Limbung

Pagi-pagi di Sabtu hari aku sudah berada di meja kerjaku. Terlalu rajin untuk seorang karyawan sepertiku. Semalaman aku tak bisa tidur. Kujamah beberapa buku, namun tak kubaca hanya kubolak-balikan. Dan pagi ini waktuku habis untuk menikmati secangkir air putih hangat, dan mataku menerawang ke jendela yang ada di depan meja kerjaku.

Pagi ini aku limbung. Merasa memanggul seribu kuintal karung beras sendiri dan tak kujumpai seorangpun untuk kuberbagi. Seharusnya malam nanti menjadi malam istimewaku. Satu langkah yang akan kami lewati yang kemudian untuk berjalan ke arah yang sama dan tinggal disitu berdua selama mungkin. Ah, rasanya kebahagiaanku terusik hanya karena satu masalah saja. Pernahkah kau berada diantara dua sisi yang mengharuskan kau memihak keduanya secara bersamaaan tanpa mereka tahu seberapa beratnya beban kita? Dan mungkin pada akhirnya serba salahlah yang menjadi sandaran hati kita. Karena keadaan yang rumit selalu bersahabat disetiap langkahku, entah aku yang tak bisa menjadi dewasa ataukah hanya ujian dariNya agar aku semakin mantap menjalani kehidupanku sendiri atau yang mereka sebut mandiri? Entahlah. Aku hanya merpati kecil yang telah kehilangan induknya. Ketika aku mulai bisa terbang, aku belajar pada arah yang salah. Aku terbang melawan arus angin. Aku bernaung pada musim yang salah. Dan ketika aku sadar, aku tak bisa kembali lagi. Sekarang aku sudah mulai mengerti kehidupan, namun aku tak mengerti bagaimana membuat hidup menjadi berharga. Aku hanya membutuhkan dukungan, bukan malah anggapan aku boneka bahwa aku harus berada ditangan mereka semua, dimainkan sesuka hati mereka, dan dijatuhkan ketika aku sudah membosankan. Aku tak ingin seperti itu. Jika kalian paham untuk apa aku menangis, aku pun tak ingin menangis. Jika suatu saat aku harus berkorban untuk tidak memilih sisi manapun, apakah kalian akan paham dengan pengorbananku?

Aku lelah. Aku berjanji tahun ini aku tidak akan membenci 22 Desember. Tapi persoalan lain muncul justru bukan karena 22 Desember, tapi kalian membuatku kembali membenci 22 Desember. Dan aku katakan, disinilah keluargaku. Inilah rumahku yang sebenarnya, dalam dunia digital, tanpa alas dan tanpa atap tapi disinilah aku bisa berkeluh kesah tanpa ia menghakimiku.

6 thoughts on “Limbung

Just comment, and I will comment you back...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s