Setengah Okonomiyaki (itu)…

Disudut kedai tepat pada meja nomor tiga kami terdiam satu sama lain. Pandangan kami melekat ke arah yang berlawanan. Tak sepatah katapun terucap dari bibirku ataupun bibirnya. Dan sudah hampir tiga puluh menit kami seperti itu sebelum akhirnya waitress mengantarkan menu pesanan kami. Masih dengan terdiam, kami lalu segera menyantap menu kami. Mie ramen adalah kesukaannya, sedangkan aku cukup dengan sepiring okonomiyaki dan segelas smoothie lemon.

Menyantap okonomiyaki tak lantas membuatku kenyang. Jauh sebelum makanan khas negeri matahari terbit itu memenuhi meja kami, aku sudah merasa selera makanku lenyap begitu saja. Namun kupaksakan sedikit demi sedikit memasukkannya kedalam mulutku. Ingin rasanya aku berteriak, tak sepatah kata lembut pun terucap dari bibirnya. Aku merajuk tak lantas ia bujuk. Atau mungkin memang aku pengacau yang sebenarnya.

Sore itu semakin senja. Dia telah selesai mengeksekusi ramennya, sedangkan aku masih ada setengah okonomiyaki yang belum kuhabiskan. Tak terasa dari sudut mata kananku menetes air mata. Aku masih tak sanggup untuk melahap semuanya. Sedangkan ia tak lantas menungguiku, bergegas ia menuju kasir dan menyudahi makanku. Pulang.

Kami pulang bersama meskipun masih terdiam. Tepat dibelakang punggungnya aku membonceng. Dari balik punggung yang kurus itu, terus dan terus aku menangis. Tak pernah aku berani memeluknya dari belakang sekalipun aku ingin sekali tangannya memegang tanganku yang sedari tadi mencengkeram pinggulnya. Aku menangis bukan hanya cemburu. Aku takut, dan aku iri. Seolah-olah pria yang ada dihadapanku itu berbeda. Aku terlalu takut untuk kehilangan dia, dan aku terlalu naif untuk menerima keasyikannya menjalani kehidupannya sendiri. Aku terlalu lemah untuk ditinggalkannya. Dan aku terlalu mencintai priaku. Itu saja.

oOo

“Hey, kenapa kau banting handphoneku?”

“Tak apa, maaf.”

“Tapi mengapa mukamu jadi muram begitu?”

“Tidak, biasa saja.”

“Katakan, atau aku akan marah.”

“Marah? Lalu siapa yang berhak marah? Aku lihat ocehan-ocehanmu dengan gadis lain. Lantas siapa yang harus marah? Kau tidak pernah berbicara denganku seperti itu, nadamu berbeda ketika kita berbicara. Dan apakah kau yang harus marah?”

“Apa? Kau cemburu? Apa aku tak boleh berteman dengan wanita lain? Apa aku harus selalu bersamamu? Setiap jam, setiap menit, bahkan setiap detik? Dan aku habiskan waktuku denganmu tanpa aku kerjakan urusanku? Apa aku harus tinggal dihutan agar aku tidak mempunyai teman sama sekali? Pikiranmu picik, Dinda. Kau boleh cemburu, tapi tidak berlebihan seperti ini.”

“Picik katamu? Aku picik? Wanita mana yang tidak cemburu prianya mengobrol dengan wanita lain? Bertukar nomor handphone lalu setelah itu membuat janji bertemu. Apa itu picik, Johan?”

“Terserah!!! Terserah apa pikiranmu. Terserah jika kau ingin marah dan diam, aku tidak peduli. Terserah!!!”

======

9 thoughts on “Setengah Okonomiyaki (itu)…

  1. hmm hehe.. tanya ke Johan kalau ceweknya bertukar nomor atau pin bb sama cowok lain trus sering komunikasi terus ketemuan boleh gak? gimana rasanya?

    hahhahaaaaa…*colek Johan*

Just comment, and I will comment you back...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s