Cinta Rasa Mendoan

Tatkala mentari menyengat, peluh serasa membanjiri tubuh. Sosok lelaki tanggung masih terdiam berdiri disudut ruang kelas gedung A mengintip sedikit amplop coklat, upahnya menulis untuk sebuah tabloid lokal. Tak banyak yang ia peroleh dari jerih payah menulisnya, namun ia senang dan puas. Meskipun hanya sekedar cukup untuk membeli mendoan, makanan yang menjadi kesukaannya setelah ia hijrah untuk kuliah di Purwokerto.

Asep Gunawan-C1C007010-Fak. Ekonomi-Mrebet, Purbalingga

Begitulah tulisan dilayar monitor setelah Asep memastikan daerah tempat Kuliah Kerja Nyata-nya selama satu bulan lebih nantinya. Ya, memasuki semester ini  Asep sudah harus KKN. Mengingat pesan abahnya yang sudah renta dan terlalu lelah untuk mencari tambahan biaya kuliah dan hidupnya di Purwokerto. Asep berasal dari Lembang-Jawa Barat, sebuah kota yang tidak dekat dari Purwokerto dan begitu selalu ia rindukan. Pilihan biaya hidup yang rendah mendamparkan Asep memilih Unsoed sebagai tempat melanjutkan studinya. Sudah empat tahun Asep menempuh pendidikan di Universitas Jenderal Soedirman. Ia mengambil jurusan Ekonomi, tentu saja atas kehendak abahnya. Menurut beliau Sarjana Ekonomi itu hebat, bisa jadi pegawai bank, dan bisa kaya. Yah, itu menurut abahnya saja karena Asep pun sebenarnya tidak ingin itu. Ia hanya ingin menjadi penulis. Kecintaannya pada karya sastra yang menjadikannya sebagai manusia setengah ilusi dan memfiktifkan segala macam bentuk ketidakpastian di dunia nyata. Membentuk karakter dan imajinasi yang ia inginkan, itulah Asep. Meskipun mimpinya kuat untuk menjadi seorang penulis, Asep tak sampai hati melontarkan penolakan kepada abahnya. Bagi Asep mimpi abahnya adalah doa untuk masa depannya sendiri.

“Purbalingga? Kan dekat dengan Purwokerto? Bakal gak asik nih.”  Gumamnya dalam hati.

=0=

“Ca, pulang bareng yuh?”

“Emoh lah, aku mau dijemput Bapane.”

=0=

“Asep, kumaha ieu? Kunaon urang diditu?” tiba-tiba suara Wawan membuyarkan imajinasi Asep saat menulis cerpen untuk tabloid langganannya.

“Apanya yang bagaimana?” timpal Asep sedikit geram dengan kagetannya.

“Aku gak ingin disana, aku ingin KKN yang jauh dari daerah sini.” Celetuk Wawan sembari meninggalkan kamar Asep.

Wawan adalah teman seperjuangan Asep yang juga hijrah dari tanah Sunda. Dia berasal dari Sukabumi dan mengambil jurusan pertanian yang satu almamater pula dengannya. Mereka satu rumah kost, tetapi beda kamar. Yah, begitulah Wawan. Selalu menggerutu pada Asep jika ada sesuatu yang mengganjal dihatinya tanpa berani ia memprotes pada yang membuat ganjalan dihatinya. Asep hanya tersenyum mendengar ocehannya, dan dilanjutkannya menulis setelah ia lirik jam dinding diatas monitor komputernya. Sudah pukul tiga sore, sedangkan dateline tulisan jam empat sebelum kantor tutup. Akan tetapi Asep belum sedikitpun mencapai klimaks untuk tulisannya. Geram. Dipencetnya tombol ponsel, berusaha mencari phone book bernama Mba Ami. Lalu ditelponnya dan ia beri alasan untuk menunda penerbitan tulisannya tersebut, berhasil. Mba Ami adalah pimpinan redaktur tabloid lokal di Purwokerto yang mempercayakan Asep sebagai penulis tetap tabloidnya. KKN menjadi alasan Asep untuk berhenti -setidaknya sejenak- untuk menjadi penulis cerpennya. Mba Ami setuju.

