Hai…!

Hai, Nak! Apa kabarmu di perutku hari ini? Kenapa semakin tua kau jarang menendangku lagi? Apa karena kau tahu aku terlalu lelah untuk mencari hidup?

Hai, Nak! Kau tahu sudah berapa lama kau bermain di perutku? Kau rindu kami? Tersenyumlah…

Hai, Nak! Amazing sekali beberapa week lagi aku segera bisa mendengar rengekanmu dan itu lebih menggembirakan ketimbang bunyi motor baru ayahmu.

Hai, Nak! Sehat-sehat yah. Baik-baik dulu disitu. Nanti juga kau akan lihat seberapa manis senyum emakmu ini. Jangan khawatir, kau tak pernah jadi penghambat apapun untuk emakmu ini.

Salam peluk cium dari emak kau yang cantik :-*

Iklan

EXCITED

Waoowww…. Alhamdulillah, 28 weeks persis usiamu nak hari ini. What can inu do for you? Everything, darl… muach muach muaaacchh….
Pertama, euuuummmm…. Ibu bersyukur kamu super hebat dan kuat. Luar biasa memberi ibu kekuatan sampai sejauh ini. Pastinya kita lalui hari-hari yang melelahkan bersama. Sejak ibu tahu kau sudah duduk di rahim ibu saat usiamu 4 minggu, saat itu pula kita melakukan apapun bersama. Kau jadi sahabat ibu, ibu jadi sahabatmu, dan ayah? Tugas ayah paling gampang. Elus-elus kamu dan pijit-pijit punggung ibu kalau kita abis melakukan hal yang luar biasa. Hahahaaa…
Darl, pagi ini ibu mulai sibuk nge-list kebutuhanmu kelak. Ibu search sana sini, liat-liat popok lucu-lucu di online shop. Ahhhh, ibu nggak peduli ini hari apa dan seberapa banyak tumpukan kertas yang lagi melototin kita…. hahahhaaa….
Oh ya, sayang… kamu nggak keberatan kan kalau ibu semacam macan betina yang matanya ijo liat mangsa? Kalau di online shop begini, ibu bisa deh abisin gaji ayah buat beli-beli kebutuhanmu… hehheee…. tapi nggak deh, kasihan ayah nanti nggak bisa beli bensin buat kerja 😀
Ibu nge-list seperlunya kamu dulu aja yah… nanti kalau kamu udah keluar, pilih sendiri deh baju yang kamu suka :*
Tapi satu yang perlu kamu ingat yah, Darl… ayah dan ibu akan melakukan apa saja asal kamu bahagia, tapi ayah dan ibu nggak sama yah dengan ayah-ibu teman-teman kamu. Kebahagiaan kita adalah kebersamaan, dan bukan uang 🙂
Love you, darl… sehat-sehat ya, tangan ibu udah kepingin peluk kamu. Dan ayah udah kepingin ngajak kamu main bola :*

Belajarlah (Dahulu) Sebelum Menilai

Sebelum membaca postingan ini, diharapkan pembaca sekalian membersihkah hati dari dugaan apapun. Karena yang saya posting disini bukanlah bermaksud menyudutkan yang dimaksud. Karena yang saya ingin hanyalah berbagi.

