Siluet Senja

Senja di ujung barat memang selalu dinanti. Ketika tubuhku bergetar karena diaduk mesin roda dua yang aku kendarai, sering dengan bibir terkembang aku menikmati siluet yang akhir-akhir ini jarang terpampang dihamparan lantai rumah Tuhan. Pada selurus pandang ladang yang berlumpur, entah dimana ujungnya, yang pasti ada segaris jingga menemani Sang Surya tenggelam diperaduan. Sungguh perkawinan yang indah. Biru, merah, jingga, dan sedikit kelabu adalah perpaduan warna membentuk blok-blok cahaya dan berubah menjadi siluet senja yang perlahan menghilang.

Aku masih dengan roda duaku. Berlalu mengikuti senja itu beradu. Bagai sepasang kekasih dimabuk asmara, senja itu tak akan terganti keindahannya. Ada perasaan aneh yang menyeruak sampai ubun-ubunku, bumiku yang menua, masih ada sisi megah nan indah yang berhak aku nikmati. Ya, bumiku yang menua, semoga saja masih terus begini hingga nanti jika keturunan ke tujuhku hadir dan sampai seterusnya. Manjakan mereka seperti kalian memanjakanku pada senja sekarang, tak kurang dan tak lebih.

Sekelumit doa saat senja untuk generasiku nanti

4 thoughts on “Siluet Senja

Just comment, and I will comment you back...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s