=0=

Dua bulan berlalu. Setelah melewati proses pembekalan KKN yang membosankan dan survey tempat, beberapa orang dari kelompok Asep berarak menuju lokasi dan sisanya menyusul membenahi barang-barang kebutuhan mereka selama KKN. Jauh.

“Selamat datang untuk Mba dan Mas di desa kami. Kami berharap Mba dan Mas betah yah tinggal disini selama KKN,” sambut Pak Bambang -Kades setempat- setelah kelompok Asep tiba di lokasi sembari mengantar mereka ke home stay.

“Iya Pak, terima kasih.” Jawab mereka hampir bersamaan.

Purbalingga, tepatnya Mrebet -kota kecil yang sejuk- hampir sama dengan daerah asal Asep, Lembang. Desa kecil yang sebagian besar penduduknya berkebun sayur-sayuran, tanaman yang cocok untuk daerah sejuk seperti ini. Sejauh mata memandang dan sepanjang kaki melangkah selalu ditemukannya senyum ramah para petani. Berkebun dan tersenyum -bekerja penuh dengan keikhlasan- itulah makna hidup sebenarnya.

=0=

“Ca, kok gak mau jadi pacarku? Ayolah Ca, aku sayang sama kamu. Sumpah lah.”

“Apa sih lah, Agus. Aku gak suka sama kamu. Udahlah, cari cewek lain aja. Aku mau pulang.”

=0=

“Asep, besok pagi kita kerja bakti sama penduduk yah.” Pinta Dewi, teman satu kelompok Asep.

“Oke.” Jawab Asep singkat.

Malam ini udara sangat dingin. Asep segera memakai jaket berlapis pun masih terasakan dingin menusuk tulangnya. Ia mencoba berjalan-jalan sendiri disekitar kampung. Ia dapati beberapa kepala keluarga sedang berjaga-jaga di pos keamanan. Asep turut bergabung dan terlibat perbincangan. Mulai berbincang mengenai harga sayuran, pemerintahan, sampai mengenai berita gemparnya trend K-Pop.

“Meni gaul pisan ieu teh bapak-bapak,” gumam Asep dalam hati.

Dipertengahan perbincangan ia arahkan pandangannya jauh ke depan. Menyusuri tiap perkebunan dan didongakkan kepalanya ke atas, menatap bulan yang malu-malu memancarkan setengah sinarnya. Gelak tawa para lelaki perkasa yang khas menghangatkan malam. Angannya melayang jauh ke Lembang. Ia rindu abah dan uminya.

“Mba Ica saking pundi? Ndalu-ndalu kok mlampah piyambak?”

“Saking wande, Pak. Monggoh?’’

(“Mba Ica dari mana? Malam-malam begini kok jalan sendirian?”).

(“Dari warung, Pak. Mari?”).

Tiba-tiba percakapan itu membuyarkan lamunan Asep. Ia mencari dua sumber suara itu. Pak Wardi dan…? Entah siapa gadis itu, bersuara lembut dan bertutur kata manis. Asep tak dapat melihat wajahnya ketika gadis itu telah beranjak dari pos tempat Asep dan para lelaki mencari malam. Yang ia lihat hanyalah sosok gadis berambut sebahu dengan punggung yang tegak dan tubuhnya sedikit berisi.

“Sinten nggih, Pak?” Tanya Asep dengan bahasa khas Banyumas yang ia pelajari dari Dewi, gadis asli Purwokerto.

“Mba Ica, putrine Pak Waryo bekas juragan angkot Mas.” Jawab Pak Wardi.

(“Siapa ya Pak?”).

(“Mba Ica, putrinya Pak Waryo mantan juragan angkot”).

Malam semakin larut dan Asep pun berpamitan untuk beristirahat.

=0=

“Ca, digoleti Agus kae. Melasi toli, aja terus-terusan gawe rambut ngapa? Pacaran sekali-kali. Wis duwe KTP mbok?”

“Apa sih lah, Sri? Nyong lagi bebeh pacaran. Pengin golet duit dewek disit. Lagian nyong esih wolulas taun koh.”

