Penawar Perawan

Petang masih menduduki singgasana
Ia masih memenangkan sang langit untuk berdiam di sana
Sejenak
Belum menggelap, hanya samar antara hitam dan merah jingga
Di ujung gang termangu gadis berpangku tangan
Limbung meratap pilu
Mengharap obat penawar rindu
Nyatanya yang datang lelaki berpedang sembilu yang penuh nafsu
Menawar keperawanannya dengan tawa bertalu-talu
Hanya seharga seikat rambut

Just comment, and I will comment you back...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s