Belajarlah (Dahulu) Sebelum Menilai

Sebelum membaca postingan ini, diharapkan pembaca sekalian membersihkah hati dari dugaan apapun. Karena yang saya posting disini bukanlah bermaksud menyudutkan yang dimaksud. Karena yang saya ingin hanyalah berbagi.

Well, inilah kisahnya.
Beberapa minggu yang lalu saya pernah mendapat singgungan, “sayang kamu hanya lulusan D3.” Sudah bisa ditebak? Ya! Apa salahnya kalau saya hanya lulusan D3? Apa salahnya saya belum menyandang gelar ‘sarjana’?
Menilik masa lalu. Saya memang bukan termasuk salah satu pelajar berprestasi. Dari SD, saya tidak pernah menguasai juara kelas. Paling banter saya cuma jadi juara 2, itu pun bertahan hanya beberapa kali saja selebihnya…?? Ya begitulah. Saya juga tidak pernah (di)terpilih untuk mewakili sekolah dalam perlombaan apapun. Guru-guru tidak pernah mengenal saya karena prestasi saya. Dapat dibayangkan seperti apa saya tempo dulu?
Namun ada yang patut dibanggakan, setidaknya untuk saya sendiri. Keberuntungan. Ya, saya namai itu keberuntungan. Bermula saat masih TK. Saya dengan bangga memakai kaus hadiah lomba mewarnai yang diselenggarakan sebuah majalah. Emmm, kalau itu sudah pasti biasa. Tapi keberuntungan itu selalu mengikuti. Saat lulus SD, nilai EBTANAS saya tidak begitu ‘wah’. Saat-saat harus mendaftar dan melanjutkan ke jenjang berikutnya saya was-was tidak bisa diterima di SMP favorit. Tapi ibu meyakinkan saya. Hingga pengumuman terakhir saya tidak mendaftar ke sekolah lain tapi ternyata toh saya beruntung, saya diterima di SMP no 1 paling bergengsi di kota saya waktu itu. Keberuntungan berlanjut sewaktu lulus SMP. Dengan cerita yang sama, saya diterima di SMA favorit di kota saya.
Masa-masa SMA sekalipun saya tidak pernah mendapat nilai 100 (kecuali kalau nyontek)😀. Ssstt, guru fisika saya pernah salah menilai saya lho. Memasukan saya ke dalam kelompok fisika yang akan diikutkan olimpiade di Kalimantan saat itu gegara nilai fisika saya 8. Padahal baru sekali saya dapat nilai bagus, itupun karena nyontek. Heheheee…. Seringnya untuk mapel eksak pasti nilai saya selalu di bawah 6. Mengerikan bukan? Satu-satunya mapel yang saya suka hanya yang berhubungan dengan sastra dan seni. Tapi saat itu kurikulum berbeda. Lebih dominan untuk pelajan sosial maupun eksak. Alhasil, nilai raport sama sekali tidak memuaskan! Bahkan beberapa kali saya dapat merah di raport. Saat SMA saya belum pernah dapat ranking sampai lulus. Tapi, keberuntungan datang lagi. Pertengahan tahun saat kelas 2, ada tawaran pendaftaran universitas jalur khusus. Waktu itu namanya PMDK (lupa kepanjangannya). Yang jelas PMDK adalah jalur khusus penerimaan calmaba tanpa test, hanya cukup melihat nilai raport mapel khusus dengan standar yang ditetapkan. Awalnya saya pesimis untuk ikut. Apalagi saat itu keuangan keluarga sedang sulit. Jika nanti saya tidak terbawa seleksi, bukankah sangat disayangkan uang formulir pendaftaran? “Gak apa-apa, coba aja daftar. Siapa tahu kamu beruntung.” Lagi-lagi ibu menyemangati saya (sungguh ingin memeluk dan mencium ibu saat ini). Akhirnya nurutlah saya. Dan berawal dari sini mengapa saya memilih hanya sampai jenjang diploma saja, bukan sarjana. Saya berpikir ke depan. Jika saya mengambil sarjana, ibu akan keluar banyak uang. Karena menurut cerita teman-teman ibu yang saat itu anaknya kuliah dengan jenjang sarjana membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Dari keselengekan saya, saya berdebat