Marisa

Pagi masih terlalu dini. Masih gelap, dan aku baru menyelesaikan bacaan Surat Yasinku setelah subuh tadi aku bersimpuh dan memohon perlindungan pada Yang Maha Besar. Aku mempersiapkan diriku sedini mungkin dengan kemeja putih dan celana panjang hitam yang tidak terlalu ketat. Rambutku sudah aku kepang, model rambut favoritku dan suamiku. Nasi dan lauk ala kadarnya sudah kusantap habis, loyang sudah kujilati sampai bersih. Entah kenapa pagi ini rasanya aku lapar sekali.

“Berdasarkan keterangan saksi dan bukti yang ada, maka pengadilan menjatuhkan hukuman mati kepada Marisa Sumardjito karena tuduhan telah melakukan penyiksaan dan pembunuhan terhadap Beni Pamungkas.”

Aku masih ingat vonis hakim siang itu. Ketukan sebanyak tiga kali dengan mudahnya menghentikan hidupku. Ya, aku dijatuhi hukuman mati hari ini setelah mendekam dibalik jeruji besi selama satu setengah tahun. Aku dihukum mati karena aku melakukan pembelaan. Beni Pamungkas, dia adalah anggota parlemen yang sedang dicalonkan menjadi Presiden. Dia adalah orang baik, begitulah media massa dan masyarakat menilainya. Dan aku, wanita yang dinikahi oleh sopirnya yang jahat dan merencanakan pembunuhan terhadapnya. Aku, Marisa yang dihukum mati karena aku melakukan pembelaan terhadap suamiku yang dikhianati majikannya sendiri. Aku, Marisa yang dihukum mati karena melakukan pembelaan terhadap anak gadisku berusia 13 tahun yang telah ia nodai. Dan aku, Marisa yang dihukum mati karena melakukan pembelaan terhadap diriku yang sudah berkali-kali ia tiduri.

6 thoughts on “Marisa

Just comment, and I will comment you back...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s