Ladang Imajinasi

Minggu pagi.
Rasanya orang-orang akan lebih sibuk mengisi waktu luang ketika weekend. Bahkan lebih sibuk dari hari-hari biasa, weekday. Saya, berharap menopangkan kelelahan pada pagi yang sejuk, namun ternyata pukul tujuh mata enggan lagi mau istirahat.
Selalu ada cerita untuk setiap detik waktu yang terlewati. Jika jeli, beberapa kata ‘nyleneh’ akan menari-nari di kepala.
Saya, berterima kasih pada tiap kata yang mampu menemukan saya untuk berbagi dalam perkara yang indah: imajinasi.
Saya, menggemari mempermainkan kata. Imajinasi liar dan menembus batas, surga saya. Andai tiap kata mampu berbicara, ia akan memaki saya.
Tak apa. Saya memang liar. Saya suka berimajinasi. Saya suka mempermainkan kata. Hari Minggu, lelah yang saya rasa mungkin akan disibukkan untuk bermain kata. Mungkin tak terasa. Saya akan berjalan menyusuri ladang imajinasi. Menemukan kata yang tersembunyi.
Selamat Hari Kartini. Kau, wanita Indonesia, teruslah berjalan. Mimpi dan imajinasi menunggumu menjemput.

Pandangan Pertama: Bertemu Mimpi

give-away-langkah-catatanku

Setiap manusia pasti punya mimpi. Aku pun begitu. Kata makhluk yang bernama pria, mimpi wanita itu kompleks. Tapi aku tidak. Aku hanya bermimpi bertemu mimpi. Itu saja.

“Lia.”

“Dimas.”

Perkenalan yang singkat disebuah tempat bernama warnet tiga tahun yang lalu. Berjabat tangan kemudian berkenalan. Siapa sangka hal itu menjadi pertemuan pertama yang kemudian berlanjut menjadi rasa yang tak pernah hilang. Tatapan nanar matanya, kalimatnya yang tegas, dan keangkuhannya membawa cita rasa tersendiri yang menyelinap menyusup terbawa aliran darah sampai ke ubun-ubun. Dan kini, ia telah tertanam kuat diujung hati. Dasar hati  yang gelap, kering, dan rapuh telah menjadi terang, hangat, dan berkilau. Mereka tidak datang sendiri-sendiri, tapi menggandeng rasa bersama dengan keserasian yang menjalar kuat sampai tak terelak.

Cinta pada pandangan pertama: love at the first sight. Sudah tiga tahun, langkah pertama pun sudah kami tempuh. Tidak kami duga. Begitu banyak air mata, kesedihan, dan deraan atas cinta yang kami terima. Dan siapapun tak akan bisa menahan ombak dan angin kencang seperti yang kami alami. Aku berusaha untuk melepaskan genggamannya, berkali-kali. Namun semakin badai menerpa semakin ia mencengkeramku kuat-kuat. Dan sekarang pada akhirnya badai itu mereda sendiri, ombak kembali menjadi buih, dan cinta kami hampir berlabuh pada dermaganya. Pandangan pertamaku dengannya, semoga tak akan pernah salah. Karena memang tak pernah kutemukan kesalahannya sejauh ini. Terima kasihku pada mata dan hati yang seirama menemukannya, dan pada Tuhan yang membuat kami lalu jatuh cinta. Ya, pada pandangan pertama bertemu mimpi.

“Pandangan Pertama Special Untuk Langkah Catatanku”