(“Ca, dicari Agus tuh. Kasihan kan, jangan terus-terusan bikin wig kenapa? Pacaran donk sekali-kali, udah punya KTP kan?”)

(“Apaan sih, Sri? Aku sedang tidak ingin pacaran. Ingin cari uang sendiri dulu. Lagi pula aku masih delapan belas tahun kok.”)

Siti Zulaicha adalah nama lengkap Ica. Gadis desa yang terpaksa bekerja sebagai buruh pabrik disalah satu perseroan terbatas di kotanya. Suasana di pabrik wig tempat Ica bekerja menjadi sangatlah tidak nyaman bagi Ica ketika gossip mengenai dirinya beredar tidak sedap. Didapatinya berita bahwa ia akan dilamar oleh Agus, seorang pemuda yang sekaligus sebagai Supervisor Produksi tempat Ica bekerja. Sebagai buruh, Ica memang harus menghormati Agus yang tak lain adalah Supervisornya. Sikap Agus yang terlalu berlebihan membuat Ica risih, terlebih lagi dengan beredarnya gosip yang tidak sedap mengenai dirinya. Sudah lama Ica ingin berhenti menjadi buruh, tetapi keadaan perekonomian keluarganya yang memaksanya agar tetap bertahan bekerja sepahit apapun kondisinya. Ayahnya adalah seorang mantan juragan angkot. Usaha angkot ayahnya bangkrut setelah ibunya terserang stroke parah. Seluruh angkot ayahnya dijual untuk biaya pengobatan dan terapi ibunya. Meskipun Ica anak tunggal, dia tidak manja. Jauh didalam lubuk hatinya ia ingin sekali meneruskan kuliah, namun keadaannya yang mengharuskan ia bekerja menjadi buruh pabrik. Upah yang didapat hanya cukup untuk kebutuhan dapur saja.

=0=

“Ica emoh mbojo, Pak. Ica esih enom.”

“Bapak wis tua, Ca. Bapak gari ngrawat mamakmu. Bapak wis ora teyeng njaga koe terus.”

“Ya wis. Bapak ora usah khawatir. Bapak jaga mamak bae. Ica teyeng jaga diri dewek.”

(“Ica gak mau menikah, Pak. Ica masih muda.”)

(“Bapak sudah tua, Ca. Bapak tinggal merawat mamak kamu. Bapak sudah tidak bisa menjaga kamu terus-terusan.”)

(“Ya sudah. Bapak gak usah khawatir. Bapak jaga mamak saja. Ica bisa jaga diri sendiri.”)

Suasana di rumah Pak Waryo malam itu memanas. Rupanya gosip yang beredar di pabrik tempat Ica bekerja sampai kepada Pak Waryo. Ia menaruh harap bahwa putri satu-satunya dapat menerima pinangan Agus. Namun Pak Waryo harus menutup harapannya itu. Penolakkan keras dari Ica sedikit membuatnya terluka.

=0=

Sore ini jam bebas untuk kelompok Asep. Asep memutuskan untuk berjalan-jalan ke kota.

“Mumpung terang,” riangnya dalam hati.

Bade kamana Kasep? Meni teu ngajak-ajak?” sergap Wawan seraya mencegah kepergian Asep.

“Bade jalan-jalan ke kota? Ikut?” jawab Asep menawarkan.

Tanpa berpikir panjang Wawan menjatuhkan tubuhnya dibelakang Asep. Mereka berdua langsung pergi. Menyusuri area perkebunan yang luas dan tak lupa tetap memakai jas kuning, jas kebanggaan almamater mereka. Berpindah dari jalan satu ke jalan lain, membelah cerahnya sinar surya sore yang menembus celah-celah pertokoan kecil di pusat kota. Menghirup wangi keramaian dalam suasana modern yang Asep rindukan setelah sepuluh hari seperti terisolasi disebuah tempat indah namun biasa. Kelompok KKN Asep memang padat dengan kegiatan, dan terlebih desa tempatnya KKN jauh sekali dari pusat kota.

“Sep, makan bakso yuk? Perutku lapar,” pinta Wawan.

