Batik yang Berbicara

Sudah tiga tahun sejak kepergian Tanto merantau ke ibukota, Siti tak lagi dikenal sebagai gadis yang manis dan ceria. Hari-hari Siti hanya ia habiskan untuk membatik. Sawah peninggalan ayahnya tak lagi terurus. Ayam petelur pun tempo hari beberapa kena razia dan dimusnahkan oleh Dinas Peternakan karena terbukti terinfeksi virus flu burung.

“Mau sampai kapan kamu membatik nduk? Itu lho sawah bapakmu gak koe urus.”

Sek, Mbok. Lagi mencoba motif baru.”

Si Mbok tak habis pikir mengapa Siti bisa berubah seperti itu. Tiga tahun yang lalu -beberapa hari setelah Tanto pergi merantau- Siti tiba-tiba saja mengamuk dan tak henti-hentinya menangis. Si Mbok hanya mengira Siti kaget karena Tanto pergi jauh dari dirinya. Ya, Siti dan Tanto adalah dua sejoli yang tak pernah jauh dari kemesraan. Beberapa kali Siti minta dinikahi Tanto, namun baru berniat untuk melamar Siti tiba-tiba Tanto mendadak berpamitan untuk merantau ke Jakarta.

oOo

“Harus berapa kali lagi sih Si Mbok mengingatkanmu nduk? Keluar sana, cari udara segar. Gak bosen koe didalam kamar terus?”

“Gak Mbok. Di luar aku ndak punya teman.”

Tiga tahun itu Siti habiskan hanya berdiam dikamarnya, membatik. Ia hanya keluar kamar untuk membersihkan diri, makan, dan membeli bahan batik, selebihnya hanya untuk membatik. Kamarnya pun telah dipenuhi dengan kain-kain batik yang telah selesai ia gambar. Hasilnya belum sempurna, karena setelah selesai ia gambar dan ia batik, kain-kain itu hanya tertumpuk dipojokan kamarnya dan bahkan sering terlihat berantakan. Jika Si Mbok datang dan berniat membereskan tumpukan batik-batik itu dengan lantang Siti berteriak. Matanya yang bulat terkadang memandang Si Mbok dengan nanar. Bola matanya seperti akan keluar. Seperti kesurupan.

Siti sudah tidak seperti anak Si Mbok. Dia sudah seperti orang lain, dan bahkan makhluk lain. Berkali-kali Si Mbok mengirim surat kepada Tanto, namun tidak pernah ada balasan darinya. Sudah ratusan kali pula Si Mbok mendatangi keluarga Tanto, namun keluarganya pun tidak pernah mendapat kabar lagi dari Tanto. Kabar terakhir yang mereka dapat dua tahun lalu, dan tanto mengabarkan bahwa di Jakarta dia sudah hidup enak.

Setiap malam dari kamar Siti selalu terdengar suara-suara tembangan Jawa kuno. Siti memang suka nembang. Suara Jawa khas miliknya membuat melodi-melodi tiap lekuk nadanya menjadi indah. Si Mbok hafal betul, jika semalaman Siti nembang esok paginya ia akan baik-baik saja dan terlihat seperti Siti tiga tahun yang lalu sebelum Tanto pergi. Memang terlihat seperti tidak waras, beberapa tetangga pun menyarankan untuk diperiksakan ke dokter jiwa namun Si Mbok tak tega. Dia tak ingin anak semata wayangnya itu dicap sebagai orang gila.

oOo

“Assalamu’alaikum Mbok, neng omah ndak Mbok?? Kulonuwun…

“Wa’alaikumsalam. Ada apa Min? Kok kedandapan gitu to?”

“Sawah Mbok, sawahnya Si Mbok ada geger.”

“Geger opo? Yang jelas kalau ngomong Min.”

“Itu tadi si Tarjo lagi mau mbedul singkong yang ada dilahannya Mbok. Tapi tiba-tiba…”

“Tiba-tiba opo??”

Sambil tergopoh-gopoh Parmin menarik tangan Si Mbok. Ia mengajak Si Mbok ke sawah tanpa menjelaskan apa yang terjadi disana. Rupanya sawah sudah ramai, ada beberapa polisi berusaha mengamankan warga yang berbondong-bondong menyaksikan apa yang terjadi disawah Si Mbok. Lahan seluas tiga hektar itu seketika berubah menjadi tumpukan-tumpukan manusia penasaran. Disela-sela kerumunan itu tangan Parmin masih menarik tangan Si Mbok yang berusaha berjalan dikerumunan. Betapa terkejutnya Si Mbok ketika melihat balutan kain batik dengan ukuran sebesar kepalan tangan orang dewasa. Dan shock Si Mbok bertambah hebat ketika seorang polisi menyampaikan bahwa balutan itu diperkirakan berisi tulang bayi yang diperkirakan dikubur sekitar tiga tahun yang lalu.

