Waktu yang Hilang

Biar mentari jauh dari mendung, biar malam selalu berpisah dengan siang, biar kehidupan menangisi kematian, aku -cinta yang tak terbatas- berseru memanggilmu. Kau tidak tahu sesakit apa mata panahmu menembus jantungku, dan kini kau tancapkan lagi namun bukan anak panah yang sama. Rasanya lebih sakit dan lebih memilukan.

Entah bermula dari mana hingga ada jarak dan ruang diantara kita. Perbedaan, egois, semua dapat kita atasi dengan bijaksana. Tapi tidak dengan privasimu. Ya, kau butuh waktu untuk dirimu sendiri. Tapi, aku tidak bisa berpikir jernih. Anak panahmu terlalu menusuk ke dalam, bahkan menghujam dadaku berkali-kali namun masih bisa aku tahan. Kau sedang ingin apa? Aku akan menurutinya. Tapi jangan kau minta hati yang telah melunak kembali mengeras. Kau tahu? Beberapa waktu yang lalu ada seorang anak berkata pada orang tuanya bahwa ia akan menabung untuk membeli waktu kedua orang tuanya. Dan aku rasa aku pun akan melakukan hal yang sama.

4 thoughts on “Waktu yang Hilang

Just comment, and I will comment you back...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s