Perang Sengit

PLAAAKKK!!!

Bunyi itu selalu membuat bulu kudukku berdiri. Jika sudah terdengar bunyi seperti itu, maka aku tahu perang telah dimulai. Semua persenjataan sudah dipersiapkan, dan pelatihan menghadapi peperangan yang sengit sudah diikuti. Dan sekarang saat itu datang.

Satu per satu pasukan kami berguguran. Terjatuh dan tersungkur tanpa ampun. Aku hanya bisa melihat mereka bertempur dari kejauhan. Aku tak bisa ikut berperang karena usiaku belum cukup. Ayahku adalah seorang jenderal yang gagah. Gerakannya gesit, dan selalu lolos dari perangkap musuh. Kata ibu, ayah memang terlahir sebagai seorang ksatria. Itulah sebabnya ibu jatuh cinta pada ayah.

Peperangan sengit masih berlangsung dari sejam yang lalu. Ayah masih gagah mengudara, menghujami sengatan-sengatan berbahaya yang memang senjata andalan kami untuk melawan musuh. Dan itulah yang ditakuti musuh. Ada kebanggaan bercampur kekhawatiran melihat ayah berperang melawan musuh sendiri, sementara pasukannya sudah banyak yang berguguran terkena jebakan lawan. Aku, ibu, dan istri-istri para pejuang yang gugur masih bersembunyi ditempat yang sama. Ketika aku berusah menenangkan ibu yang berteriak histeris ketika ayah terkena semburan gas beracun, aku mulai disodori rasa bertanggung jawab. Ayah tersungkur! Kulihat tangan musuh mengangkat tubuh ayah dengan sadis, memotong-motong kaki ayah dan tubuh ayah lainnya. Ibu pingsan, dan aku tak bisa berbuat banyak. Aku memang seorang pejantan yang payah. Melihat dengan jelas kekalahan ayah, kematian ayah, namun aku tak bisa berbuat banyak. Aku takut pada manusia, musuh ayah, musuh kami para nyamuk yang mereka sebut-sebut sebagai pembawa sumber penyakit.

Dari mulut salah satu manusia itu kudengar percakapan mereka yang sedikit membuatku geram.

“Nyamuk demam berdarah itu harus kita basmi, Pa. Mama tidak ingin melihat Peter juga terbaring lemah seperti Maria.”

“Tenang, Ma. Papa sudah menemukan obat pembasmi yang ampuh. Mama lihat kan begitu banyaknya bangkai nyamuk bertebaran dilantai karena semprotan gas ini?”

Sekarang aku paham bagaimana mereka membunuh kami. Aku memang tak punya air mata, namun aku tahu bahwa koloni kami sudah sangat mendarah daging untuk mereka benci. Para manusia hanya tahu bagaimana cara membunuh kami tanpa tahu bagaiman metamorfosa kami pun akibat ulah mereka. Mereka -para manusia- hanya tahu penyakit bintik merah pada kulit, demam tinggi, dan menyebabkan kematian adalah sebab dari sedotan jarum kami. Tapi mereka tak tahu bahwa kami ada dan berkembang biak pun karena mereka. Kami lahir dan berkembang biak dari kubangan air dalam botol minuman yang mereka buang sembarangan setelah berpesta. Kami hidup dalam lemari pakaian yang berjubel yang sudah bertahun-tahun tidak mereka bersihkan. Dan hidup kami memang bergantung pada mereka. Mereka yang melahirkan kami, tapi mereka tidak member kami makan. Apa salah jika kami menyedot sedikit darah mereka untuk mengisi perut kami? Jika itu salah, mengapa mereka menghidupkan kami dengan membuang kaleng, botol bekas, dan segala macam tempat yang kami sukai? Memang aneh manusia-manusia itu.

Saat ini aku memang belum dewasa, belum se-ksatria ayah. Tapi pada saatnya nanti aku akan meminta pertanggungjawaban para manusia yang sombong, yang lalai terhadap kelestarian lingkungan, yang menganggap sumber penyakit seratus persennya adalah kami -padahal bukan-.Jika memang mereka tidak menyadari itu, pada saatnya nanti aku dewasa dan sudah siap untuk berperang aku sendiri yang akan mengacaukan kehidupan mereka.

*Terinspirasi dari Rico De Coro milik Dewi Lestari, saya menuliskan cerita ini dalam versi lain: nyamuk. Alasan lain adalah karena saya pagi ini sudah membunuh sedikitnya 4 ekor nyamuk kebun belang-belang, entah nyamuk Aides Aigepty atau bukan. Beberapa sudah gemuk dan kemungkinan sudah menghisap banyak darah. Mereka berkeliaran karena tukang kebun saya baru sempat membersihkan halaman belakang yang hampir seluruh permukaannya seperti hutan. Ya, saya sendiri pun tidak punya kesadaran untuk membersihkannya sendiri:mrgreen:

7 thoughts on “Perang Sengit

  1. “Ya, saya sendiri pun tidak punya kesadaran untuk membersihkannya sendiri:mrgreen:
    jujur banget li….😛

    ya si… semua karena ulah kita kita jg….🙂
    tulisan yang sederhana tapi dalem… (y)

    hehehheeee…kesuwun mas

    • Nggak bisa. Nyamuk akan selalu ada, tidak bisa dimatikan. Tapi jumlahnya hanya bisa dikendalikan supaya tidak bertambah, bukan dikurangi.

      iyahhh…kalo kita bisa care sama lingkungan mungkin bisa berkurang ya kak😀

Just comment, and I will comment you back...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s