Kepada (para) Suami

Sesiapa saja yang memuliakan istrinya untuk dirinya sendiri dan (atau) di hadapan orang lain maka sesungguhnya ia telah membahagiakan istrinya sebesar ia membelikan permata berlian.

Kepada engkau yang telah memilih wanita baik-baik menjadi istrimu, maka baikkan dia selalu di mata hatimu. Kau tak akan pernah bisa marah jika kau bisa memperbaiki dirimu untuknya. Kau tak akan pernah menemukan istrimu lebih memilih ponselnya ketimbang suaminya jika kau bisa membagi perhatianmu lebih untuknya.

Apalagi yang diharapkan selain kebahagiaan yang hakiki dalam rumah? Tak pernahkah terpikir olehmu ketika disela kesibukanmu atau bahkan ketika kau pulang dari urusanmu sebuah pelukan dan ciuman kecil nan hangat sangat didambakan istrimu? Hal sepele namun berdampak besar. Istrimu akan banyak bicara dan menceritakan kejadian-kejadian seharian penuh dengan semangat, namun kau sering menganggapnya angin lalu dan bahkan kau mengatakan istrimu cerewet. Ia tak akan marah meskipun dalam hatinya kecewa, padahal ia sedang menghiburmu.
Istrimu akan bermanja di pelukmu ketika kau berbaring di ranjang. Kau sering menganggapnya kolokan. Ia tak akan sedih meskipun dalam hatinya kecewa. Ia hanya ingin menenangkan hatimu setelah seharian kau lelah bekerja.
Dan ketika ia lebih memilih ponselnya ketimbang dirimu, kau pasti akan selalu marah. Dia pun akan ikut marah meskipun dia sangat bahagia kau begitu. Tahukah kau mengapa? Ia lebih senang dengan ponselnya karena kau sibuk dengan lelahmu sendiri. Ia lebih senang mencurahkan isi hatinya di socmed karena kau sudah tak bisa lagi menjadi buku diarynya. Dan ketika kau menyalahkannya atas semua itu, ia hanya berpikir kau telah memperhatikannya.

Kau yang sedang duduk termangu membaca ini, bukan saatnya menghujat kata demi kata. Apa yang tertulis disini mungkin mewakili dari sejuta kisah para istri di luar sana. Tidak semua istri bernasib sama. Namun dengan tidak berniat apapun, sekarang berbaliklah. Lihat istrimu yang tertidur pulas tanpa dekapan hangatmu. Apa ia akan meminta itu darimu? Tidak. Namun ia berharap kau tahu keinginannya. Bukan emas, berlian, atau mobil mewah. Tapi perhatian dan kasih sayangmu yang lebih penting. Jika kau jauh darinya, ambil ponselmu. Luangkan lima menit saja untuk tahu keadaannya.
Itu saja.

Salam,
Nada Hati

2 thoughts on “Kepada (para) Suami

Just comment, and I will comment you back...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s