Acar Timun

Suara petir masih menggelegar ketika Tokyo menutup dengan paksa kedainya. Sore itu ia tak berencana menutup kedainya lebih awal. Jika tidak ada badai, ia biasa menutup kedainya hingga pukul sepuluh malam atau sampai seluruh makanan disana habis tak bersisa.

“Badai bulan ini tak seperti Desember tahun lalu,” lirih Tokyo dalam hati.

Badai yang tak pernah datang pada bulan-bulan Desember sebelumnya kini meratap dengan nanar di kota kecil pinggiran kota Tokyo. Kedai Tokyo tak pernah sesepi ini. Wanita ini tak pernah mengeluh tentang cuaca. Namun kali ini ia harus bergumul sendiri dengan kesepian dan badai semakin sempurna melengkapi kesendiriannya.

Wanita berusia dua puluh tujuh tahun dengan hidup bergantung pada kedai tua warisan dari orang tua angkatnya. Kedai yang menjajakan mie ramen itu selalu ramai dikunjungi oleh orang-orang pada jam menjelang tengah malam. Mereka menyukai masakan yang dibuat oleh tangan Tokyo. Namun bukan ramen yang menjadi tujuan utama mereka makan di kedainya. Tokyo yang memiliki kepandaian memasak berkat didikan dari orang tua angkatnya berhasil menciptakan kombinasi unik dan manis antara ramen dan acar timun. Setelah ramen, pengunjung yang datang akan menantikan hidangan selanjutnya: acar timun.

“Dia, pria itu. Badai akan mengekangnya. Dia tidak akan merindukan acar timunku lagi.”

Malam itu Tokyo gelisah. Bukan lantaran badai yang mendera, memaksanya menutup kedai miliknya. Ia jatuh cinta pada salah satu pelanggannya. Agung Priambodo, tenaga kerja asal Indonesia yang bekerja sebagai buruh di pabrik elektronik dekat kedainya telah mencuri hati Tokyo. Ia khawatir tak akan bertemu dengannya lagi. Pertemuan yang intens pada kedai ramen milik Tokyo membuat keduanya saling jatuh cinta. Malam itu Tokyo melamun hingga tertidur.

oOo

Tokyo yang manis,
Aku tahu kau membuka matamu dan membaca ini ketika mentari terbit. Mentari selalu indah selepas badai, seperti yang aku pelajari dari negaramu. Tentu kau heran mengapa aku menuliskan ini dan meminta Kenzhie memberikannya padamu. Alasannya adalah, aku malu untuk mengatakannya langsung padamu.

Tahukah kau bahwa aku menyukaimu sejak pertama aku datang ke kedai milikmu? Malam itu kedaimu sangat ramai, aku duduk dikursi dekat jendela dan sudah satu jam belum kau layani. Ketika kau menghampiriku untuk menanyakan pesanan, tangan kananmu sembari membawa botol cuka. Kau tak sadar itu. Lalu kau pikir itu pena untuk mencatat pesananku, tapi apa yang terjadi? Kau justru menekan botol cuka itu dan cuka menyembur ke wajahku. Kau sangat ketakutan, tapi aku tidak marah. Lalu kau berulang kali meminta maaf padaku dan kau menawariku untuk makan gratis setiap malam di kedaimu sesuka hatiku. Setiap malam aku selalu datang ke kedaimu dan aku paling suka acar timun buatanmu. Ketika aku memakannya, aku teringat dengan Ibuku. Acar timun yang sama yang aku makan terakhir kali ketika aku akan berangkat ke Jepang. Tapi bukan karena ingin makan gratis aku selalu datang ke kedaimu. Aku hanya mencari alasan agar selalu bertemu kau.
Tokyo yang cantik,
Namamu indah, seperti kota di negaramu. Awal tahun setelah tahun baru disini aku akan pulang ke Jakarta. Aku akan meminta restu orang tuaku untuk melamarmu. Maaf jika aku terlalu lancang untuk memintamu mendampingiku. Aku hanya percaya pada keyakinan hatiku, setelah kita sering bertemu, berbincang, dan tertawa bersama aku pun merasa sesuatu hal yang sama ada pada perasaanmu. Tunggu aku Tokyo, kita akan bersama membuat acar timun dan akan kita makan bersama pula.

Yang mencintaimu,

Agung

“Dimana Agung, Kenzhie?” suara lembut dengan penuh harapan keluar dari mulut Tokyo.

“Maaf ,Tokyo. Semalam setelah Agung memberikan surat itu kepadaku, ia terburu-buru pergi ditengah badai…”

“Lalu?”

“Dan pagi tadi ketika aku akan kemari, di stasiun aku melihat kerumunan orang. Kau tahu Tokyo? Agung tewas ditusuk seseorang. Polisi belum menemukan pelakunya. Tapi polisi menemukan setoples acar timun didekat tubuh Agung. Setelah ini aku akan mencari tahu lagi ke kantor polisi.”

Seperti tersengat aliran listrik, tubuh Tokyo lunglai tak berdaya. Seakan langit menghujami meteor panas ketubuhnya lalu tersungkur. Ketika matanya terbuka, ia melihat Agung sedang berdiri hangat didepannya dengan tangan kanan membawa setoples acar timun. Dengan tangan kiri yang lembut, Agung menggandeng tangan kanan Tokyo lalu mereka berjalan bersama entah kemana.

2 thoughts on “Acar Timun

Just comment, and I will comment you back...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s