serasa ada peti yang bertumpu dipundakku dengan berton-ton batu diatasnya. Dadaku seperti tertutup bongkahan kayu dan penuh sesak. Kakiku seperti tidak bertulang. Dan air mataku perlahan menetes.

Dan aku sadar, inilah hidup. Mereka yang bekerja keras pasti akan mendapatkan yang lebih banyak daripada mereka yang hanya berpangku tangan memetik hasilnya saja tanpa berpeluh, sekalipun mereka pernah memberikan harta mereka untuk orang lain. Dan semuanya adalah Tuhan yang menggariskan. Dan pada akhirnya, keikhlasanlah yang akan berbicara.

Gambarnya minta Mbah Google lagi

7 thoughts on “Apel Merah itu Bukan Untukmu

  1. cerita dengan pesan moral yang bagus..🙂
    siiplah ini bisa jadi penulis cerita anak2 nih..
    lanjutkan😀

    hanya belajar dari apa yang sering kita jumpai mba..termasuk belajar ke mba ane😉

  2. Begitulah kehidupan, kita sudah berusaha namun tuhan juga yang menentukan hasilnya. sebaiknya lebih baik bersyukur saja atas apa yg sudah diberikan.

    lebih baik berusaha daripada meminta,,bukan begitu pak?😀

Just comment, and I will comment you back...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s