Dan, Aku pun Belajar…

Saat  hari mulai petang, semua berlari menyeimbangkan lelah. Berharap segera mengakhiri hari mereka pada selaras dipan yang mungkin agak reot namun cukup untuk meluruskan sendi-sendi yang mengeriting karena ditarik-ulur oleh aktivitas yang menggila. Dan aku, aku hanya duduk termangu melihat pemandangan itu. Entah aku harus berbuat apa, mengikuti seperti mereka atau hanya duduk diam tanpa berkedip mata sekalipun.

Tuhan mengujiku. Hari yang lelah adalah dua bulan yang lalu. Ketika terakhir aku bercerita pada ‘rumah’ istimewaku ini, selebihnya Tuhan menyentilku. Sakit.
Kau tahu? Indigo. Apa saja yang aku khawatirkan, kesombongan, kemunafikan, kelalaian, semua berakhir seperti yang aku bayangkan. Beberapa detik setelah aku bermain dengan kesombongan, aku tahu Tuhan melirikku. Hanya melirik. Lalu aku berteman dengan kemunafikan, aku tahu Tuhan berbisik padaku, tapi aku pura-pura tak tahu. Kemudian aku berkenalan dengan kelalaian, kali ini Tuhan menyentilku. Sedikit, tapi sakit. Aku ingat, aku selalu mandi pada kubangan bekas babi, kuda, sapi, kerbau mandi. Aku terbahak, berkata pada dunia bahwa aku dapat menguasai kolam itu. Aku tidak peduli mereka menutup hidung karena bau badanku bercampur dengan bau babi, kuda, sapi, kerbau. Bahkan aku tak peduli beberapa dari mereka memberikanku melati untuk membasuh tubuhku. Aku buang.

Sejak saat itu sentilan Tuhan mulai membuatku sakit. Aku menangis dan mengaduh. Tapi Tuhan tidak merangkulku. Aku mengejarNya, berharap maaf dariNya. Aku berlari dan terjatuh. Tuhan tidak memapahku seperti biasa. Tapi Tuhan meniupkan aroma pengharapan untukku. Ia menebarkan serbuk surga. Lalu aku raih serbuk-serbuk surga yang bersinar dan harum. Hey, serbuk itu membuatku menari di atas kolam babi. Dan aku dibawanya pergi ke kolam yang lain. Di kolam itu aku bertemu dengan kesabaran. Kolamnya besar, dan kesabaran itu tak mengenaliku. Serbuk-serbuk surga mendaratkan aku disana. Lalu Tuhan berfirman, berkenalanlah dengan kesabaran, maka kau akan belajar apa yang sudah Aku berikan.

Awalnya aku tak pernah bisa akrab dengan mereka, kesabaran yang akan membuatku mengerti apa yang Tuhan maksudkan untukku. Tak pernah tahu. Namun, kolam itu menunjukkan bagaimana aku harus bisa menaklukan kesabaran. Berhari-hari aku mencoba, satu-dua kesabaran berhasil aku taklukan. Aku berfikir mereka akan habis aku taklukan. Tapi ternyata tidak. Mereka tak pernah habis, tak akan pernah. Aku menyerah. Lalu kolam itu membiaskan wajahku tempo hari di kolam babi. Aku menangis, menyesal. Lalu aku sadar. Jika aku menaklukan satu kesabaran, maka ia akan beranak. Semakin banyak aku menaklukan, semakin banyak mereka bertambah. Dan aku belajar, bahwa kesabaran adalah kebutuhan. Aku belajar banyak darinya. Tanpa kesabaran, mungkin sentilan Tuhan masih terasa sakit sampai sekarang. Dan aku mulai terbiasa beradaptasi dengan mereka. Kami berteman dekat. Dan aku pun belajar…

 

Iklan

Sesulit Sabar, Semudah Amarah

Rinduku pada ujian Illahi terbayarlah sudah. Tanpa aku sadar Ia pun masih menyayangiku. Ia tahu aku tidak bisa menerima kelembutanNya, maka Ia mengasihiku dengan ujian-ujian itu. Hanya dapat berterima kasih, aku percaya itu membuat aku dan Dia semakin dekat. Batasannya adalah Ia Sang Pencipta, dan aku yang Ia ciptakan. Maka aku tak pantas memilih jalan lurus tanpa terjal dan bergelombang untuk hidupku. Ia pilihkan jalan berliku untukku supaya aku bisa belajar, bahwa tak ada yang mudah yang ingin aku dapatkan. Bahwasanya di setiap jalan yang terjal pun bergelombang, aku menemukan dua pintu yang bersebelahan. Pintu pertama kubuka dengan mudah, aku masuk ke dalamnya. Hanya ada duri dan bara api yang serta merta menghujamku dan membakar tubuhku. Pintu ke dua begitu sulit kubuka. Ia tak mau terbuka. Tapi aku tahu, Sang Penciptaku berbisik lirih. Aku tidak terluka, dan perlahan aku terbiasa mencoba untuk membukanya. Aku bahkan tidak merasakan sakit yang luar biasa sekalipun tanganku berdarah karena pengait pintunya telah mengarat. Dan aku tahu, mungkin di dalam sana ada kejutan yang luar bisa untukku.