Apa Harus Menangis (dulu) ?

gambar dari sini

gambar dari sini

Aku bermain dalam drama yang membosankan. Entah sebagai apa peranku. Kadang didramatisir sebagai tokoh utama, tapi sering juga sebagai figuran tanpa bayaran.Aku mencium bau kenyataan. Bahwa selamanya aku harus berkecimpung memasang topeng. Bukan untuk mengelabuhi, cenderung karena aku tak tahu seperti apa wajahku.

Aku mencitai seorang aktor. Aktor? Ya, dia aktor. Sama halnya denganku, dia suka memasang seribu wajah. Ah, jangankan melihat hatinya. Wajahnya saja tak pernah kujumpai tulus. Tapi aku sangat mencintainya.
Dia bermain sebagai pujangga, lawan mainku. Esoknya ia menjadi lawan main wanita lain. Selalu seperti itu. Cemburu? Selalu!

Katanya, aku tak pantas marah. Aku tak perlu menangis berdarah-darah. Toh kita akan bersatu lagi dalam satu scene. Tapi ternyata peranku hilang. Banyak wanita pendatang baru mengalahkan kemampuanku. Terlebih kemampuanku bercinta. Bercinta? Ya! Bercinta dalam adegan. Sering!

Aku tak pernah menganggapnya aktor. Bagiku ia tak sama dengan kami. Meskipun kenyataan adalah hal yang mustahil untuk kami -para pemain drama- namun aku melihat dirinya adalah kenyataan. Lambat laun aku sudah tidak pernah bermain satu scene dengannya. Ia mencumbu wanita lain. Tiga generasi dibawahku. Ironi!

Katanya, aku tak pantas marah. Aku tak perlu menangis berdarah-darah. Toh kita akan bersatu lagi dalam satu scene. Kapan? Mungkin nanti, setelah kau menangis bahwa ternyata kaulah yang dapat membuka topengku. Kaulah satu-satunya yang dapat melihat wajahku, padahal aku sendiripun tak tahu seperti apa wajahku. Aku hanya tahu jika kau adalah benar-benar kenyataan yang kuharapkan.

*Dedikasi untuk wanita-wanita yang tersakiti.