Well, inilah kisahnya.
Beberapa minggu yang lalu saya pernah mendapat singgungan, “sayang kamu hanya lulusan D3.” Sudah bisa ditebak? Ya! Apa salahnya kalau saya hanya lulusan D3? Apa salahnya saya belum menyandang gelar ‘sarjana’?
Menilik masa lalu. Saya memang bukan termasuk salah satu pelajar berprestasi. Dari SD, saya tidak pernah menguasai juara kelas. Paling banter saya cuma jadi juara 2, itu pun bertahan hanya beberapa kali saja selebihnya…?? Ya begitulah. Saya juga tidak pernah (di)terpilih untuk mewakili sekolah dalam perlombaan apapun. Guru-guru tidak pernah mengenal saya karena prestasi saya. Dapat dibayangkan seperti apa saya tempo dulu?
Namun ada yang patut dibanggakan, setidaknya untuk saya sendiri. Keberuntungan. Ya, saya namai itu keberuntungan. Bermula saat masih TK. Saya dengan bangga memakai kaus hadiah lomba mewarnai yang diselenggarakan sebuah majalah. Emmm, kalau itu sudah pasti biasa. Tapi keberuntungan itu selalu mengikuti. Saat lulus SD, nilai EBTANAS saya tidak begitu ‘wah’. Saat-saat harus mendaftar dan melanjutkan ke jenjang berikutnya saya was-was tidak bisa diterima di SMP favorit. Tapi ibu meyakinkan saya. Hingga pengumuman terakhir saya tidak mendaftar ke sekolah lain tapi ternyata toh saya beruntung, saya diterima di SMP no 1 paling bergengsi di kota saya waktu itu. Keberuntungan berlanjut sewaktu lulus SMP. Dengan cerita yang sama, saya diterima di SMA favorit di kota saya.
Masa-masa SMA sekalipun saya tidak pernah mendapat nilai 100 (kecuali kalau nyontek) :D. Ssstt, guru fisika saya pernah salah menilai saya lho. Memasukan saya ke dalam kelompok fisika yang akan diikutkan olimpiade di Kalimantan saat itu gegara nilai fisika saya 8. Padahal baru sekali saya dapat nilai bagus, itupun karena nyontek. Heheheee…. Seringnya untuk mapel eksak pasti nilai saya selalu di bawah 6. Mengerikan bukan? Satu-satunya mapel yang saya suka hanya yang berhubungan dengan sastra dan seni. Tapi saat itu kurikulum berbeda. Lebih dominan untuk pelajan sosial maupun eksak. Alhasil, nilai raport sama sekali tidak memuaskan! Bahkan beberapa kali saya dapat merah di raport. Saat SMA saya belum pernah dapat ranking sampai lulus. Tapi, keberuntungan datang lagi. Pertengahan tahun saat kelas 2, ada tawaran pendaftaran universitas jalur khusus. Waktu itu namanya PMDK (lupa kepanjangannya). Yang jelas PMDK adalah jalur khusus penerimaan calmaba tanpa test, hanya cukup melihat nilai raport mapel khusus dengan standar yang ditetapkan. Awalnya saya pesimis untuk ikut. Apalagi saat itu keuangan keluarga sedang sulit. Jika nanti saya tidak terbawa seleksi, bukankah sangat disayangkan uang formulir pendaftaran? “Gak apa-apa, coba aja daftar. Siapa tahu kamu beruntung.” Lagi-lagi ibu menyemangati saya (sungguh ingin memeluk dan mencium ibu saat ini). Akhirnya nurutlah saya. Dan berawal dari sini mengapa saya memilih hanya sampai jenjang diploma saja, bukan sarjana. Saya berpikir ke depan. Jika saya mengambil sarjana, ibu akan keluar banyak uang. Karena menurut cerita teman-teman ibu yang saat itu anaknya kuliah dengan jenjang sarjana membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Dari keselengekan saya, saya berdebat dengan ibu. Saya kekeuh ambil diploma saja. Tapi ibu tidak tahu alasan saya kenapa. Saat itu saya pertimbangkan juga kakak saya (yang juga hanya mengambil diploma). Dengan basmallah, saya contreng jurusan yang saya pilih. Selang beberpa bulan, pengumuman datang. Saat itu saya sedang terkapar tidak berdaya di rumah sakit. Ahh, sebel kalau ingat itu. Sahabat-sahabat saya datang menjenguk saya. Salah satunya berkata, “hari ini pengumuman, tapi kamu….” Saya pasrah dengan ekspresi wajah sahabat saya itu. Yah, namanya saja sudah usaha. Biar bagaimanapun Tuhan yang menentukan. Lalu sahabat saya memberikan sebuah amplop, dibuka oleh ibu. Dannn…. ibu memeluk saya. Keberuntungan belum beranjak dari saya, Alhamdulillah.
Sampai tiba saatnya saya lulus SMA dan registrasi di kampus dengan biaya registrasi hanya Rp 1.240.000 dan sama sekali tidak ada embel-embel uang gedung dan yang lain. Puji syukur, Alhamdulillah saya tidak membebani orang tua saya. SPP per semester saat itu hanya Rp 800.000 dan akan menyusut sampai semester terakhir jika saya bisa lulus tepat waktu. Saat kuliah pun nilai saya tidak pernah fantastis, tetapi ada kemajuan. Paling jelek nilak saya di transkip nilai adalah D. Tapi beruntung, saya bisa lulus kuliah kurang dari tepat waktu. Artinya kurang dari 3 tahun saya lepas dari beban orang tua saya. Pada saat masih menginjak semester 2 ibu saya ‘berpulang’. Dan saya masih bisa melanjutkan kuliah saya tanpa harus bekerja karena ternyata ibu saya sudah memperhitungkan dan memepersiapkan tabungan pendidikan untuk saya dan kakak saya ditambah beasiswa akadmik dari universitas. We love you, Ibu. Always 🙂
Keberuntungan lagi. Sebelum wisuda, saya sudah diterima kerja. Awalnya saya mendaftar bagian marketing. Tapi begitu baiknya perusahaan tersebut melihat ijazah saya. Kemudian saya dibattlekan dengan para lulusan sarjana. Ciut lagi nyali saya yang hanya sekedar diploma. Tapi mukjizat Tuhan datang lagi. Saya mengalahkan mereka-mereka (para sarjana). Dan dengan gaji pertama saya, saya membiayai wisuda saya. Alhamdulillah…
Hingga waktu terus bergulir. Saya berpindah-pindah kerja untuk menggali potensi saya. Dan lebih alhamdulillah lagi sampai sekarang saya hanya menginjakkan potensi saya di tiga perusaahaan mulai dari saya lulus kuliah hanya satu saya mengalami proses seleksi. Sisanya? Kemampuan beradaptasi, bersosialisasi, dan berkomunikasilah yang bertindak.
Meskipun saya belum terpilih untuk mengabdi pada negara sesuai impian ayah saya, ataupun bekerja pada dunia perbankan sesuai keinginan ibu saya, setidaknya saya bersyukur. Keletihan, keluhan, keemosian yang saya bawa adalah bukti dimana tanggung jawab saya sangat besar saat ini. Ya! Saat ini saya mengabdi pada salah satu perusahaan multinasional nomor 6 sedunia yang berpusat di Belanda. Dan dari sini saya belajar untuk bangga. Meskipun prestasi saya jongkok, saya hanya lulusan diploma, setidaknya keberuntungan menuntun saya pada tanggung jawab yang sangat besar (meskipun saat ini saya ingin sekali resign).
Dan keberuntungan lain adalah, saya selangkah lebih maju dari mereka yang masih sendiri 🙂
Alhamdulillah wasyukurilah…

