Apa (Sebuah Tanda Tanya dan Berjuta Tanda Seru)

“Semoga aku tak akan pernah lelah menerima dan menghadapi semua ujianMu.”
Itulah doa andalanku sesaat setelah sujud dan salam tahyat terakhir. Rupanya aku terlalu besar rasa, terlalu percaya diri bahwa aku pasti mampu menghadapi ujian yang Tuhan berikan. Nyatanya aku tidak dan tak pernah mampu. Aku terlalu sombong pada Ia Yang Maha Pemurah. Aku tak lebih dari makhluk kerdil dan bungkuk yang mencoba berjalan tegap tanpa tongkat. Aku salah, nyatanya aku terjatuh dan selalu. Aku coba berdiri dan melangkah lagi, namun tetap saja terjatuh dengan luka tempo hari yang kian membusuk. Belum reda darah mengalir, masih saja kutimbulkan luka pada kulit yang lain.
Aku bersimpuh di antara rerumputan yang basah. Aku berteriak memanggil Ia Maha Pembolak-balik segalanya. Aku menaruh harap agar dileburkan semua dosaku bersama air hujan yang mengeruh.
Jika aku tak pernah sombong, seberat inikah ujian demi ujian yang harus aku terima? Aku tahu, bahwa Tuhan tidak akan pernah membebani cobaan di luar batas kemampuan umatNya. Tapi, inikah jalanku untuk mencapai puncak tertinggi yang sudah Tuhan janjikan?
Dengan sebatas kata “Apa” diikuti satu tanda tanya dan berjuta tanda seru, aku pun tak tahu itu berupa pertanyaan atau seruan. Dan aku belum menemukan jawabannya.

Iklan

Meraih Pelangi

Hujan sudah berdiam
Dengan pelangi ia berganti peran
Ia termenung di ujung pekat
Tersenyum simpul memandang cahaya
Ia jatuh cinta pada pelangi
Dengan segala warna keindahan yang dimiliki
Ia tak lagi bisa diam memandang
Perlahan ia menghampiri
Mencoba mencumbu pelangi
Tapi apa daya, mereka tak bisa terpatri

Hujan Pagi-pagi

Hujan pagi-pagi
Aku melihat wajah petani kegirangan
Hujan membuat sawah tak jadi kekeringan
Hujan pagi-pagi
Aku melihat wajah buruh menggerutu
Hujan membuat tubuhnya berpeluh
Hujan pagi-pagi
Aku melihat wajah anak-anak sekolah ceria
Hujan membuat tak jadi upacara
Hujan pagi-pagi
Aku melihat wajah bapak guru berjenggot putih panjang berkesah
Hujan membuatnya berkomat-kamit baca mantra
Hujan pagi-pagi
Aku melihat wajah penganggur muda
Hujan membuat matanya sayu dan malas
Hujan pagi-pagi
Aku melihat wajahku di cermin
Hujan membuatku belajar bersyukur pada hari Senin

Seperti Hujan?

Tanah yang basah bercerita
Kaki lincahmu pernah menari disana
Pada sebuah ruang asa
Yang menjelma menjadi rasa

Daun yang mengembun bernada
Tangan mungilmu pernah membelainya
Pada nikmat yang tiada tara
Yang menjelma menjadi lara

Seperti hujan?
Kau datang tanpa kuundang
Seperti hujan?
Kau pergi tanpa kuusir

Dulu, bibir kita pernah saling berucap
Lalu berpagut, dan mata berpandangan
Janji putih yang kini kelabu
Membebaskanmu dari musim

Seperti hujan kau tak pernah kusadari kedatangannya
Seperti hujan kau tak pernah kurelakan kepergiannya
Kau berlalu
Ku merindu

Dan musim ini kutahu kau tak akan kembali
Karena hujan mendatangkan pelangi
Untuk kunikmati sebagai sunyi
Kau telah terganti

Puisi ini diikutsertakan dalam Giveaway Semua Tentang Puisi