Masih Menunggumu

Belum sempat ku membagi kebahagiaanku
Belum sempat ku membuat dia tersenyum
Haruskah ku kehilangan ’tuk kesekian kali
Tuhan kumohon jangan lakukan itu
Sebab ku sayang dia
Sebab ku kasihi dia
Sebab ku tak rela
Tak s’lalu bersama
Ku rapuh tanpa dia
Seperti kehilangan harap
Jikalau memang harus ku alami duka
Kuatkan hati ini menerimanya
Sebab ku sayang dia
Sebab ku kasihi dia
Sebab ku tak rela
Tak s’lalu bersama
Ku rapuh tanpa dia
Seperti kehilangan harap

oOo

Lagu Rapuh dari Agnes Monica itu berulang-ulang diputar oleh Winda dari ponselnya. Berkali-kali pula ia tidak dapat membendung air matanya sejak tujuh hari yang lalu. Hari-hari Winda sudah tidak seperti biasanya. Toko kue miliknya pun terbengkalai, hanya sesekali suaminya pergi kesana untuk membersihkan beberapa perabot yang masih kotor untuk membuat kue.

Seminggu yang lalu ketika Winda dan suaminya tengah mempersiapkan upacara empat bulan kehamilannya, tak disangka semua kebahagiaan itu lenyap begitu saja. Ketika itu Winda melakukan kontrol kehamilan, ada kabar tidak mengenakan yang disampaikan dokter. Setelah melakukan USG, dokter mengatakan jika kandungan Winda bermasalah. Calon bayi yang ia kandung tidak berkembang sejak pemeriksaan terakhir satu bulan yang lalu. Dan kenyataan pahit itu pun terulang, buah hati yang ia kandung selama tiga belas minggu itu sudah tidak bernyawa. Dan kejadian itu merupakan keempat kalinya yang ia alami.

Empat janin meninggal dirahimku.

Dalam dua tahun usia pernikahan memang belum lengkap jika Winda dan suami belum memiliki anak. Tangisan, senyuman, aroma bayi, semua itu sudah sangat mereka dambakan. Dan untuk keempat kalinya Winda harus kehilangan si jabang bayi.

Suasana kamar 205 rumah sakit bersalin dibilangan Soedirman sore itu sangat sepi. Mata Winda hanya menatap langit-langit kamar, sedangkan suaminya sedang melaksanakan sholat ashar. Air mata terus menetes dari sudut kelopak mata Winda. Tak henti-hentinya bibirnya berucap istighfar. Ya, sore itu ia akan melakukan kuret untuk yang keempat kalinya. Sudah seminggu jasad si jabang bayi masih tertanam dirahimnya. Entah mengapa sudah berbagai cara dilakukan dokter untuk melepaskan jabang bayi itu dari rahim Winda. Obat telan, cairan infus, sampai diganduli botol infus pun si jabang bayi tidak mau keluar. Suami Winda hanya bisa pasrah. Dan dia menyerahkan sepenuhnya kuasa Tuhan melalui tangan dokter. Dan untuk keempat kalinya dia harus rela perut istri tercintanya berteman dengan alat-alat yang menakutkan.

Ibu hanya ingin kamu, nak. Mengapa Tuhan selalu mengambil kalian dari perut Ibu?

Suatu saat Tuhan akan memberikan kami adik yang kelak akan kau rawat dan akan membanggakanmu, Ibu.

Mata Winda terpejam. Rasa sakit yang luar biasa ia abaikan. Ia hanya ingin melakukan yang terbaik untuk semuanya. Dan terlebih lagi ia hanya ingin melakukan yang terbaik untuk keempat anaknya yang sangat ia sayangi dan ia rindukan.

===

*Merupakan kisah nyata dari seseorang dengan sedikit goresan fiksi. Semoga Winda -begitu juga Winda-Winda yang lain- menemukan kebahagiaan mereka dengan merawat darah daging mereka sendiri. Begitu juga saya nanti kalau sudah menikah.

 

8 thoughts on “Masih Menunggumu

  1. Semoga diberikan ketabahan kepadanya😥
    Yakinlah mungkin belum saatnya, Tuhan maha tau apa yang baik untuk kita semua pasti ada rencana lain. Dengan mengambil rahim dari seorang bu beberapa kali akan membuat kita merindukan sorang anak, dengan begitu kita akan sangat menyayanginya dan merawatnya dengan baik. entah jikala Tuhan memberikan pada awal, mungkin sifat acuh tak acuh pada anak yang lahir itu akan terjadi karena sifat sang bundanya sendiri, makanya Tuhan tumbuhkan dulu kerinduan itu.🙂

    aamiin…semoga ya mas😀

  2. ada juga saudara yg punya pengalaman serupa
    kalau aku sampai skrg masih bermimpi diberi kesempatan hamil🙂

    iya mba el,,pokoknya saya berdoa utk ibu2 dan calon2 ibu biar dikaruniai anak dan beribadah utk merawat mereka *termasuk saya* aamiin

  3. Pada acara kali ini akan diadakan talk show mengenai semua permasalahan infertilitas dan bayi tabung dengan narasumber para ahli infertilitas yang merupakan dokter konsulen Klinik ASTER. Selain itu juga akan dijelaskan mengenai profil Klinik Fertilitas ASTER RSUP dr. Hasan Sadikin Bandung dan bayi-bayi yang merupakan hasil teknologi reproduksi berbantu di Klinik ASTER. Setelah itu acara dilanjutkan dengan berbagai permainan menarik yang disediakan oleh Tim Aster dan makan siang bersama.

  4. Airmataku menetes ketika membaca tulisan ini, aku jadi mengingatnya..
    Dan begitulah pengorbanan seorang ibu, nyawa sekalipun akan dipertaruhkan untuk anaknya..

    sabar yah mba,masih dipilihkan bibit yg terbaik sama Gusti Alloh🙂

Just comment, and I will comment you back...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s