Gelap Bernada

Bernyanyi saat gelap merangsang sukma

Temaram sinar bulan serasa terlihat dekat

Dibalut kabut malam, pucat

Dengan angkuh sang gelap tertawa

 

Nadaku terdengar sumbang

Hanya sayup kumbang malam ikut berdendang

Diselingi denting jam tua yang berdentang

Tang-tang-tang, gelap masih terbahak riang

 

Syairku hanya berakhir di ujung kelu

Janji sunyi malam semakin membuat pilu

Malamku menjadi kelabu

Namun gelap jadi berubah tertawa ngilu

 

Suaraku merendah, malam memudar

Dingin menyapa, rembulan bernada

Masih dengan gelap

Namun ia diam tak terbahak

Memotret Gelap

Jangan samakan gelap yang Tuhan ciptakan dengan gelap ketika kau menutup matamu dengan kedua telapak tanganmu sendiri.

Aku terbangun dari lelah yang panjang. Memandang sekelilingku dengan rasa hampa. Gelap. Lalu aku menangis, tercekik, dan tidak dapat bernafas.

“Tenangkan hatimu, Nak.”

“Ibu?”

Ah, rasanya sudah sekian lama aku mencoba beradaptasi dengan gelap. Waktu yang berputar bagaikan roda mobil balap yang siap menuju garis finish. Aku tak bisa mengendalikannya, seolah ia berlari tanpa kendali. Ya, memang begitulah waktu. Berputar tanpa kendali. Yang bisa mendatangkan penyesalan ataupun kebahagiaan.

“Bu, apa gelap itu indah?”

“Semua yang diciptakan Tuhan selalu indah. Cahaya, gelap, mereka diciptakan dengan tugas masing-masing.”

“Lalu apa yang bisa kita lihat dari gelap?”

“Rabalah hatimu sendiri, Nak. Kau tidak akan dapat melihat apa-apa dalam gelap dengan dua bola matamu yang indah. Tapi kau akan merasakan sesuatu yang menjalar di hatimu.”

“Sekalipun ketakutan, Bu?”

“Ya! Sekalipun ketakutan, Nak. Kau bisa bayangkan mengapa Tuhan menciptakan duri yang tajam pada mawar yang indah?”

“Agar tidak sembarang kumbang meraih madunya.”

“Begitulah kegelapan dan ketakutan yang diciptakan. Kau akan berjalan dengan hati-hati tatkala gelap. Dan kau akan belajar melihat sesuatu dari hatimu, bukan hanya dari mata indahmu saja.”

“Jadi, gelap itu apa Bu?”

“Anakku sayang, gelap adalah bagian dari diri kita yang tertutup. Tidak ada manusia yang sempurna. Sebagian dari kita adalah penuh dosa dan serasa penuh kegelapan. Namun tidak hidup jika tak belajar. Ketika kau melihat hamparan hampa, jangan tutup matamu. Itu akan semakin membuatmu terjerembab. Yakinlah, di ujung jalan sana akan kau temui pintu dengan cahaya yang sangat indah.”

“Seperti pintu yang ibu temui sekarang?”

“Iya, Nak. Jika kau masih terus menyayangi ibu, sedikit lagi ibu akan bisa membuka pintu itu dan memasukinya.”

“I wish you can go there, Mom. I promise to always pray for you.”

“Tersenyumlah, Nak. Kelak kau harus menceritakan bagaimana memotret gelap pada anak cucumu. And we will meet here later.”

*On same Tuesday, 19/03/07-19/03/13. And this day is a day when she was born and gone.

lenadaku