Acar Timun

Suara petir masih menggelegar ketika Tokyo menutup dengan paksa kedainya. Sore itu ia tak berencana menutup kedainya lebih awal. Jika tidak ada badai, ia biasa menutup kedainya hingga pukul sepuluh malam atau sampai seluruh makanan disana habis tak bersisa.

“Badai bulan ini tak seperti Desember tahun lalu,” lirih Tokyo dalam hati.

Badai yang tak pernah datang pada bulan-bulan Desember sebelumnya kini meratap dengan nanar di kota kecil pinggiran kota Tokyo. Kedai Tokyo tak pernah sesepi ini. Wanita ini tak pernah mengeluh tentang cuaca. Namun kali ini ia harus bergumul sendiri dengan kesepian dan badai semakin sempurna melengkapi kesendiriannya.

Wanita berusia dua puluh tujuh tahun dengan hidup bergantung pada kedai tua warisan dari orang tua angkatnya. Kedai yang menjajakan mie ramen itu selalu ramai dikunjungi oleh orang-orang pada jam menjelang tengah malam. Mereka menyukai masakan yang dibuat oleh tangan Tokyo. Namun bukan ramen yang menjadi tujuan utama mereka makan di kedainya. Tokyo yang memiliki kepandaian memasak berkat didikan dari orang tua angkatnya berhasil menciptakan kombinasi unik dan manis antara ramen dan acar timun. Setelah ramen, pengunjung yang datang akan menantikan hidangan selanjutnya: acar timun. Baca lebih lanjut

Iklan