Pada akhirnya, percayalah… Jika tak ada lagi (manusia) yang menghargai dan menyayangimu, masih ada Tuhan yang memeluk dan menuntunmu.
Salam damai 🙂

Pesan

Selama waktu masih berputar, selama senja masih membias cahaya, selama jantung masih berdetak, selama jemari masih bisa bergerak, aku -pemilik Nada Hati- tak akan pernah hilang meskipun beberapa waktu kusia-siakan berputar tanpa produktivitas. Jangan pernah kehilanganku selagi aku masih hidup, dan memang terus akan hidup meskipun bukan di dalam raga ini.

Salam…

Karunia Pertama

Tuhan tahu jalan kita kemana….

Hampir dua bulan usia pernikahan saya dan suami saya. Alhamdulillah lancar meskipun ada beberapa kendala yang sempat memeras otak dan air mata kami setelahnya. Sungguh luar biasa kecintaan Tuhan kepada umatNya. Ia Maha Tahu kemana jalan yang tepat untuk kita. Saat niat baik atas namaNya kita jalankan, maka seribu mukjizat akan Ia berikan pada kita.

Saya bukti atas mukjizat kuasa Tuhan. Menjelang pernikahan, saya adalah salah satu karyawan yang diberhentikan sepihak oleh salah satu perusahaan terkemuka di Indonesia. Saya diberhentikan karena kebijakan perampingan budget. Dan yang lebih menyakitkan adalah diberhentikan secara mendadak. Entah saat itu perasaan saya seperti apa. Marah, kecewa, takut, semuanya jadi satu. Dari surat keputusan pemberhentian, saya diberikan kesempatan membereskan administrasi dan semua pekerjaan saya sampai sekitar 7 hari sebelum saya benar-benar out dari kantor.

Selama 7 hari itu saya sibuk mencari pekerjaan, tentunya ditengah saya menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan saya. Karena Tuhan sayang pada umatNya, tak sempat saya menganggur setelah masa tenggang saya berakhir, saya sudah pindah meja dan tentunya pada payung yang berbeda. Ia betul-betul menguasai hati dan pikiran saya, begitu takjub saya dengan kebesaranNya.

Tuhan tahu dimana Ia harus terus menguji keimanan umatNya. Saya tak lantas selalu nyaman dengan kondisi setelahnya. Air mata masih deras, begitu derasnya hingga menjadi lautan. Emosi bercampur, sampai perdebatan dengan orang tua menjelang dan setelah pernikahan saya. Ada perasaan seperti duri dalam daging terhadap kehadiran saya disana. Entah hanya perasaan atau….