Asep mengangguk pertanda setuju. Diparkirnya motor disudut alun-alun setelah kemudian menyusurkan mata kearah tukang bakso disekeliling mereka. Setuju dengan tenda hijau bertuliskan Bakso Pojok Alun-Alun, mereka menyambanginya. Tak berhenti sampai disitu, mata Asep masih menggeranyangi beberapa tenda yang berdiri antheng di trotoar.

“Mendoan Pak Jasman.Yeah! Ini yang aku cari,” celetuk Asep seketika menghabiskan baksonya.

“Asep, bayar dulu.” Teriak Wawan panik.

Tanpa menghiraukan teriakan Wawan, Asep berlari ke warung tenda Pak Jasman. Mendoan yang ia cari. Makanan favorit kedua setelah masakan uminya. Tersenyum puas dan kenyang Asep mengajak Wawan untuk kembali ke posko karena hari hampir petang. Dalam perjalanan diceritakannya kepada Wawan  betapa gurih dan nikmatnya mendoan yang ia gemari itu. Wawan pun gemas dan bosan mendengar ocehan-ocehan Asep yang sedari tadi menceritakan mendoan, makanan khas Banyumas.

=0=

“Ica numpak apa kiye lah Pak? Deneng sopir angkote pada mbegot kabeh?”

“Ya wis, dienteni bae. Motore Bapak busine kotor, dadi ora teyeng laju.”

(“Ica naik apa ini Pak? Kok sopir angkotnya gak pada narik?”)

(“Ya sudah, ditunggu saja. Motor Bapak businya kotor, jadi gak bisa jalan.”)

Diliriknya jam tangan monol merah. Sudah setengah jam ia menunggu angkot jurusan ke pabriknya, namun tak satu pun yang muncul. Rumah Ica memang dekat dengan pangkalan angkot, jadi akan terlihat jelas berapa angkot yang sudah ia lewatkan. Tapi sedari tadi tidak satu pun yang melintas di depan rumah Ica.

“Permisi, Pak Waryo?” tiba-tiba Asep datang mengunjungi rumah Pak Waryo.

“Nggih Mas, ada apa?” jawab Pak Waryo.

“Saya Asep, salah satu mahasiswa Unsoed yang KKN disini. Kebetulan saya dititipi surat dari desa untuk mengajak Bapak jika bersedia mengikuti perkumpulan musyawarah ringan dengan mahasiswa di balai desa.”

“Oh, iya Mas. Insyaalloh saya datang. Terima kasih ya.”

Belum sempat Asep berpamitan, Pak Waryo menahan Asep dan meminta Asep untuk mengantarkan Ica pergi bekarja seraya menunjuk gadis yang berdiri tak jauh dari tempatnya berdiri. Pak Waryo memohon agar Asep mau. Dipandanginya tubuh Ica, sedikit mengingat-ingat sosok gadis yang dilihatnya di pos ronda malam itu. Asep pun mau mengantarnya ke kota, menuju pabrik tempat Ica bekerja.

“Matursuwun Mas. Maaf ngrepoti. Lha wong saya minta tolong Bapak nganter malah Mas Asep yang nganter, padahal kita kenal juga belum.”

Tidak lama mereka bercakap, Ica berpamitan masuk pabrik. Dipandanginya tubuh kecil sedikit berisi Ica, tidak menarik namun membuatnya penasaran. Tubuh Ica yang beraroma khas gadis gunung, dengan penampilan trendy perawan pabrik jaman sekarang, sandal wedges, rambut rebonding, dan celana pensil. Penampilan gadis jaman sekarang yang sudah biasa dimata Asep namun masih membuat penasaran hatinya.

“Dianter siapa kamu tadi, Ca? Pacarmu?” tanya Agus setengah membentak, membuyarkan konsentrasi kerja Ica.

“Bukan,” jawab Ica singkat. Sebal.

=0=

“Wi,ketika aku jalan-jalan ke kota kemarin kulihat ada beberapa bangunan besar seperti gudang dan banyak sekali karyawannya. Tapi kebanyakan kok cewek yah?” Asep melontarkan rasa penasarannya kepada Dewi ketika mereka tengah menyiapkan bahan musyawarah sore ini.

