Selembut Onak

“Tolong jangannnn, To…longgg… Aku mo..hoonn… To…”

Suaranya tercekik di antara lenguh panjang seorang pria berbadan kekar. Ia tak tahu siapa pria itu. Ia tak bisa melihat wajah pria itu dalam keremangan. Ia tak ingat apa-apa. Ia tak mengenal betul, bahkan berkenalan pun tak pernah. Yang ia ingat adalah pria itu menyekapnya sebelum membran keperawanannya jebol dan menyakiti sampai ulu hatinya.

***

“Kamu berubah Ran, seratus delapan puluh derajat. Kau tak pernah menghargaiku sekarang!”

Suara seorang pria setengah berteriak di sebuah kamar kos berukuran empat kali lima meter. Di hadapannya seorang wanita yang terlihat seumuran dengannya menangis tersedu. Entah apa yang mereka perdebatkan. Terlihat pria itu berdiri tegap di hadapan wanita yang duduk menunduk pada ujung ranjang yang tak sebegitu lebar -dengan telanjang setengah dada.

“Kau bahkan tak lagi mau melayaniku. Kau sudah tidak bergairah?”

Pria itu semakin geram. Dipakainya kembali kemeja ungu bergaris. Pria itu merapikan bajunya, bercermin. Wanitanya masih tersedu. Ia memeluk pria itu dengan lembut dari balik punggungnya. Maafkan aku, Edo. Kini batinnya yang tersedu.

“Aku sudah muak, Ran. Katamu kau menyayangiku. Tapi apa? Apa kau sudah tak menganggapku sebagai kekasihmu lagi?”

“Aku…”

“Apa? Kau ingin mengatakan bahwa kau tak siap? Lagi? Alasan!”

“Edo, apa kau mencintaiku hanya untuk bercinta? Memuaskan nafsumu dengan alasan cinta? Meremas dan menjilat tubuhku sampai titik klimaksmu lalu orgasme? Sebatas keluar manikah cintamu padaku?”

Kini Edo yang tercekat. Ia tak pernah mengira jika Ran, kekasihnya bisa menyerbunya dengan kata-kata yang membuatnya kaku dan mematung.

“Ran, dengar…”

“Kau muak, aku pun muak Edo! Kau tak pernah mau tahu apa yang aku rasakan selama ini. Kau hanya bisa berteriak, melenguh, lalu kemudian menghunjamiku dengan ratusan bahkan ribuan nafsu setanmu. Kau tak paham bagaimana mencintai seorang wanita, bahkan melindunginya pun kau tak mampu. Itukah yang namanya cinta?”

“Kau kenapa, Ran? Kau menyesal melakukan ini semua? Bukankah kau pun menikmatinya?”

“Aku terpaksa menikmati tubuhmu. Mengulum ranum bibirmu. Aku terpaksa! Kau menjadikanku boneka pemuas nafsumu. Kau tak mencintaiku, bukan? Kau menyibakkan kerudungku, menelanjangiku dengan gairahmu. Kau memaksaku menjadi pecandu persetubuhan ini. Bahkan diriku saja sudah tak kukenali lagi. Kau menanam onak pada hati yang masih bersih. Kau setan!”

“Kau bilang aku setan? Kau sendiri apa? Bidadari? Malaikat? Atau orang polos yang lembut yang terpaksa atau dipaksakan rusak oleh pria bejat bernama Edo? Oh ya, aku lupa. Kau memang polos sebelum aku merayumu bersetubuh. Jika begitu kau benar. Aku pria bejat.”

“Edo, bukan maksudku… Maaf. Aku…”

“Sudahlah, Ran. Aku tak ingin memperpanjang masalah ini lagi. Jika kau ingin memperbaiki dirimu, tinggalkan aku. Aku tak berhak menjadi onak dalam dagingmu. Kau begitu lembut. Maaf aku harus begini…”

***

Tiga bulan sebelumnya.

“Dari mana saja kau Odi? Mama mencarimu dari tadi. Berkali-kali aku menelponmu, tapi ponselmu nggak aktif.”

“Tadi ada kelas tambahan dari dosen. Kebetulan ada teori yang ingin diuji coba. Kamu tahu nggak, Do? Ternyata saudara kembar seperti kita bisa melakukan telepati. Mungkin kamu tidak menyadarinya. Tapi suatu saat nanti kamu juga bisa merasakan seperti yang aku rasakan.”

“Maksudmu?”

“Edo, kita kan kembar. Apa yang kamu rasakan, aku juga merasakan. Begitu juga sebaliknya. Jadi, sebagai saudara kita juga harus mau berbagi dengan saudara sendiri. Seperti yang aku pelajari dalam praktek tadi.”

“Aku semakin nggak ngerti, Di.”

“Sudahlah. Tidak usah kau pikirkan. Aku mau mandi dulu. Oh ya, tadi aku ketemu pacarmu. Siapa namanya? Ran? Ya, dia cantik sekali. Kau beruntung mendapatkannya, sayang dia tidak mengenaliku tadi.”

4 thoughts on “Selembut Onak

  1. WAW!!

    yg perkosa si Rani itu Odi?? keren mbak, bagus, klimaksnya dapet. sedikit saran aja sih, biar tulisan di blognya jadi rapi, sebelum di publish di atur dulu pake justify biar rata kanan kirinya. pasti bakal lebih cantik lagi.🙂

Just comment, and I will comment you back...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s