Sesulit Sabar, Semudah Amarah

Rinduku pada ujian Illahi terbayarlah sudah. Tanpa aku sadar Ia pun masih menyayangiku. Ia tahu aku tidak bisa menerima kelembutanNya, maka Ia mengasihiku dengan ujian-ujian itu. Hanya dapat berterima kasih, aku percaya itu membuat aku dan Dia semakin dekat. Batasannya adalah Ia Sang Pencipta, dan aku yang Ia ciptakan. Maka aku tak pantas memilih jalan lurus tanpa terjal dan bergelombang untuk hidupku. Ia pilihkan jalan berliku untukku supaya aku bisa belajar, bahwa tak ada yang mudah yang ingin aku dapatkan. Bahwasanya di setiap jalan yang terjal pun bergelombang, aku menemukan dua pintu yang bersebelahan. Pintu pertama kubuka dengan mudah, aku masuk ke dalamnya. Hanya ada duri dan bara api yang serta merta menghujamku dan membakar tubuhku. Pintu ke dua begitu sulit kubuka. Ia tak mau terbuka. Tapi aku tahu, Sang Penciptaku berbisik lirih. Aku tidak terluka, dan perlahan aku terbiasa mencoba untuk membukanya. Aku bahkan tidak merasakan sakit yang luar biasa sekalipun tanganku berdarah karena pengait pintunya telah mengarat. Dan aku tahu, mungkin di dalam sana ada kejutan yang luar bisa untukku.

One thought on “Sesulit Sabar, Semudah Amarah

Just comment, and I will comment you back...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s