Selembut Onak

“Tolong jangannnn, To…longgg… Aku mo..hoonn… To…”

Suaranya tercekik di antara lenguh panjang seorang pria berbadan kekar. Ia tak tahu siapa pria itu. Ia tak bisa melihat wajah pria itu dalam keremangan. Ia tak ingat apa-apa. Ia tak mengenal betul, bahkan berkenalan pun tak pernah. Yang ia ingat adalah pria itu menyekapnya sebelum membran keperawanannya jebol dan menyakiti sampai ulu hatinya. Baca lebih lanjut

Iklan

Marisa

Pagi masih terlalu dini. Masih gelap, dan aku baru menyelesaikan bacaan Surat Yasinku setelah subuh tadi aku bersimpuh dan memohon perlindungan pada Yang Maha Besar. Aku mempersiapkan diriku sedini mungkin dengan kemeja putih dan celana panjang hitam yang tidak terlalu ketat. Rambutku sudah aku kepang, model rambut favoritku dan suamiku. Nasi dan lauk ala kadarnya sudah kusantap habis, loyang sudah kujilati sampai bersih. Entah kenapa pagi ini rasanya aku lapar sekali.

Baca lebih lanjut

Konflik

Payah! Sepertinya memang semuanya membosankan. Mengapa tak jua dia berlaku manis?

Pasti karena wanita itu!

Yang mana?

Yah, entah yang mana. Pokoknya pasti karena wanita lain!

Bagaimana bisa?

Ya, hidupnya penuh dengan tantangan. Dia lebih suka hidup dan bekerja dialam bebas. Mungkin diluar sana banyak wanita cantik, lebih cantik darimu.

Yang benar kau! Dia tidak mungkin setega itu.

Namanya kucing pasti akan ngiler kalau dikasih daging segar gratis.

Mungkinkah? Seperti apa wanita itu? Yang jelas aku marah! Akan aku obrak-abrik hidupnya. Tak akan kubuat tenang hidupnya jika ia mengganggunya!

Dina berdiri didepan cermin. Melamun sendiri memandang wajahnya. Sunyi termenung sendiri di apartemennya. Sebelumnya kedatangan David adalah sebuah surprise untuk Dina. Namun semua menjadi berantakan ketika ia teringat obrolannya dengan wanita dicermin itu. Dina gusar, menuduh tanpa alasan kepada David. Keduanya terlibat pertengkaran hebat sebelum akhirnya Dina melempari cermin itu dengan vas bunga. Lalu David meninggalkan Dina seorang diri di apartemennya.

Masih Menunggumu

Belum sempat ku membagi kebahagiaanku
Belum sempat ku membuat dia tersenyum
Haruskah ku kehilangan ’tuk kesekian kali
Tuhan kumohon jangan lakukan itu
Sebab ku sayang dia
Sebab ku kasihi dia
Sebab ku tak rela
Tak s’lalu bersama
Ku rapuh tanpa dia
Seperti kehilangan harap
Jikalau memang harus ku alami duka
Kuatkan hati ini menerimanya
Sebab ku sayang dia
Sebab ku kasihi dia
Sebab ku tak rela
Tak s’lalu bersama
Ku rapuh tanpa dia
Seperti kehilangan harap

oOo

Baca lebih lanjut

Setengah Okonomiyaki (itu)…

Disudut kedai tepat pada meja nomor tiga kami terdiam satu sama lain. Pandangan kami melekat ke arah yang berlawanan. Tak sepatah katapun terucap dari bibirku ataupun bibirnya. Dan sudah hampir tiga puluh menit kami seperti itu sebelum akhirnya waitress mengantarkan menu pesanan kami. Masih dengan terdiam, kami lalu segera menyantap menu kami. Mie ramen adalah kesukaannya, sedangkan aku cukup dengan sepiring okonomiyaki dan segelas smoothie lemon.

Menyantap okonomiyaki tak lantas membuatku kenyang. Jauh sebelum makanan khas negeri matahari terbit itu memenuhi meja kami, aku sudah merasa selera makanku lenyap begitu saja. Namun kupaksakan sedikit demi sedikit memasukkannya kedalam mulutku. Ingin rasanya aku berteriak, tak sepatah kata lembut pun terucap dari bibirnya. Aku merajuk tak lantas ia bujuk. Atau mungkin memang aku pengacau yang sebenarnya.

Baca lebih lanjut

Batik yang Berbicara

Sudah tiga tahun sejak kepergian Tanto merantau ke ibukota, Siti tak lagi dikenal sebagai gadis yang manis dan ceria. Hari-hari Siti hanya ia habiskan untuk membatik. Sawah peninggalan ayahnya tak lagi terurus. Ayam petelur pun tempo hari beberapa kena razia dan dimusnahkan oleh Dinas Peternakan karena terbukti terinfeksi virus flu burung.

“Mau sampai kapan kamu membatik nduk? Itu lho sawah bapakmu gak koe urus.”

Sek, Mbok. Lagi mencoba motif baru.”

Baca lebih lanjut