I’m Sorry, Monday



Pernahkah suatu saat merasa membenci diri sendiri, marah pada entah itu apa, dan merasa bosan pada hal yang seharusnya tidak? Saya, adalah satu dari sekian banyak manusia yang mengalami hal seperti itu. Hari ini -Senin- sebelumnya saya bukan termasuk pembenci Mon(ster) Day, tapi entah kenapa hari ini saya tidak bersemangat menyambutnya padahal saya adalah satu-satunya orang di kantor saya yang menyukai hari Senin.

Hal ini bermula pada satu sumber: handphone smartphone yang saya beli belum ada 1 minggu sudah ngadat karena terlambat isi daya dan sampai saat ini masih belum ada tanda-tanda kehidupan. Keterlambatan pengisian daya itu disebabkan karena kemarin -hari Minggu- daerah sekitar tempat tinggal saya hujan angin, sehingga (mungkin) aliran listrik terputus. Bukan masalah itu yang bikin saya gedek, tapi terlebih mati listriknya yang amat sangat terlalu lama sekali sampai hampir tengah malam sehingga saya terlambat mengisi perut hp saya. Dan lihat? Sampai saat ini masih mati, padahal kerjaan saya bergantung pada smartphone. Masalah kedua, entah kenapa hari Senin saya rasanya tidak bersemangat. Karena tidak semangat itu saya jadi marah-marah tidak jelas. Pekerjaan yang seharusnya bisa terselesaikan dengan mudah ini malah ndadak puter jungkir koprol belum selesai-selesai. Ketambahan pula tiba-tiba hati berubah jadi melankolis dan kepingin nangis sendiri. Semuanya entah kenapa.

Hari Senin yang saya sukai mendadak mrengut ke saya. Mungkin karena saya sedang sensi, jadi ia tidak mau menjadi sasaran amarah saya. Meskipun saya sedang tidak bersahabat dengan Senin saya, setidaknya saya tidak akan mengeluh karenanya. Sebab saya tahu, ia sudah menanggung begitu berat beban takdirnya. Ia tidak minta “dijadikan” hari Senin, jika boleh memilih ia mungkin memilih hari Minggu. Tapi kebanyakan orang didunia mengutuknya, mencaci, mencerca, dan meludahinya. Senin tetaplah Senin, ia masih menjadi bagian dari kehidupan kita. Tanpanya, Minggu tak akan ada. Weekend kita tak akan berkesan. Dan mungkin tidak ada kehidupan.

I’m sorry, Monday…

8 thoughts on “I’m Sorry, Monday

  1. Tapi aku suka senin, rasanya selalu semangat hehe..

    Hujan angin kemarin memang cukup parah akibatnya ya.. ditambah lagi mungkin lg PMS barangkali?

    brati aku gak sendirian nih…😀 gak lg PMS kok mbak, bru kmrn selesai….tempatku malah ujan es lho mbaaa

  2. Mbak, kok HP belum di-charge malah bikin ngambek sih? Pakai Power Bank dong, Mbak..😀

    maksudnya karena telat nge-charge jadi pas dicharge ga bisa masuk. pas itu kebetulan daya power bank nya jg lagi abis😀

  3. tenang.. abis senin kan selasa mbak.. abis itu rabu.. lalu kamis.. dan jumat… itu hari saya pulkam *horeee*😆

    eh, siapa yg nanya situ mau pulkam? :p
    saya tenang kok mas, saya pecinta hari senin. cuma senin ini saja yg sedang tdk bersahabat😀

  4. Itu lama amat ya mati listriknya. Tega nian tuh PLN…
    Semoga sekarang hp-nya sudah bisa on lagi, jadi besok selasa gak lagi uring-uringan ya…
    Salam,

    udah baikan, ini giliran diisi pulsa ga mau😦

  5. wah .. aku selalu suka Monday mbak, hr paling nyaman buatku kayak hari libur gitu, senin sellau menjadi hari istimewa buatku
    semoga Samrtphone nya skrg sdh hidup lagi ya mbak

    tosssss mba elll😀

Just comment, and I will comment you back...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s