Suara

Terdengar bunyi klakson bis ketika aku sedang berada dalam puncak lamunanku. Metromini 271 adalah bis langgananku yang akan mengirimku ketempat yang tak lain dan tidak bukan adalah kontrakan kecilku.

‘’Melamun lagi, Nona?’’ sergap si sopir metromini.

Aku hanya tersenyum kecut menjawab pertanyaan sopir bis itu. Seperti biasa aku selalu mengambil bangku tepat di belakang sopir. Entahlah, ini membuatku terasa nyaman dan tidak khawatir keblabasan dari tujuanku ketika aku tengah asyik melamun.

St. Maria gang sembilan akhir tujuanku. Di gang sempit itu aku masih harus berjalan satu kilometer lagi untuk sampai ke kontrakan kecilku. Sengaja aku mencari yang agak jauh dari keramaian karena aku tidak suka keramaian, dan terlebih karena gajiku tidak akan cukup mengontrak rumah yang dekat dengan jalan raya.

Ujung jalan sebelum tikungan arah kontrakanku selalu saja kutemui segerombolan orang-orang aneh yang selalu menertawaiku. Ada tiga sampai empat orang disana. Mereka kutemukan selalu jam-jam seperti ini setelah aku pulang kerja. Ya, petang seperti ini.

‘’Ah, kuhiraukan saja mereka,’’ gumamku dalam hati.

‘’Nona, baru pulang? Kerja atau main? Hahahahhaha,’’ ledek seseorang dari mereka.

Tetap kuhiraukan dan kupercepat langkahku berharap tidak terkejar oleh mereka.

***

‘’Sial, kesiangan lagi!’’ celetukku semenit sebelum kupakai sepatu hitamku yang kumal.

Kubelokkan langkah kakiku ketika sampai tikungan jalan. Aku terkejut ketika kutemui segerombol orang yang sering menertawaiku sedang duduk-duduk dan memandangku aneh.

‘’Sedang apa mereka? Mengapa ada diwaktu seperti ini?’’ aku hanya bisa bergumam dan terus berjalan melewati mereka.

Sedikit aku lirikkan mataku kearah mereka. Rupanya masih memandangku tajam, tetapi kali ini mereka diam. Aneh.

‘’Anda terlambat lagi, Nona Alma?’’ teriak Madam Suri, manajerku.

Dengan suara melengking dan bola mata seperti akan terlepas dari kelopaknya, Madam Suri terus menerus memarahiku. Tangannya menggebrak-gebrakkan meja kerjaku sehingga mengejutkanku dan karyawan lain yang bersebelahan dengaku. Tangannya membawa sepucuk surat yang tak kutahu isinya. Badannya yang besar meraih kursiku lalu berdiri lagi mencengkeram tanganku. Aku ketakutan.

‘’Maaf, Madam. Sa…sa…ya…saya…’’

Belum sempat kuteruskan kata-kataku tiba-tiba segerombol orang yang sering menertawaiku muncul dibelakang Madam Suri, tepat dibalik punggungnya yang besar. Aku terbelalak seperti melihat seekor singa yang siap menerkamku. Mereka menyeringai, dan tertawa terbahak-bahak menatapku sadis. Kesabaranku hilang. Aku marah dan meraih gunting dan beberapa ordner diatas meja kerjaku lalu kuhujamkan berkali-kali kearah mereka yang terus menerus terbahak-bahak.

***

Beberapa hari setelah kejadian itu lamunanku semakin hebat. Berjam-jam kuhabiskan waktuku didalam kontrakan untuk melamun. Ditanganku tergenggam tiga lembar kertas yang jelas dua diantaranya adalah surat pemecatanku dan surat pernyataan bahwa aku tidak akan menerima gaji dan pesangon sepeser pun dari perusahaan tempatku bekerja. Lalu aku tersadar dari lamunanku ketika aku ingin membuka satu lembar lagi surat yang masih tersimpan rapat dalam amplop coklat besar.

‘’Nona Alma, masihkan Anda didalam? Mari segera keluar dan jelaskan semuanya di kantor.’’ Suara tegas itu berasal dari balik pintu kamar kontrakanku.

Aku berjalan gontai dengan borgol melingkar dipergelangan tanganku. Diluar beberapa tetangga memandangku sinis. Aku tertunduk malu dan menangis.

‘’Hey, Nona Alma! Jangan menangis! Kau lihat pistol dipinggang kopral itu? Ambil dan bunuh mereka!’’

Seketika suasana menjadi senyap sesaat setelah bunyi suara pistol yang menderu-deru. Tanganku masih terborgol, wajahku berlumur darah dan suara itu kembali terbahak-bahak. Suara yang sama dengan suara yang selalu menertawaiku aneh. Dan suara yang datang dengan wajah menyeringai tepat dihari kematian Madam Suri.

3 thoughts on “Suara

Just comment, and I will comment you back...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s