Apa (Sebuah Tanda Tanya dan Berjuta Tanda Seru)

“Semoga aku tak akan pernah lelah menerima dan menghadapi semua ujianMu.”
Itulah doa andalanku sesaat setelah sujud dan salam tahyat terakhir. Rupanya aku terlalu besar rasa, terlalu percaya diri bahwa aku pasti mampu menghadapi ujian yang Tuhan berikan. Nyatanya aku tidak dan tak pernah mampu. Aku terlalu sombong pada Ia Yang Maha Pemurah. Aku tak lebih dari makhluk kerdil dan bungkuk yang mencoba berjalan tegap tanpa tongkat. Aku salah, nyatanya aku terjatuh dan selalu. Aku coba berdiri dan melangkah lagi, namun tetap saja terjatuh dengan luka tempo hari yang kian membusuk. Belum reda darah mengalir, masih saja kutimbulkan luka pada kulit yang lain.
Aku bersimpuh di antara rerumputan yang basah. Aku berteriak memanggil Ia Maha Pembolak-balik segalanya. Aku menaruh harap agar dileburkan semua dosaku bersama air hujan yang mengeruh.
Jika aku tak pernah sombong, seberat inikah ujian demi ujian yang harus aku terima? Aku tahu, bahwa Tuhan tidak akan pernah membebani cobaan di luar batas kemampuan umatNya. Tapi, inikah jalanku untuk mencapai puncak tertinggi yang sudah Tuhan janjikan?
Dengan sebatas kata “Apa” diikuti satu tanda tanya dan berjuta tanda seru, aku pun tak tahu itu berupa pertanyaan atau seruan. Dan aku belum menemukan jawabannya.

Iklan

Sesulit Sabar, Semudah Amarah

Rinduku pada ujian Illahi terbayarlah sudah. Tanpa aku sadar Ia pun masih menyayangiku. Ia tahu aku tidak bisa menerima kelembutanNya, maka Ia mengasihiku dengan ujian-ujian itu. Hanya dapat berterima kasih, aku percaya itu membuat aku dan Dia semakin dekat. Batasannya adalah Ia Sang Pencipta, dan aku yang Ia ciptakan. Maka aku tak pantas memilih jalan lurus tanpa terjal dan bergelombang untuk hidupku. Ia pilihkan jalan berliku untukku supaya aku bisa belajar, bahwa tak ada yang mudah yang ingin aku dapatkan. Bahwasanya di setiap jalan yang terjal pun bergelombang, aku menemukan dua pintu yang bersebelahan. Pintu pertama kubuka dengan mudah, aku masuk ke dalamnya. Hanya ada duri dan bara api yang serta merta menghujamku dan membakar tubuhku. Pintu ke dua begitu sulit kubuka. Ia tak mau terbuka. Tapi aku tahu, Sang Penciptaku berbisik lirih. Aku tidak terluka, dan perlahan aku terbiasa mencoba untuk membukanya. Aku bahkan tidak merasakan sakit yang luar biasa sekalipun tanganku berdarah karena pengait pintunya telah mengarat. Dan aku tahu, mungkin di dalam sana ada kejutan yang luar bisa untukku.