Saat yang sama, saya hanya punya Tuhan. Saya bersimpuh mengambil sayangNya. Dan saya tahu, Tuhan tahu jalan apa yang harus saya tempuh. Berusaha untuk lebih dekat denganNya, dan saya kembali temukan mukjizat. Ia berikan karunia pertama untuk saya dan suami saya. Karena saya merasa tak ada satupun yang menyayangi saya selain suami saya, maka Tuhan dengan kasih sayangNya memberi kami kepercayaan. Ia tak meminta apa-apa dari kami, Ia hanya mempercayai kami dapat menjaganya dengan tulus dan ikhlas.

Pada akhirnya, saya merasa sayalah pemenangnya. Dari sekian banyak hal dan orang yang mereka banggakan, saya adalah pemenang tunggal. Saya tak lantas bersombong. Saya hanya membuktikan bahwa saya umat yang patuh kepadaNya. Jika umatNya tak sayang pada saya, Ia yang akan mencurahkan kasih sayang yang lebih kepada saya. Dan saya tahu, Tuhan tahu kemana jalan yang harus saya tempuh….

 

 

Kuasa Hati

Kakiku berlari jauh, menyongsong rindu akan kebebasan. Meskipun aku lelah, namun aku tak lantas terkapar dan menyerah. Karena cinta. Ya, kebebasan yang aku rindukan adalah kesetiaan cintanya tanpa kekangan. Ketika aku mencari jati diriku, ia membiarkanku pergi, mencari apa yang harus aku cari. Dan ketika aku kembali, ia masih kokoh berdiri menatapku, masih dengan senyum yang sama ketika membiarkanku pergi. Tangannya terbuka lebar, meraih pundakku, dan mengajakku berdansa.

“Sudah kau temukan?” bisiknya lirih.

“Entahlah. Mungkin jawabanku bisa ‘sudah’, mungkin bisa juga ‘belum’.”

Lalu ia mendekapku erat. Seperti tak ingin membiarkanku pergi pun tak ingin menyakitiku dengan kekangannya.

“Lalu, apa yang kau lakukan selama aku mengembara?” bisikku ganti.

“Cinta.”

“Sudah kau dapatkan?”

“Entahlah. Mungkin jawabanku bisa ‘sudah’, mungkin bisa juga ‘belum’.”

Seketika hatiku merah memanas. Ada api yang membakar di dalam sana. Membuat nafasku panas, seakan aku ingin berlari jauh karena uapnya. Aku memandangnya lekat, kali ini dengan marah. Ketika kudapati sudut matanya yang mengembun, aku tahu ia akan segera menangis. Benar saja, embun itu berubah menjadi tetesan bening. Tidak menderu, tapi menetes tenang melewati lekuk hidungnya yang menyembul, lalu jatuh di pipi bawahnya yang cekung.

“Kau menangis?” tanyaku.

“Tidak. Ini bukan air mata. Ini adalah wujud ketulusanku yang menginginkan cintaku bersemayam tetap di hati. Mendekap erat laraku, menutupnya dengan senyuman, dan tidak akan membiarkan air mata menetes. Ia hanya akan mengalirkan ketulusan. Karena sebenarnya bukan yang lain yang ia cari dalam pengembaraan, melainkan ketulusan yang hanya perlu digali dari sisi lain hatinya.”

Aku melemah, dan aku menangis. Tidakkah ia yang membiarkanku pergi dan tak ingin aku pergi pun begitu menginginkanku menempati singgasana yang sudah Tuhan kodratkan bernama pasangan? Dan aku, begitukah aku terlalu haus mengembara, mencari apa yang tak perlu dicari, malah aku mendapatiku dicaci oleh rasa penyelasanku?

Mataku terbuka lebar, kali ini ada rasa tenang hatiku. Lebih tenang hingga kakiku tak ingin bergerak dari sana. Justru jika aku gerakkan kakiku sepersekian mili dari tanah kuberpijak, hatiku yang bergetar. Justru rasa takut kehilangan yang aku miliki sekarang. Justru jiwa pengembaraku yang entah kemana meninggalkanku bersama bongkahan rasa yang tak kunjung hilang dan pergi. Ia kunamai, cinta.