Pagi itu bukan pagi yang seperti biasa di dusun Maguwoharjo. Dusun yang tereltak di kota Slema, Yogyakarta itu mendadak ramai dan gempar. Setelah terlibat beberapa obrolan dengan polisi, Si Mbok diminta untuk memberi keterangan lebih lanjut dikantor polisi. Si Mbok bergegas pulang diantar Parmin, tetangganya. Terlihat Siti berdiri menyender dipintu rumahnya. Dengan wajah asing itu Siti menatap Si Mbok. Dan Si Mbok membalas dengan tatapan seorang ibu yang mengiba. Wajah Siti nanar, namun sesekali menitikkan air mata. Sebelum Si Mbok bergegas ke kantor polisi, Siti menggenggam erat tangan Si Mbok. Kali ini tatapan Siti seperti tatapan mengiba. Dia menatap Si Mbok dengan berlinang air mata. Matanya terlihat kosong, namun naluri seorang ibu mengatakan bahwa anaknya sedang dirundung masalah. Dipeluknya Siti, dan dikecupnya kening putrinya. Lalu ia bergegas menuju kantor polisi dan menitipkan Siti pada Parmin.

Dalam perjalan Si Mbok berusaha untuk tidak menangis. Entah karena apa Si Mbok nelongso melihat tingkah Siti tadi. Didalam kendaraan umum yang penuh sesak itu tiba-tiba saja air matanya menetes. Ada penat dibenaknya. Berusaha ia hilangkan, namun pikirannya hanya tertuju pada Siti. Baru setengah perjalanan ia meminta sopir menghentikan kendaraannya dan menurunkannya. Tanpa berpikir panjang Si Mbok kemudian naik angkot dengan arah berlawanan. Kembali kerumahnya. Betapa terkejutnya ketika Si Mbok mendapati rumahnya dikerumuni warga. Asap tebal menyelimuti rumahnya, beberapa bagian dijilati si jago merah. Dan dia mendengar teriakan anaknya didalam. Si MBok menjerit panik. Beberapa warga mencegahnya berlari kerumahnya yang terbakar. Dan sebagian lagi sibuk memadamkan apinya. Namun tak lama kemudian api semakin membesar, menjalar dan seperti ingin menjilat semua yang ada didekatnya. Teriakan Siti sudah tak lagi terdengar, dan Si Mbok masih bersimpuh didepan rumahnya yang masih membara dengan berlinangan air mata. Betapa terkejutnya Si Mbok ketika ia melihat Siti keluar dari rumah yang masih membara itu. Dengan wajah berbinar Siti memandang Si Mbok dan ditangan ia menggendong seorang bayi mungil yang terbungkus kain batik. Ketika melintasi Si Mbok, Siti tak sedikit pun bicara. Ia hanya tersenyum dan pergi melewati kerumunan warga dengan bayi yang digendongnya. Si Mbok masih terperangah dan tersadar setelah matanya sudah tidak mendapati sesosok Siti yang hilang bersama bau anyir yang terbawa angin.

#Awalnya ingin menulis cerpen fiksi yang enteng-enteng saja. Hanya bersifat cerpen moral, lah tapi ndak tahu kenapa malah ada unsur-unsur rada mistiknya begini. Hmmm, pasti ini akibat saya menulisnya ketika sendirian di kantor. Mohon maaf jika ada kesamaan nama tokoh, tempat, dan isi ceritanya ya…:mrgreen:

3 thoughts on “Batik yang Berbicara

  1. waaaw… keren Mbak….

    awalnya saya malas baca, lumayan panjang.
    tapi setelah baca beberapa kata saya gak bisa ninggalin halaman ini…….

    hmmmmmm.. jempolbuat Mbake….

    aiihhhh,,genteng saya langsung jebol gegara terbang nih…awalnya saya jg malas nulisnya, tp gitu deh..1 kata aja udh bisa bikin kalimat kalimat yg malah jd cerita antah barantah begini🙂

Just comment, and I will comment you back...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s