Solitare dan Sendiri

Tiap kali dengar kata Solitare saya sering tertawa sendiri. Itu karena saya (dulu) tidak tahu cara bermain Solitare. Pertama kali saya punya notebook, game yang ada di notebook saya adalah Solitare. Bolak balik saya buka tutup game itu (karena gak bisa memainkannya). Tapi suatu ketika saya tengah buka lagi game itu dan ayah saya berteriak, opo kui nduk? (apa itu nak-red). Dan saya pun menjawab, Solitare pak, tap ade’ ndak bisa mainnya.

Sontak ayah saya tertawa dan mengajarkan saya cara bermain yang benar. Diurutkannya kartu remi King sampai ke bawah As. Ayah saya kemudian berkata lagi, yo opo Bapak gak iso komputer nanging iso dolanan sing nang njero kono. (Ya gimana Bapak tidak bisa komputer tapi bisa bermain yang ada di dalamnya-red).

Bila ingat itu selalu ingat jaman-jamannya saya masih lugu (kalau sekarang sudah tidak lugu lagi).😀
Dulu permainan kartu yang saya bisa hanya remi saja, dan suka menjahiliteman saya dengan ramalan. Teman saya percaya kalau saya bisa meramal dengan kartu remi (padahal gak sama sekali). Hehehehehe😀

Setelah saya memahami permainan Solitare seperti apa, saya selalu memainkannya ketika waktu senggang atau pun ketika telah puas menyelesaikan dateline report kantor yang membuat rambut saya seperti singa.🙂

Sebenarnya saya tidak suka kesendirian dan paling tidak suka menyendiri (karena saya orang penakut). Saya bermain Solitare bukan berarti saya sendiri, tapi ada banyak orang disekitar saya (Ya iyalah, permainannya yang dilakukan oleh satu orang aja. Situnya mau ada berapa orang disekitar sie ga ada urusan sama Solitarenya)😳

Tapi saya ingat sekali satu hal yang saya sukai ketika saya terpaksa sendirian. Pada saat itu saya masih duduk dikelas kalau gak salah  1 SMA. (Almh.) ibu saya selalu ingin sekali anaknya bernyanyi. Karena ibu saya suka bernyanyi, diajarkanlah saya dan kakak saya cara bernyanyi. Kami berkaraoke bersama di rumah. Pada saat itu belum ada home theater, jadi karaokenya masih menggunakan DVD player atau tape recorder. Konyol memang saat kami koar koer para tetangga berdatangan ke rumah kami. Melihat kami bernyanyi, dan tak jarang tertawa ketika ibu saya memarahi suara fals saya. Hadeeehhh, malu pisan euy

Sejak saat itu jika ibu mengajari saya bernyanyi, saya minta pintu rumah ditutup rapat begitu pun jendela. Karena dari kecil saya selalu diikutkan lomba menyanyi (walau pun tidak pernah menyabet juara 1, sekalipun tingkat RT), saya tidak kaget dengan tatapan heran orang-orang. Tapi saya lebih malu di atas segala-galanya rasa malu yang pernah saya alami, yaitu ketika saya duduk di kelas 2 SMP. Ketika itu ada ulangan praktek menyanyi untuk mata pelajaran kesenian. Seluruh siswa diminta untuk mempersiapkan diri menyanyikan sebuah lagu dengan judul bebas. Dan oleh ibu saya, saya tidak boleh menyanyikan lagu bertema dewasa. Dipilihnya lagu bertema nasionalisme oleh ibu saya yang berjudul Nyiur Hijau. Sungguh keterlaluan dan payahnya rasa nasionalisme saya tidak mengenal lagu tersebut saat itu. Saya terus saja digembleng ibu saya, dan tidak jarang ditertawakan kakak dan ayah saya. Tapi dengan ide ibu saya, saya diminta belajar bernyanyi di dalam kamar.

Di dalam kamar yang tertutup saya terus-terusan nggrenyem menghafalkan lirik dan nada Nyiur Hijau. Akhirnya saya rasa saya bisa dan memamerkan pada ibu saya (hanya ibu saya). Dan ibu saya tersenyum (pertanda suara dan nada saya sudah OK). Keesokan harinya dengan penuh percaya diri saya menyanyikan lagu itu ketika tiba giliran saya. Dannnnnnn… Toeeeennnnggg, Ibu guru saya tertawa dan menyuruh saya menyudahi nyanyian saya. Fals dimana-mana, dan ada beberapa lirik yang tertukar. Lalu ibu guru meminta saya mengulanginya dan diikuti oleh suara beliau.

Sejak saat itu saya menyimpulkan bahwa saya lebih enjoy bernyanyi ketika sendiri. Saya bernyanyi untuk diri saya sendiri. Tapi tidak begitu pendapat (almh.) ibu saya. Ibu saya selalu mengatakan bahwa ada atau pun tidak ada orang yang melihat kita bernyanyi, tetaplah bernyanyi jika kau memang benar-benar menyukainya.

solitare = sendiri = menyanyi

solitare = sendiri = menyanyi

Meskipun saya belum mau mengeluarkan suara di depan banyak orang, setidaknya saya berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa bernyanyi adalah untuk saya sendiri dan dinikmati oleh orang banyak.

Tulisan ini diikutsertakan dalam perhelatan Giveaway: Pribadi Mandiri yang diselenggarakan oleh Imelda Coutrier dan Nicamperenique

5 thoughts on “Solitare dan Sendiri

  1. hihihihi makanya saya mah gak maulah disuruh nyanyi
    pernah posting juga soal itu
    kapok

    makasi ya sudah berpartisipasi🙂

    sama2 mba niq…jgn kapok ah…😀

  2. Hihihii….setali tiga uang, aku kalau diminta bernyanyi mendingan kabur.
    Penyanyi solitaire = Penyanyi Solo.

    jangan kabur om, coba nyanyikan barang satu atau dua lagu saja😉

  3. wiii … solitaire di mana-mana😀
    sama ya, saya juga kayaknya kalau nyanyi mending sendiri, jangan depan orang, takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan hehehe😀

    yg jelas takut dilempar botol aqu*😀

  4. saya juga suka banget maen solitaire mba. seru buat ngisi waktu.
    hehehe… lucu kalo nginget2 jaman nyanyi utk pelajaran kesenian pas sekolah dulu. saya juga termasuk yg suka malu kalo disuruh nyanyi, kalo disekolah dulu saya malah dipaksa sm Bu Guru buat nyanyi lagu2 perjuangan atau lagu kenangan.\(n.n)/

    kalo saya mah bukan pemalu, tp malu maluin…😆

Just comment, and I will comment you back...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s