Putri Cemara

Aku masih bersandar di kursi rotan tua peninggalan ayah. Dulu, aku sering menghabiskan waktuku bersama ayah di sini. Ayah memangkuku dan bercerita tentang kisah Putri Cemara dan Songshu si pemahat batang cemara.

Ah, rasanya sudah dari dua puluh tahun yang lalu putri cemara hidup diantara bagian berapa harga bawang saat ini atau siapa nantinya orang yang paling pantas menduduki RI 1. Bahkan saat ini terbesit keinginanku untuk mengenal putri cemara yang dulu selalu menjadi dongeng andalan ayah. Pikiranku menerawang pada anak gadis biduan binal di kampungku. Tapi ia tidak sebinal ibunya. Aku mengenalnya, hanya sebatas kenal. Suaranya merdu, senyumnya menawan, dan tentunya ia sopan. Kusebut ia putri cemara, dan tak ragu aku menyebut diriku si pemahat batang cemara. Sayangnya aku tak seberani si pemahat batang cemara. Aku tak berani memahat hatinya dengan namaku. Aku hanya bisa memandangnya dari teras kayu rumahku. Ketika ia melewati rumahku, atau aku yang melewati rumahnya. Aku pun sering mengintipnya sore hari ketika ia sibuk menyapu daun cemara kering yang berserakan di halaman rumahnya. Sering kudengar ia sambil bersiul atau bernyanyi. Suaranya sangat merdu.

Lalu, esoknya ketika aku berniat menyapanya, seorang pria berdandan necis, bersepatu kulit mengkilap, dan tatanan rambut yang klimis seperti perosotan kutu, membawa putri cemara masuk ke dalam mobil besar yang samar-samar kubaca Alphard.

“Minuk jadi artis! Minuk jadi artis!”

Maun, orang setengah gila di kampungku berteriak kesetanan seolah mengabarkan hal itu kepada seluruh warga kampung. Orang-orang berangsur menghampiri rumah reot yang ada di hadapanku.

“Sri, bener tho si Minuk jadi artis?” tanya seorang ibu yang berlari paling kencang dan tergopoh-gopoh sembari menyusui anaknya yang digendong.

“He’eh! Hebat tho? Anak siapa dulu… Biduan Sri… .” jawab ibunya setengah membusungkan dada.

Aku masih terdiam. Mulutku melongo hampir seperti celengan semar. Mungkin jika ada lalat yang kelimpungan terbang, ia akan mengira mulutku adalah sarangnya. Aku berbalik arah, lemas. Niatku untuk mendekati putri cemara sirna. Aku bergumam dalam hati, ternyata aku bukan si pemahat batang cemara. Aku menatap cermin. Hidungku kembang kempis. Sungguh aku dibuatnya limbung.

Putri cemaraku telah raib dibawa si perosotan kutu. Ah, bukan begitu kurasa. Putri cemaraku telah raib dibawa si pemahat batang cemara yang asli. Lalu aku melirik minyak kelapa di atas meja kecilku. Aku menyeringai, akulah si perosotan kutu yang sebenarnya.

Aku putuskan untuk menulis sesuatu agar hatiku tenang. Aku menulisnya pada lembaran kalbu dan sembari berdoa sesuatu. Aku menulisnya pada lembaran kalbu karena aku ingin menyimpan kisahku sendiri. Aku merasa tak pantas bersanding dengan putri cemara, sedang aku bukan si pemahat batang cemara. Aku tak bisa memahat namaku di hati Minuk, si putri cemara. Aku hanya si perosotan kutu dengan rambut klimis dan hidung yang selalu kembang kempis.

16 thoughts on “Putri Cemara

Just comment, and I will comment you back...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s