Teruntuk Lentera…

Teruntuk Lentera, anakku…

Sudah tumbuh besar kau rupanya, Nak. Tubuhmu terus memanjang seperti ayahmu, dan wajahmu hampir menyerupaiku -bulat dan tembam-
Tak pernah aku bayangkan, Tuhan mengirimku hadiah yang begitu mahal. Bahkan lebih mahal dari apapun benda terbagus yang pernah ada di dunia ini.  Itu sebabnya kau kuberi nama Adia, yang dalam bahasa Afrika artinya hadiah dari Tuhan. Semenjak kau ada di rahimku, tak pernah sekali pun kau membuatku susah, tak pernah kau rewel di dalam sana, dan kau selalu kuat kuajak mencari recehan dari pagi bahkan tak jarang pula hingga larut. Kau ingat? Kita sering berjalan pada riuh deras air hujan, aku menghangatkanmu lewat tanganku yang kutahu itu pun tak cukup hangat mendekap seluruh bagian tubuhmu disana. Lagi-lagi kau tak membuatku susah, kau sangat luar biasa. Dan kata kedua yang kusematkan di namamu ialah Faiq. Dan begitu kau hadir di tengah-tengah kami, kau membuat ayahmu bersujud. Dan pertama kalinya kudengar ayahmu mengumandangkan adzan. Tak henti-hentinya ia menciumimu. Dia amat menyayangimu, Nak.
Dan juga kakekmu. Kau perlu tahu, hati kakekmu adalah sekeras-kerasnya baja dan sedingin-dinginnya es. Namun semua berubah, semua terlebur seketika tangismu membahana di telinga kakekmu. Hati kakekmu sekarang selembut-lembutnya kapas dan sehangat-hangatnya mentari pagi. Ia pun begitu sangat menyayangimu. Keadaan telah berubah. Kau bagai cahaya terang yang memudarkan semua kegelapan kami. Dan kata ketiga yang kusematkan dinamamu adalah Lentera. Kita sudah melewati masa yang sulit, setelah sembilan bulan kita bersama dalam darah yang sama, nadi yang sama, dan hati yang berdekatan, mungkin kau tahu betapa aku sangat mencintai ayahmu melebihi nyawaku sendiri. Kau pasti tahu aku tak akan pernah mau meninggalkan dan ditinggalkan ayahmu. Kau tahu, aku dan ayahmu melewati banyak sekali rintangan. Kaki kami sudah mengapal karena setiap jalan yang kami lewati pasti terjal dan berkerikil. Air mata kami pun sudah mengering, karena setiap tempat yang kami kunjungi selalu menerbangkan debu yang hampir membuat buta mata kami. Kau sangat tahu itu. Dan karena itu kata terakhir yang kusematkan dinamamu adalah Purbawisesa. Penggalan satu kata dari nama ayahmu.

Nak, cepat sekali kau tumbuh. Perkembanganmu sungguh luar biasa. Biarlah orang berkata kau anak sapi, karena hanya sekejap saja kau kususui. Biarlah orang mencemooh semua keagresifanmu, mencela semua aktivitasmu, dan membandingkanmu dengan anak lain. Biarkan itu, Nak. Yang mesti kau yakini adalah darahmu. Kau terlahir dari anak manusia, bukan darah sapi. Kau dilahirkan untuk tujuan mulia, karena setiap manusia punya kodrat yang mulia. Kau ada karena kami menginginkamu, memohon dengan sujud kami di setiap sepertiga malam kami. Dan kau perlu yakini, kau anak hebat, kau anak kami, kau tumbuh selayaknya usiamu. Kau bukan anak sapi, kau tidak menyusahkan kami, dan kau bukan anak yang tidak istimewa. 

Nak, meskipun kau tidak dilahirkan di tengah keluarga yang selalu dikelilingi hingar bingar kemewahan, aku tak akan membiarkanmu kekurangan suatu apapun. Aku dan ayahmu bukan berasal dari keluarga juragan, tapi kami punya impian yang istimewa. Kami punya adat untuk membesarkanmu dengan tanggung jawab. Kami punya adat untuk mendidikmu, bahwa hidup mulia berawal dari kerja yang sangat keras. Kami pun punya adat untuk menyayangimu, bahwa kami berhak membuat hidupmu layak, memberimu kesempatan untuk tumbuh hingga dewasa pada waktunya.

Nak, pada awalnya kau akan sulit menerima didikan kami. Aku paham, karena aku pernah ada pada usiamu saat ini. Tapi kami berharap, kau tak akan pernah mengesampingkan akal dan hatimu dan lebih memilih egomu. Biarkan ia menari, mengombang-ambing perasaanmu. Tapi berpikirlah, tak akan pernah kami menjerumuskanmu pada jalan yang salah. Kami akan selalu cerewet, dan pastinya kau akan selalu tidak nyaman dengan itu. Tapi masuklah ke dalam hatimu yang paling dalam, ada kami di dalam sana yang selalu menginginkan yang terbaik untukmu.

Nak, nanti jika pada akhirnya aku telah dulu pulang ke Rahmatullah, biarkan aku tenang dengan kepergianku. Berikan cahaya untukku disana, seperti namamu -Lentera. Buat aku selalu tersenyum, sebagaimana aku tak pernah membiarkan seorangpun menyakitimu. Buatlah semuanya menjadi lebh baik lagi, karena harapan abadiku adalah kita dapat berkumpul lagi disana. Tempat terindah yang Tuhan janjikan pada umatNya yang patuh dan taat. Dan jagalah ayahmu untukku.
Aku mempercayaimu, Lenteraku…

Adia Faiq Lentera Purbawisesa

Adia Faiq Lentera Purbawisesa

*Karena setiap sebab pasti ada akibat, setiap yang datang pasti akan pulang, setiap yang ada pasti akan tiada, meskipun itu entah kapan…

Just comment, and I will comment you back...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s