Saat yang Lain Tertawa

Aku tahu aku tidak sepantasnya mengeluh dan mengaduh. Aku tahu betapa dunia terlihat akan lebih suram ketika aku muram. Tapi aku pun tak tahu untuk apa aku bertahan. Karena untuk mensyukuri betapa nikmat Tuhan membiarkan aku hidup sampai selama ini, betapa mulianya kasih Tuhan kepadaku. Dan aku tidak bisa membaca isyarat kesukaran cobaan yang Tuhan berikan kepadaku.
Aku hanya tertunduk lemas tak berdaya ketika aku mendapati diriku tak seperti yang diinginkan, terlebih aku adalah penjahat jalang yang mempermainkan kasih Tuhan, membiarkan Ia menjauhiku, dan membuat segalanya untukku menjadi nista. Salahkah Tuhan begitu padaku? -tidak-
Sepantasnya aku dihujat. Tidak ada gading yang tak retak, tidak ada manusia yang sempurna. Tapi aku begitu bodoh menjadikan ketidaksempurnaan ini jauh lebih buruk dari apa yang Tuhan tidak berikan untukku. Aku jauh lebih buruk dari sekedar ketidaksempurnaan. Jauh didasar sana, didalam hatiku yang suram ada sesuatu yang tertinggal atau bahkan sengaja aku tinggalkan. Ketika mereka -yang lain- tertawa bersuka cita, aku tengah sibuk mencari-carinya. Aku pun tak tahu apa yang aku cari. Aku tak ingat dan aku menyesal.
Aku hanya bisa menangis atas apa yang terjadi. Penyesalan menyerubutiku. Penyesalan yang aku tak tahu karena apa dan harus bagaimana.
Saat mereka -yang lain- tertawa, aku masih berlumuran penyesalan dan air mata.
Entah.

2 thoughts on “Saat yang Lain Tertawa

Just comment, and I will comment you back...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s