“Oh itu… Itu pabrik rambut, Sep. Di Purbalingga banyak investor dari Korea yang membuka pabrik rambut dan kebanyakan memang karyawannya cewek karena mereka ulet. Banyak banget perseroan terbatas yang ada disini. Produksinya macem-macem, ada wig, bulu mata palsu, kuku palsu juga. Gitu…”

“Oh, tapi kebanyakan kok masih muda-muda yah?”

“Iya, kebanyakan mereka lulus SMA langsung kerja jadi buruh. Makanya jangan heran jarang banget cewek disini pada nganggur. Mereka mending kerja jadi buruh pabrik dari pada nganggur di rumah yang ujung-ujungnya dikawinin sama bapak mereka.”

Gelak tawa mengakhiri percakapan mereka yang mulai bersiap menuju balai desa.

=0=

Kehidupan para mahasiswa KKN yang membaur dengan penduduk desa menciptakan nuansa tersendiri dihati Asep. Kebiasaan bangun pagi, olahraga, dan mandi pagi menjadikan Asep dan teman-temannya berbeda dikehidupan mereka sebelum KKN. Bagi mereka, desa itu merupakan rumah kedua mereka. Terlebih bagi Asep. Rasa penasarannya pada Ica membuatnya terbiasa mengantarkan gadis itu ke tempatnya bekerja. Hampir setiap pagi Asep mengantarkan Ica pergi bekerja, dan tak jarang pula ia menjemputnya dan sesekali menghabiskan petang berdua dipelataran alun-alun kota. Keakraban mulai terjalin ketika Ica mulai berani mengunjungi home stay tempat Asep dan kawan-kawannya menginap. Bagi Asep inilah KKN yang indah, dan ia merasa mulai jatuh cinta.

“Si Kasep teh mikirin neng Ica mulu. Nanti kesambet loh,” todong Wawan.

“Enam hari lagi kita disini yah Wan,” jawaban Asep melenceng dari candaan Wawan.

“Kenapa? Rindu neng Ica? Sudahlah, kau tembak saja dia. Toh kalian masih bisa berhubungan lewat handphone kan?”

“Entahlah, ada sedikit keraguan dihati ini Wan. Aku minta kau tidak menceritakan masalah ini kepada siapa pun dulu.”

Wawan mengangguk. Semakin hari Asep semakin gelisah. Entah perasaan cinta yang bagaimana yang merasuki nalurinya. Ingin rasanya ia mengungkapkan perasaannya kepada Ica, namun suara yang lebih tajam dan kuat menahannya untuk tidak berucap itu. Satu hari menjelang akhir KKN-nya, Asep tak bisa tidur. Wawan yang satu kamar dengan Asep pun dibuatnya bingung. Tak tahu harus bagaimana dan seperti apa. Besok adalah hari terakhir mereka KKN, dan sorenya mereka harus kembali ke Purwokerto. Perasaan yang tajam masih menggelayuti naluri Asep untuk tidak mengungkapkan cintanya pada Ica. Sedih dan bingung.

=0=

“Mas Asep hari ini terakhir yah? Ini Bapak ada sedikit sayuran untuk dibawa Mas Asep dan teman-teman,” ujar Pak Wardi sembari membawa bungkusan sayur-sayuran sebagai cinderamata untuk Asep dan kawan-kawan.

“Terima kasih Pak Wardi. Kebetulan saya mau pamit juga sekarang. Urusan kami teh sudah selesai cepat. Tadi pun kami sudah berpamitan ke Pak Bambang, Pak Kus, Pak Joko, dan semuanya. Sekali lagi terima kasih banyak sudah merepotkan Bapak dan penduduk disini.”  Jawab Asep panjang dengan logat Sundanya.

“Sami-sami, Mas Asep. Saya senang ada yang bantu saya panen kemarin, nggih Mas Wawan?”

Wawan tersenyum malu. Selesai berpamitan, Asep dan kawan-kawan bersiap gas motor masing-masing. Masih ada yang mengganjal dihati Asep. Kemudian ia meminta Wawan menunggunya pergi sebentar.

“Nuwunsewu, Pak Wrdi. Kok rumah Pak Waryo kosong yah?” tiba-tiba Asep menghampiri Pak Wardi lagi.

