Selembut Onak

“Tolang jangannnn, To…longgg… Aku mo..hoonn… To…”

Suaranya tercekik di antara lenguh panjang seorang pria berbadan kekar. Ia tak tahu siapa pria itu. Ia tak bisa melihat wajah pria itu dalam keremangan. Ia tak ingat apa-apa. Ia tak mengenal betul, bahkan berkenalan pun tak pernah. Yang ia ingat adalah pria itu menyekapnya sebelum membran keperawanannya jebol dan menyakiti sampai ulu hatinya. Lanjut membaca

Obituari Oma

Sssttttt…

Ada sebuah rahasia yang ingin saya beberkan di sini. Saya akan menceritakan hidup seorang artis kawakan dengan berbagai kisah yang berbeda. Rahasia ini betul-betul luar biasa. Baik penggemar maupun yang tidak suka dengan si artis, semua bercerita di sini.

Adalah Marina Wijaya, aktris kawakan yang malang melintang di dunia perfilman. Beliau telah meninggal dunia. Beberapa narasumber berkisah tentang beliau. Dan anehnya semua kisahnya berbeda. Lalu, ada apakah di balik kematian Marina Wijaya? Lanjut membaca

Apa (Sebuah Tanda Tanya dan Berjuta Tanda Seru)

“Semoga aku tak akan pernah lelah menerima dan menghadapi semua ujianMu.”
Itulah doa andalanku sesaat setelah sujud dan salam tahyat terakhir. Rupanya aku terlalu besar rasa, terlalu percaya diri bahwa aku pasti mampu menghadapi ujian yang Tuhan berikan. Nyatanya aku tidak dan tak pernah mampu. Aku terlalu sombong pada Ia Yang Maha Pemurah. Aku tak lebih dari makhluk kerdil dan bungkuk yang mencoba berjalan tegap tanpa tongkat. Aku salah, nyatanya aku terjatuh dan selalu. Aku coba berdiri dan melangkah lagi, namun tetap saja terjatuh dengan luka tempo hari yang kian membusuk. Belum reda darah mengalir, masih saja kutimbulkan luka pada kulit yang lain.
Aku bersimpuh di antara rerumputan yang basah. Aku berteriak memanggil Ia Maha Pembolak-balik segalanya. Aku menaruh harap agar dileburkan semua dosaku bersama air hujan yang mengeruh.
Jika aku tak pernah sombong, seberat inikah ujian demi ujian yang harus aku terima? Aku tahu, bahwa Tuhan tidak akan pernah membebani cobaan di luar batas kemampuan umatNya. Tapi, inikah jalanku untuk mencapai puncak tertinggi yang sudah Tuhan janjikan?
Dengan sebatas kata “Apa” diikuti satu tanda tanya dan berjuta tanda seru, aku pun tak tahu itu berupa pertanyaan atau seruan. Dan aku belum menemukan jawabannya.

Sesulit Sabar, Semudah Amarah

Rinduku pada ujian Illahi terbayarlah sudah. Tanpa aku sadar Ia pun masih menyayangiku. Ia tahu aku tidak bisa menerima kelembutanNya, maka Ia mengasihiku dengan ujian-ujian itu. Hanya dapat berterima kasih, aku percaya itu membuat aku dan Dia semakin dekat. Batasannya adalah Ia Sang Pencipta, dan aku yang Ia ciptakan. Maka aku tak pantas memilih jalan lurus tanpa terjal dan bergelombang untuk hidupku. Ia pilihkan jalan berliku untukku supaya aku bisa belajar, bahwa tak ada yang mudah yang ingin aku dapatkan. Bahwasanya di setiap jalan yang terjal pun bergelombang, aku menemukan dua pintu yang bersebelahan. Pintu pertama kubuka dengan mudah, aku masuk ke dalamnya. Hanya ada duri dan bara api yang serta merta menghujamku dan membakar tubuhku. Pintu ke dua begitu sulit kubuka. Ia tak mau terbuka. Tapi aku tahu, Sang Penciptaku berbisik lirih. Aku tidak terluka, dan perlahan aku terbiasa mencoba untuk membukanya. Aku bahkan tidak merasakan sakit yang luar biasa sekalipun tanganku berdarah karena pengait pintunya telah mengarat. Dan aku tahu, mungkin di dalam sana ada kejutan yang luar bisa untukku.

Berdoa (?)

