Persahabatan Secangkir Kopi

Dua diantara tiga orang saya yakin setuju jika kopi itu nikmat. Ya, kopi itu nikmat. Racikan tiga sendok teh kopi hitam dan dua sendok teh gula ditambah air panas yang masih kepul-kepul menghasilkan harum kopi yang menyeruak menggoda iman setiap orang yang menghirupnya. Cuaca pagi yang sejuk atau sore yang indah akan menambah suasana tersendiri bagi penikmat kopi.

Bukan hanya nikmat, kopi juga ternyata bisa membuat sebuah kedekatan yang lama tak terjalin kembali terjalin. Persahabatan. Sebuah kata keramat (menurut saya) yang saya pun belum tahu mantra apa yang melekat sehingga terbentuk sebuah hubungan yang intim.

Mengapa saya angkat tema kopi menjadi sebuah persahabatan?

Simple, sebelumnya saya sama sekali tidak menyukai kopi. Bahkan jika saya mendapati secangkir kopi hitam pekat teronggok pada ujung meja oval ruang tamu saya, saya melirik pun tidak. Hanya saja saya suka wanginya yang khas. Bukan lantaran rasa yang tak terbiasa di indera pengecap saya lantas tak menyukai kopi, namun terlebih untuk kesehatan lambung saya yang sensitif terhadap zat yang lumayan keras. Bagi penderita maagh dan lambung kronis seperti saya, perlu mewaspadai untuk tidak sesering mungkin mengkonsumsi minuman berkafein tersebut.

Sedikit bercerita tentang kopi, mengapa saya sekarang sangat menyukai kopi? Dulu, ketika saya masih indekost, saya diperkenalkan dengan dunia malam oleh salah satu kawan SMA saya. Waktu itu dia mengajak saya nongkrong disebuah warung kopi yang cukup terkenal enak buat nongkrong. Ketika itu kami berempat, eh bukan, berlima. Mereka adalah kawan-kawan SMA saya yang sebelumnya sama sekali tidak akrab. Jumat malam adalah hari ritual kami bertemu dan mengopi. Beberapa dari kami memesan menu andalan, kopi hitam dengan sedikit gula. Awalnya saya hanya memesan teh hangat atau coklat panas. Tapi setelah pertemuan kami beberapa kali saya mencoba memesan menu yang sama dengan mereka. Anehnya setelah minum kopi, lambung saya sama sekali tidak memberontak. Kopi rasa persahabatan.

Hampir setiap Jumat malam kami berkumpul, sesekali kami mencoba caffe lain. Semakin bertambah komunitas kami, yang tentunya sesama kawan SMA dulu. Ada cerita dibalik setiap pertemuan. Masih gokil, jahil, dan bahkan masih suka ngupil. Berbagai profesi dari kami menjadi topik pembicaraan yang dapat memperluas wawasan kami. Dan entah apapun, siapapun, dan bagaimanapun kami, kami masih seperti kami yang dulu. Kami enam tahun yang lalu, kami yang masih ingusan, kami yang masih imut-imut, dan kami yang masih bandel.

Aulia Elang Wilmana (usia dirahasiakan)๐Ÿ˜€
Rocker?? Gak tau juga. Yang jelas gokil, aneh, dan suka mabokan kalau naik mobil *gak usah protes, ada bukti autentik. Hahahhahaha…๐Ÿ˜†
Siapa sangka muka innocent begini jadi karyawan salah satu bank ternama di Indonesia??
Yahh, whatever kamu,, itulah kamu, Elang. Be your self. I am still comfortable with you.

Dian Wicaksono

Dilihat dari seragam yang dikenakan bisa ditebak kalau Kunyuk (bukan nama sebenarnya) adalah seorang Pegawai Negeri Sipil. Dan siapa sangka dibalik keganasan mukanya (#eh?) ia adalah seorang guru SD yang sangat baik hati๐Ÿ˜›

Dian Wicaksono. Saya pun tidak tahu asal muasal ia dipanggil Kunyuk. Hampir contact atas namanya di phone book seantero SMA angkatan saya pasti namanya Kunyuk.๐Ÿ™„

Kocak dan cablak. Itu yang membuat saya masih nyaman menyandang persahabatan dengan dia. Mungkin akan seperti itu sampai kelak kami menjadi kakek-nenek.

