Pendamping Belajar

Sudah dari 4 minggu yang lalu saya menjadi pendamping belajar 3 anak (tepatnya 2 yang sering datang kerumah) sekolah dasar. Orang tua mereka meminta saya untuk mengajari anak mereka belajar, terlebih untuk Matematika, Bahasa Inggris, dan Bahasa Jawa. Spontan saya tidak menolak, karena pada dasarnya saya suka anak-anak dan saya suka sekali belajar dengan mereka. Memang awalnya hanya 1 anak yang datang pada saya, lalu bertambah lagi 1, dan 1 lagi. Sudah 3 anak yang saya dampingi belajar, tapi tidak semuanya selalu rajin datang kerumah untuk belajar. Yah, tak apa. Toh saya tidak memaksa, karena bukan saya yang melamar menjadi pendamping belajar mereka.😀

Awalnya saya memang agak susah menjelajahi tiap kekuatan otak mereka, meskipun hanya 3 anak. Ada yang terlalu menonjol dan agak sulit dikasih masukan, jika dirasa caranya benar seperti itu dia tidak akan memakai “cara keledai” saya. Tapi ada juga yang lemah ingatan. Namanya juga masih anak-anak, sabar saja saya pokoknya.

Berasa jadi guru memang, tapi saya tidak ingin disebut sebagai guru. Karena background pendidikan saya memang bukan dari keguruan, hanya saja saya ingin sekali menyumbangkan ilmu yang sudah saya peroleh sekian tahun, dan yang masih tersimpan rapat dimemori saya. Meskipun anak yang saya dampingi adalah kelas 3 SD, tapi saya perlu banyak bersabar dan bersusah payah untuk menjelaskan tiap detail soal yang dimaksudkan. Soal cerita matematika contohnya, meskipun singkatnya hanya penjumlahan akan tetapi saya perlu ekstra keras untuk membuat mereka paham. Inovasi dan kreativitas saya pun dituntut, dan jadilah saya pendamping belajar yang suka mendongeng.:mrgreen:

Dari situ saya mendapatkan pengalaman lagi. Bukan saya yang mengajari mereka beelajar, akan tetapi lewat pertanyaan-pertanyaan yang luar biasa dari merekalah saya belajar. Secara tidak langsung mereka pun pendamping belajar saya. Karena mereka, saya bisa bersyukur dibekali imajinasi, kreativitas, dan memori yang kuat (meskipun terkadang menjadi pelupa berat) untuk merubah kemalasan belajar mereka menjadi sesuatu yang selalu mereka tunggu-tunggu. Dan ayah saya pernah berkata, “Biarkan Tuhan memberikan sedikit lebih untuk otak kita, karena disitulah apa yang mereka punya Tuhan titipkan pada kita dan kau wajib mengembalikannya kembali kepada mereka.”

Dan saya Lillahita’ala ikhlas untuk selalu memberikan yang terbaik jika dimalam hari ada suara paruh baya mengetuk pintu rumah saya dan meminta saya menjadi pendamping belajar untuk anaknya. Sebisa dan semampu saya.

Yuk, siapa yang mau mengetuk pintu rumah saya malam-malam?:mrgreen:

7 thoughts on “Pendamping Belajar

  1. Jadi ingat jaman KPM dulu, mba.
    Menjadi pendamping anak SD itu tidak semudah menjadi pendamping anak SMA.
    Harus hati2 dan teliti, pandai berkomunikasi dan harus lebih aktif dari anak2 itu.🙂

    Semoga diberi kemudahan untuk menjadi pendamping mreka, kakaaaaaaaaak.😉
    Nanti malam aku mau ketok pintu, mau minta uang jajan.😆

    apa mau sing diwei wis entong???😆

  2. yg suka ngetuk pintu malam2:
    -kunti
    -pocong
    -ibu-ibu minta termoses / combantrin
    -satpam ronda

    jadi mau yg mana?
    haaahaahaa

    gak mau semuanyaaaaaa😥

Just comment, and I will comment you back...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s