Monolog Hati

Ah, seharusnya aku tidak berbuat demikian. Seharusnya aku bersikap layaknya wanita. Tak bisakah aku sedikit mendengarnya menangis?? Kejam.

Tidak, kau tidak salah. Kau hanya tidak ingin dia selalu bergantung padamu. Kau bisa maknai ini sebagai pembelajarannya. Bukankah kau menerimanya atas dasar sifat gigihnya? Kau wanita, tapi tak lemah.

Kemana perginya kau yang dulu? Yang selalu menangis melihatnya menangis? Bukankah kau wanita lembut, selembut ibumu? Tak kau ingat? Sama sekali?

Entahlah, aku limbung dibuatnya. Aku tak tega melihatnya. Tapi terkadang apa yang aku lakukan menjadi candu untuknya. Ah, semua terasa berat. Terlebih karena kedekatan ini. Aku pun tak sanggup memikul bebanku sendiri, tapi bagaimana mungkin aku tidak memikirkannya? Mencoba menerima atas berbaginya. Entahlah.

Semua tidak akan pernah kau sadari, karena pada dasarnya kau bersifat mulia. Kau tak sanggup memikul bongkahan batu itu, namun kau pun tak kuasa menahan tangismu melihatnya memikul bongkahan batu pun yang terlihat lebih besar darimu.

Batu besar akan terasa ringan dijinjing ketika kita tempa perlahan. Semakin cepat kita berusaha menempa, akan semakin cepat bongkahan itu menjadi kerikil kecil yang ringan bahkan hanya menjadi debu. Dengan begitu semakin cepat kau membantunya memikul bongkahan batunya pun.

Pikul? Membantu? Kau tak sadar? Menempa bongkahan batu besar pun memerlukan waktu lama. Dia akan menunggumu selama itu. Banyak waktu yang seharusnya berguna untuknya, akan tetapi dengan sengaja ia sia-siakan. Kau bodoh. Kau membuatnya bodoh dan selalu bergantung padamu.

Lantas bagaimana, apa yang harus aku lakukan?

Kau tak perlu berbuat banyak. Pikirkan apa yang ingin kau lakukan. Yang akan ada, yang kau sebut naluri akan berbisik padamu. Yang harus kau lakukan adalah bijaksana, untukmu sendiri dan juga untuknya.

6 thoughts on “Monolog Hati

  1. Ketegasan untuk bersikap yang bertujuan untuk mendidik kadangkala sering bertentangan dengan perasaan/ naluri sebagai wanita.

    Aku suka monolog ini mba Lea…

    semoga naluri benar adanya…terima kasih citra😉

  2. tetap konsentrasi pada satu pandangan suapaya lebih terarah ya mba?😆

    #tolong mba lea, saya selalu tidak mudeeeng dengan tulisannya mba lea krn bahasa tinggi.😆

    anu bagaimana?? apa yg blm mudeng?? coba les privat tempatnya pak umar bahri😀

  3. Hm, memang kalo melihat orang lain kesusahan itu menyayat hati. Tapi kalo terlalu banyak dibantu, jadi ga mandiri dan bergantung. Susah juga ya….

    disinilah letak esensi dasarnya manusia mas..
    terima kasih kujungannya😀

  4. tegas, terlihat keras tapi sebenarnya untuk kebaikan yang di masa datang..
    tapi terkadang rasa tak tega itu pun cenderung menguasai perlahan..

    *aku suka monolognya😀

    seperti itulah yg diajarkan guru PMP saat kita SD, manusia sejatinya adl makhluk sosial😀

Just comment, and I will comment you back...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s