“Oh nggih, Mas Asep. Kemarin ada lamaran untuk Mba Ica. Setahu saya hari ini mereka pergi berobat untuk Bu Waryo, naik mobilnya calon mantunya Mas.”

Bagai tersengat listrik dan terbakar bara api tentang perasaan yang selama ini Asep pendam untuk Ica. Betapa hati tak kuasa menolak berita pahit yang mengiringi akhir perjalanan KKN-nya. Tak kuasa menitikan air mata, terlebih pada batin yang merana. Bahwa sesungguhnya cintanya yang menggila pada perawan pabrik yang ceria, yang mengisi hari-hari terakhir KKN-nya. Betapa hati ingin menjerit menyesali tajamnya perasaan naïf nalurinya. Cintanya pada gadis kota mendoan favoritnya tak pernah ia ungkapkan, atau setidaknya hanya ingin merasa hatinya lega. Tak pernah. Betapa cintanya yang datang tiba-tiba diakhir hari-hari KKN-nya terusik bisikan setan musuh Adam. Betapa cintanya tak akan pernah segurih dan selezat mendoan, favoritnya. Dan ia harus melanjutkan lagi sisa kepingan hatinya untuk ia rekatkan kembali dikemudian hari dengan rasa segurih mendoan.

*Cerpen ini dibuat atas permintaan teman lama saya, Anggit Wicaksono. Dalam tema dan batas waktu yang singkat dan sudah ditentukan sehingga menjadi cerpen seperti ini.

 

12 thoughts on “Cinta Rasa Mendoan

  1. anu, mbak. bgmn kalau dilampirkan catatan kaki yg brisi pnjelasan bahasa daerahnya.
    soalnya, ga smuanya saya ngerti sih. hehe

    dibawah dialognya sudah saya translate sekalian mas sulung yg pake kurungan itu lho😉

  2. sumpah inyong ora ngelembo gurih banget cerpene mba…🙂

    aku jadi teringat ama temen aku yang anak purwokero tepatnya desaaaa *apa ya aku lupa* yang pasti klo aku kesana ga akan lupa walau sudah lupa nama desanya. Desannya dekat stasiun puwokerto, dari stasiun menuju ke arah korea eh kroya sebelah kanan rel KA, sebelah kiri lapangan (sekang lapangannya udah ga keurus) dan bersebelah ada makam tapi bukan makam pahlawan. Nah sebelah kanan diatas tanggu rumah temen aku.
    dia dapat seorang istri yang sederhana dan cantik bekerja di sebuah pabrik weg.
    waduh apakah istrinya temen aku ya yang di taksir ama asep?
    *loh ko malah ikut curhat*

    untuk bisa bahasa sunda-jawa jadi ga perlu baca translitnya :))

    Di antos mba ceritana nu lewih gurih dei🙂

    porka mas??atau kober??atau pasir??atau pangebatan??haduhhhh,,penasaran…
    kalo yg ditaksir asep mah masih gadis kang, teu kawin…hehehhehee

    • klo ga salah bantarsoka mba… ga jauh dari pintu perlintasan rell KA.

      kangen ngapak, ora ngapak ora kepenak :))

      owh, iya bantarsoka deketnya porka.. ayo ngapak, biar ngakak, ora ngapak dupak😆

  3. Meuni sae pisan. Aduh, Asep …
    Baca cerpen ini jadi ingat masa KKN yaaa, selalu ada cilok haha *curcur*:mrgreen:

    hatur nuhun akang…😳 enak juga ituh cilok atuh😀

  4. panjang amat nih cerita yak? saya belum sempet baca semuanya ini, tapi udah comment aja
    maklum mbak, tengah malam nih mata tinggal 5 watt
    besok2 saya mampir lagi dah….

    iya,gpp kok

  5. ngapura mba nembe parkir nang kene.😀

    iki mendoane tah mba lea?😉
    idah baru baca sampai (“Ica gak mau menikah, Pak. Ica masih muda.”). .

    tak maghriban disit mba?🙂

    huwaaa…ini cerpen Idahhhh,,bukan novel… *nyesel bikin cerpen panjang di blog

Just comment, and I will comment you back...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s