Purnama Senja

Antara sore dan petang
Tertanam indah di cakrawala
Bukan senja yang menggading
Atau surya yang menguning

Aku melihat mata senja
Pada ujung timur yang menganga
Kulihat lengkungnya sempurna
Indah

Senjaku tak memadu
Mungkin ia sedang sendu
Atau dirundung pilu
Tidak merona pun terlihat kelabu

Aku melihat mata senja
Pada ujung timur yang menganga
Ia jingga
Dan melengkung sempurna

Purnama senja
Melengkung sempurna pada horizon antara sore dan petang
Melabuhkan ke peraduan
Biarpun senja tak datang

Iklan

Hujan Pagi-pagi

Hujan pagi-pagi
Aku melihat wajah petani kegirangan
Hujan membuat sawah tak jadi kekeringan
Hujan pagi-pagi
Aku melihat wajah buruh menggerutu
Hujan membuat tubuhnya berpeluh
Hujan pagi-pagi
Aku melihat wajah anak-anak sekolah ceria
Hujan membuat tak jadi upacara
Hujan pagi-pagi
Aku melihat wajah bapak guru berjenggot putih panjang berkesah
Hujan membuatnya berkomat-kamit baca mantra
Hujan pagi-pagi
Aku melihat wajah penganggur muda
Hujan membuat matanya sayu dan malas
Hujan pagi-pagi
Aku melihat wajahku di cermin
Hujan membuatku belajar bersyukur pada hari Senin

Aceh, 8 Tahun Silam

Pertiwi yang manis,
Disana sebuah kota lagi serambi Mekah nan elok
Nelayan, santri, pedagang bercerita tentang kehidupan
Bercerita tentang Aceh mereka delapan tahun silam
Yang diusung oleh bencana, meratap di alam mereka

Pertiwi yang cantik,
Hari ini, delapan tahun silam
Ribuan nyawa meregang
Dibasuh istighfar dan syahadat
Serta takbir yang berteriak
Berseru-seru menyebut astma Alloh
Menangis dan berlarian

Pertiwi yang indah,
Hari ini, delapan tahun silam
Aku, mereka, kami semua anakmu
Berpegang tangan menjunjungmu
Menopang saudara-saudara Aceh kami
Semoga tidak ada Aceh berikutnya yang membuat kau meratap
Dan semoga kau tak lagi menangis
Rindu tawamu, pelukmu, dan buaianmu
Aceh dalam Pertiwiku

~untuk Aceh, 8 tahun silam~

Kursi Merah

Kursi merah di pojokkan, favoritmu berjelaga

Kursi merah di pojokkan, tempatmu menganyam kenangan

Kursi merah di pojokkan, sandaranmu menggundah

Tapi kini…

Kursi merah di pojokkan, sepi sedari tadi

Kursi merah di pojokkan, melamun sendiri

Kursi merah di pojokkan, tinggal kenangan yang terisi

Untuk ibu yang selalu menyukai kesendirian di kursi pojok ruangan

gambar pinjam dari sini

gambar pinjam dari sini

Seperti Hujan?

Tanah yang basah bercerita
Kaki lincahmu pernah menari disana
Pada sebuah ruang asa
Yang menjelma menjadi rasa

Daun yang mengembun bernada
Tangan mungilmu pernah membelainya
Pada nikmat yang tiada tara
Yang menjelma menjadi lara

Seperti hujan?
Kau datang tanpa kuundang
Seperti hujan?
Kau pergi tanpa kuusir

Dulu, bibir kita pernah saling berucap
Lalu berpagut, dan mata berpandangan
Janji putih yang kini kelabu
Membebaskanmu dari musim

Seperti hujan kau tak pernah kusadari kedatangannya
Seperti hujan kau tak pernah kurelakan kepergiannya
Kau berlalu
Ku merindu

Dan musim ini kutahu kau tak akan kembali
Karena hujan mendatangkan pelangi
Untuk kunikmati sebagai sunyi
Kau telah terganti

Puisi ini diikutsertakan dalam Giveaway Semua Tentang Puisi

Mati Menyesal

Biarkan aku berteriak: membuncah

Biarkan laraku terendam dendam

Biarkan aku menyesal sejadinya

Aku menangis-nangis darah jadinya

Bertahan dengan rasa yang menyesak

Memuncak-muncak darah hingga tak tersisa

Sia-sia mencuri senyum

Tak pernah menjadi seperti apa

Hanya bisa menahan nafas

Jatuh tersungkur dan lalu mati

Hanya bisa menahan nafas

Penyesalan terkubur

Bersama jiwa yang lara

(Masih) Manusia

Semakin terkoyak dalam penyesalan

Seketika semua menjadi abu-abu

Aku hanya terdiam

Menepikan semua harapan

Yang terkoyak biarkan saja berserak

Yang pudar biarkan saja terbias

Hanya memejamkan mata

Dan semua akan terlupa

Jika aku mampu,

Kurobek semua tubuhku, kuperas bersih darahnya,

dan kuganti dengan darah serigala

Tapi, sampai saat ini pun aku masih manusia

Dengan segala rasa yang tidak bisa dipungkiri

Dengan segala asa yang terus berasap