Terima kasih banyak, kamu. Yang dulu bukan apa-apa dan siapa-siapa, sekarang kau lebih bertahta dan berharga dibanding raja-raja di negeri lain. Singgasanamu sudah kubuat sedemikian rupa, tidak mengekang pun tak membuyar. Terima kasih, kamu. Dengamu aku belajar kesetiaan dan kesabaran. Bersamamu aku tak pernah lupa, jika mencintai adalah sebuah ketulusan. Dimana kata maaf dan terima kasih tak perlu kita ungkapkan setiap saat, karena di dalam ketulusan itu sudah ada mereka di sana. Terima kasih, kamu. Yang mendekap erat hatiku, membiarkan aku berlari, tapi menantiku di ujung lelahku. Terima kasih, suamiku. Kau menguasai hatiku.

Dan, Aku pun Belajar…

Saat  hari mulai petang, semua berlari menyeimbangkan lelah. Berharap segera mengakhiri hari mereka pada selaras dipan yang mungkin agak reot namun cukup untuk meluruskan sendi-sendi yang mengeriting karena ditarik-ulur oleh aktivitas yang menggila. Dan aku, aku hanya duduk termangu melihat pemandangan itu. Entah aku harus berbuat apa, mengikuti seperti mereka atau hanya duduk diam tanpa berkedip mata sekalipun.

Tuhan mengujiku. Hari yang lelah adalah dua bulan yang lalu. Ketika terakhir aku bercerita pada ‘rumah’ istimewaku ini, selebihnya Tuhan menyentilku. Sakit.
Kau tahu? Indigo. Apa saja yang aku khawatirkan, kesombongan, kemunafikan, kelalaian, semua berakhir seperti yang aku bayangkan. Beberapa detik setelah aku bermain dengan kesombongan, aku tahu Tuhan melirikku. Hanya melirik. Lalu aku berteman dengan kemunafikan, aku tahu Tuhan berbisik padaku, tapi aku pura-pura tak tahu. Kemudian aku berkenalan dengan kelalaian, kali ini Tuhan menyentilku. Sedikit, tapi sakit. Aku ingat, aku selalu mandi pada kubangan bekas babi, kuda, sapi, kerbau mandi. Aku terbahak, berkata pada dunia bahwa aku dapat menguasai kolam itu. Aku tidak peduli mereka menutup hidung karena bau badanku bercampur dengan bau babi, kuda, sapi, kerbau. Bahkan aku tak peduli beberapa dari mereka memberikanku melati untuk membasuh tubuhku. Aku buang.

Sejak saat itu sentilan Tuhan mulai membuatku sakit. Aku menangis dan mengaduh. Tapi Tuhan tidak merangkulku. Aku mengejarNya, berharap maaf dariNya. Aku berlari dan terjatuh. Tuhan tidak memapahku seperti biasa. Tapi Tuhan meniupkan aroma pengharapan untukku. Ia menebarkan serbuk surga. Lalu aku raih serbuk-serbuk surga yang bersinar dan harum. Hey, serbuk itu membuatku menari di atas kolam babi. Dan aku dibawanya pergi ke kolam yang lain. Di kolam itu aku bertemu dengan kesabaran. Kolamnya besar, dan kesabaran itu tak mengenaliku. Serbuk-serbuk surga mendaratkan aku disana. Lalu Tuhan berfirman, berkenalanlah dengan kesabaran, maka kau akan belajar apa yang sudah Aku berikan.

Awalnya aku tak pernah bisa akrab dengan mereka, kesabaran yang akan membuatku mengerti apa yang Tuhan maksudkan untukku. Tak pernah tahu. Namun, kolam itu menunjukkan bagaimana aku harus bisa menaklukan kesabaran. Berhari-hari aku mencoba, satu-dua kesabaran berhasil aku taklukan. Aku berfikir mereka akan habis aku taklukan. Tapi ternyata tidak. Mereka tak pernah habis, tak akan pernah. Aku menyerah. Lalu kolam itu membiaskan wajahku tempo hari di kolam babi. Aku menangis, menyesal. Lalu aku sadar. Jika aku menaklukan satu kesabaran, maka ia akan beranak. Semakin banyak aku menaklukan, semakin banyak mereka bertambah. Dan aku belajar, bahwa kesabaran adalah kebutuhan. Aku belajar banyak darinya. Tanpa kesabaran, mungkin sentilan Tuhan masih terasa sakit sampai sekarang. Dan aku mulai terbiasa beradaptasi dengan mereka. Kami berteman dekat. Dan aku pun belajar…