Tri AprilisaTri Aprilisa
Aslinya tidak seimut fotonya:mrgreen:
Teman-teman biasa memanggilnya Lisa, dan lebih terkenal dengan sebutan Rohaye. Lebih suka kegiatan yang ekstrim ketimbang girly. Dandanannya juga maskulin, tapi sekalinya dandan bak bidadari jangan ditanya…semua mata pria akan tertuju kepadanya, Nong Poy aja kalah (#lho?).๐Ÿ˜†

Restiana RahmawatiSatu-satunya teman ngopi saya yang kalem cuma dia, Restiana Rahmawati. Kami biasa memanggilnya Ana. Karena kami pun dia terbiasa dengan kehidupan malam seperti kami #tsaaahhh๐Ÿ˜Ž

Paling suka foto-foto, tapi gak pernah ajak saya untuk berfoto. Saya tahu alasannya, karena dia takut mukanya kebanting sama muka saya (gelas kali dibanting?)๐Ÿ˜ณ:mrgreen:

Merekalah yang telah mengajak saya dan mengenalkan saya pada dunia malam yang indah. Menikmati malam ditemani secangkir kopi hitam yang pekat. Tak jauh berbeda dengan mereka, saya masih memiliki segudang cerita untuk sahabat-sahabat saya yang sudah berkenan singgah dihati saya.

Yunita, Nanang, Novita, Septin. Merekalah yang mengajarkan saya arti kebersamaan. Dan masih banyak dari sekian banyak orang-orang yang sudah saya kenal menjadi teman saya selama hidup saya ini. Persahabatan yang kental dan pekat sehitam kopi. Tak cukup banyak kata-kata indah yang mewakili persahabatan kami. Bahkan hanya dengan secangkir kopi pun saya mengerti betul jika dalam sebuah jalinan persahabatan, apapun selera kami baik manis, pahit, ataupun sedang tak mengubah arti dari sebuah persahabatan. Justru perbedaan yang ada adalah ciri khas kami yang dapat kami bagi satu sama lain.

Teman, jika pada saatnya nanti semua terlah berubah, rambut kita telah memutih, tubuh kita tak lagi kekar, dan penglihatan kita tak mampu memandang satu sama lain, saya berharap hati kalian tak akan berubah. Tetap menjadi kalian yang seperti ini. Pernah saya menerima pesan dari salah satu dari kalian untuk menyebutkan lima keburukan dari dirinya. Saya akan menggeleng, terdiam. Dia dan kalian, jika bertanya seperti itu saya tak akan pernah menjawab. Bukan lantaran saya bisu. Lima atau bahkan satu saja saya tidak akan menjawabnya. Karena bagi saya itu tak penting. Selama saya masih nyaman untuk bertaut hati dengan kalian, selama semua tidak ada masalah, selama semua tidak berujung perselisihan besar, itulah kalian yang seharusnya. Be your self. Bukankah seseorang tanpa keburukan itu membosankan?

Salam kopi, salam persahabatan. Karena setiap orang yang sudah saya kenal akan mempunyai tempat tersendiri dihati saya.

Bukankah masih ada sisa waktu untuk segelas kopi dipagi ini??

*Masih dengan song Segelas Kopi by Charlie Parkir.

8 thoughts on “Persahabatan Secangkir Kopi

  1. wah wah wah. .

    mba lea, idah baru mudeng kalau dengan tulisan ini.๐Ÿ˜‰
    selama masih nyaman,pertemanan tetap hangat. . sehangat secangkir kopi dimalam hari.๐Ÿ˜†

    akhirnyaaaaaa…. *tepuk tangan*๐Ÿ˜ฎ

  2. Saya setuju itu…
    Soalnya saya sendiri merasakan bagaimana kopi dapat menjadi pengiring dalam kedekatan persahabatan. Sayang sekali sekarang ini teman-teman ngopi jaman SMA-Kuliah memiliki jalan hidup yang terpisah jarak dan waktu. Hehehe.

    bagaimana kalo ngopi sama saya saja๐Ÿ˜€

  3. kapan pasukan kopi merapat lagi??
    minggu kemaren saya ngopi di cafe biasa tapi ga ada pasukan kopi ga ajib.

    mari merapat segera mas teller, kangen kalian…kesibukan telah menjadikan jarak kita semakin jauh

    • ady sesie,,
      ingatkan padaku??

      ah ratih,,,,masih donk…aku taka akan pernah melupakan org yg sudah prnh kukenal sebelumnya.cuma ada banyak ratih diingatanku…๐Ÿ˜€ sehat tih?

  4. Tulisannya meningatkan lebih kurang 10th yg lalu awal “segelas kopi” baru diseduh dan dihidangkan di Purwokerto bahkan sempat keluar lagunya di iRadio dan tampil di acara Kemah Motor Nasional di Senayan….

Just comment, and I will comment you back...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s