Hari berjalan dari celah-celah panas sinar Sang Surya
Ia tersengat terik yang tak henti menjilat kulit bajanya
Peluhnya menetes perlahan di setiap ranah yang ia pijak
Bahkan hampir berubah menjadi hulu
Sebelum akhirnya membanjir, Hari berkedip
Dalam sekejap ia menghilang dan bertaut entah di negeri mana
Ia hanya menemukan cermin jingga, perlahan memudar, dan gelap

Hari masih terus berjalan
Kali ini kakinya berpijak pada pelataran malam yang pekat
Kulit bajanya berkerut, dingin
Ia tampik rasa dingin itu, tapi gagal
Ia mencoba mengais tanah yang menyisakan hangat dari negeri seberang
Ia mencium segala bentuk kehangatan
Ia kembali gagal

Hari tidak terpejam, ia masih terjaga
Matanya kembali berkedip, dan lagi-lagi ia bertaut entah di negeri mana
Kulit bajanya kembali mengilap, terpantul Sang Surya
Hari mengerti, ia kembali pada negeri yang terik
Ia tidak membodoh, Hari berpikir: hening

Hari bereksperimen, matanya menghadap langit
Dilambaikan tangannya ke atas, seolah ingin meranggah sesuatu
Tangannya hanya menggapai hampa
Terik Sang Surya kembali memeras peluhnya,
kali ini dipastikan akan membuat hulu membanjir

Mata Hari perih, tertetesi peluh
Ia berkedip, sama: kembali bertaut entah di negeri mana
Cermin jingga yang memudar dan gelap
Dan begitu seterusnya jika Hari berkedip

Kali ini Hari berhenti berjalan, mata Hari perih, bukan karena peluh
Hari menangis dan bersimpuh
Tangannya kemudian menengadah
Ia pernah mendengar bahwa Siapa yang menciptakan ia,
menjadikan ia lelah kemudian menangis,
menjadikan ia limbung kemudian terhukum
Ia terbata menyebut namaNya
Hari berucap, mulutnya bergerak seperti meminta sesuatu
Hari tidak bisa berdoa, ia hanya bisa meminta pada Siapa yang menciptakan ia
Lalu kulit bajanya seperti ditempa pandai besi yang geram, pecah dan hancur berkeping-keping
Hari tak mati, tapi ia terbelalak
Kulit bajanya menyembunyikan sesuatu
Bongkahan berwarna merah muda keluar dari sisa kepingan kulit baja
Ronanya mengilap, wangi
Perlahan hari mengerti, bahwa yang ia minta adalah sebuah keharusan
Ia tahu harus meminta pada Siapa
Hari tak bisa berdoa, tapi ia tahu kepada Siapa ia harus meminta

Suara Misterius

Malam minggu ye?? Ampir lupa tuh.. Abisnya diapelin, eh bukan-bukan.. Didatenginnya jam setengah sembilanan gitu deh. Udah ngantuk pan ye??
Tapi jempol 4 deh buat cungkring. Lagi2 menyisihkan waktu lembur (lebih tepatnya piknik bersama) buat ketemu saya setelah beberapa telp dan sms saya dia cuekin dan saya mencak-mencak gάĸ keruan. Iyah, siapa gάĸ bete cobak gάĸ ada kabar sama sekali sementara dia enak banget piknik bersama kantornya. Egois juga si saya :D
Nah, tadi pulang kantor cungkring mampir ke rumah saya yang sebelumnya telp saya disentak, “Lagi nyetir!” Tertohok banget kan? (˘̩̩﹏˘̩̩)‎​
Tapi ternyata dia gάĸ marah kok saya cerewet setelah dia nyampe rumah. Malahan saya yang mulai nyentak dia duluan dan pakai senjata ampuh tentunya: nangis! Hahahahahaaa :lol:
Dan setelah drama korea ala saya dan cungkring dimulai, kita marah satu sama lain, dia ikutan marah dan malahan mau pulang, lalu saya tarik tangannya dan mata kita beradu (ceileeeee) (ʃ⌣ ƪ), dia mulai ngejelasin kenapa seharian ini dia cuek sama saya. Dan sok-sokan gάĸ butuh penjelasan saya pukul-pukul dia (drama queen banget ye saya). Tapi dengan sabar dia mulai bercerita di tengah derai air mata saya. Eh tau nggak? Belum selesai dia ngejelasin tetiba ada suara misterius nyamber, berulang kali lagi.

Cungkring: jadi gini mbul, tadi tuh aku sama anak-anak….(Duuuuutttttt)

And you know? Saya tertawa terbahak di tengah deraian air mata saya. Iye, cungkring kentut. Hahahahaaa… Ada 5 kali mungkin :lol:
Yά udeh, saya gάĸ jadi marah, gάĸ jadi cubit-cubit tangan dia, gάĸ jadi gigit-gigit tangan dia. Hemmmm ┓(“╯¸╰)┏

Purnama Senja

Antara sore dan petang
Tertanam indah di cakrawala
Bukan senja yang menggading
Atau surya yang menguning

Aku melihat mata senja
Pada ujung timur yang menganga
Kulihat lengkungnya sempurna
Indah

Senjaku tak memadu
Mungkin ia sedang sendu
Atau dirundung pilu
Tidak merona pun terlihat kelabu

Aku melihat mata senja
Pada ujung timur yang menganga
Ia jingga
Dan melengkung sempurna

Purnama senja
Melengkung sempurna pada horizon antara sore dan petang
Melabuhkan ke peraduan
Biarpun senja tak datang