dengan ibu. Saya kekeuh ambil diploma saja. Tapi ibu tidak tahu alasan saya kenapa. Saat itu saya pertimbangkan juga kakak saya (yang juga hanya mengambil diploma). Dengan basmallah, saya contreng jurusan yang saya pilih. Selang beberpa bulan, pengumuman datang. Saat itu saya sedang terkapar tidak berdaya di rumah sakit. Ahh, sebel kalau ingat itu. Sahabat-sahabat saya datang menjenguk saya. Salah satunya berkata, “hari ini pengumuman, tapi kamu….” Saya pasrah dengan ekspresi wajah sahabat saya itu. Yah, namanya saja sudah usaha. Biar bagaimanapun Tuhan yang menentukan. Lalu sahabat saya memberikan sebuah amplop, dibuka oleh ibu. Dannn…. ibu memeluk saya. Keberuntungan belum beranjak dari saya, Alhamdulillah.
Sampai tiba saatnya saya lulus SMA dan registrasi di kampus dengan biaya registrasi hanya Rp 1.240.000 dan sama sekali tidak ada embel-embel uang gedung dan yang lain. Puji syukur, Alhamdulillah saya tidak membebani orang tua saya. SPP per semester saat itu hanya Rp 800.000 dan akan menyusut sampai semester terakhir jika saya bisa lulus tepat waktu. Saat kuliah pun nilai saya tidak pernah fantastis, tetapi ada kemajuan. Paling jelek nilak saya di transkip nilai adalah D. Tapi beruntung, saya bisa lulus kuliah kurang dari tepat waktu. Artinya kurang dari 3 tahun saya lepas dari beban orang tua saya. Pada saat masih menginjak semester 2 ibu saya ‘berpulang’. Dan saya masih bisa melanjutkan kuliah saya tanpa harus bekerja karena ternyata ibu saya sudah memperhitungkan dan memepersiapkan tabungan pendidikan untuk saya dan kakak saya ditambah beasiswa akadmik dari universitas. We love you, Ibu. Always🙂
Keberuntungan lagi. Sebelum wisuda, saya sudah diterima kerja. Awalnya saya mendaftar bagian marketing. Tapi begitu baiknya perusahaan tersebut melihat ijazah saya. Kemudian saya dibattlekan dengan para lulusan sarjana. Ciut lagi nyali saya yang hanya sekedar diploma. Tapi mukjizat Tuhan datang lagi. Saya mengalahkan mereka-mereka (para sarjana). Dan dengan gaji pertama saya, saya membiayai wisuda saya. Alhamdulillah…
Hingga waktu terus bergulir. Saya berpindah-pindah kerja untuk menggali potensi saya. Dan lebih alhamdulillah lagi sampai sekarang saya hanya menginjakkan potensi saya di tiga perusaahaan mulai dari saya lulus kuliah hanya satu saya mengalami proses seleksi. Sisanya? Kemampuan beradaptasi, bersosialisasi, dan berkomunikasilah yang bertindak.
Meskipun saya belum terpilih untuk mengabdi pada negara sesuai impian ayah saya, ataupun bekerja pada dunia perbankan sesuai keinginan ibu saya, setidaknya saya bersyukur. Keletihan, keluhan, keemosian yang saya bawa adalah bukti dimana tanggung jawab saya sangat besar saat ini. Ya! Saat ini saya mengabdi pada salah satu perusahaan multinasional nomor 6 sedunia yang berpusat di Belanda. Dan dari sini saya belajar untuk bangga. Meskipun prestasi saya jongkok, saya hanya lulusan diploma, setidaknya keberuntungan menuntun saya pada tanggung jawab yang sangat besar (meskipun saat ini saya ingin sekali resign).
Dan keberuntungan lain adalah, saya selangkah lebih maju dari mereka yang masih sendiri🙂
Alhamdulillah wasyukurilah…

Pada akhirnya, percayalah… Jika tak ada lagi (manusia) yang menghargai dan menyayangimu, masih ada Tuhan yang memeluk dan menuntunmu.
Salam damai🙂

5 thoughts on “Belajarlah (Dahulu) Sebelum Menilai

Just comment, and I will comment you back...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s